Sabtu, 15 Agustus 2020

MEMANCING IKAN GABUS

“horeee… horee… aku dapat, aku dapat…” sorak ku, teman-teman sama menoleh apa yang aku dapatkan, seekor ikan gabus sebesar tangan orang dewasa meronta-ronta diujung kailku, kutarik dari ketinggian kurang lebih sepuluh meter dari atas jembatan kereta api. Saya berdiri dikerangka jembatan sambil mengamati pergerakan iikan gabus yang menepi mengikuti bayangan jembatan. Setelah kelihatan ikan gabus kulempar umpan agak jauh yng jjika kutarik akan mengarah kepermukaan ikan gabus. Biasanya tidak menunggu lama ikan gabus kan menyambar umppan, nah disaat ituilah detik detik yang sangat menyenangkan. Ketika umpan sudah diyakini di telan kutarik dengan hentak , mak kail akan mengait di kerongkongan ikan, hampir bias dipastikan aiiakn akan tersangkut. Namun demikian, kadang ikannyya terlalu bedsar sebingga tali kail putus, atau kailnya nyangkutnya kurang dalam, sehingga mulut ikan akan sobek. Kalau dah begita wooowww.. kecewa berat dan ndak mungkin ikan itu akan nyamber umpan kita lagi, bahkan ikan yang lain menjadi seembunyi.

Sudah menjadi kebiasaan jika musim kemarau, saya bersama teman sekampung mancing diatas jembatan kereta api jurusan solo baturetno, sebuah kecamatan diujung selatan daerah wonogiri.

Selepas sekolah sambil menggembala kambing, mencari umpan disekitar sungai berupa precil (katak yang masih kel sebesar ujung jari). Kadang umpannya cacing  atau orong-orong (binatang sejenis jangkrik yang hidupnya di tanah basah yng berada dibawah permukaan tanah.

Sungai wiroko sebuah sungai yang masih jernih airnya bening. Sehingga kedalam 1 meterpun dasar sungai kelihatan, ikan kecil seperti cendol yang sangat banyak, jjika ada makanan yang lewat hanya sekejab sudah habis dikerumuninya. Ikan merupakan pemandangan yang sangat menyenangkan. Waktu itu belu ada jarring, belum ada pestrisida, sehingga semakin tahun semakin banyak ikan berkembang biak. Hal itu terjadi sampai kira kira tahun 80 an. Sudah ada jarring dan pestisida.yang ada waktu itu hanya alat tradisional. Yang di rajut sendiri oleh pemiliknya. Untk memebeli sulit rasanya mendapatkan uang pada tahun 70 an.

Dibawah jembatan disisi utara  ada beberapa batu besar, disisi selatan juga terdapat batu yang menjulang, yang biasanya jika untuk mandi, di sungai ini batu yang kedua belah sisi ini tempat anak-anak melompat unutuk berenag mandi disungai,

Jika pagi hari sebeluilum berangkat sekolah jika musim kemarau, sungainya kadang selain jernih juga airnya hangat. Karena pengaruh kemarau. Mandi ramai -ramai sudah menjadi kebiasaan anak-anak desa kami dan sekitarnya .meski demikian kami terbiasa menutup aurat dengan mengenakan celana pendek atau sarung.  

Kedungnggaleng, sebuah desa yang dilewati kereta api jurusan solo wonnogiri baturetno. Sebuah desa yang nyaman dan penuh keceriaan. Meski jauh dar perkotaan.

Di sebelah utara dibatasi sungai, utara sungai desa tulung dan putuk, seeeebelah timur berdampingan desa kedung pasasr, sebelah selatan dibatasi  persawahan yang berbatsan denga desa gambol sedangkan disebelah barat dibatasi denbgan persawahan yang besambbung dengan dua desa sampelan dang pengkol, kwdua desa ini dilewati jaluir darat bis anatar kota yang menghubungkan pacitan wongiri dan solo. Disinilah biasanya anak-anak kapnung kedungggaleng mengenghentikan bis untyuk menuju solo atau wonogiri.

desa kedunggaleng  Kurang lebih 5 km untuk menuju  kecamatan nguntoronasdi(betal) yang terdekat, dan ke Bturetno kurang lebih 15 km. sedangkan untk ke kabupaten wonogiri kurang lebih 30 km.

Namun demikian hampir semua remaja mengenyam pendidikan meskipun saat itu hanya SPG dan PGA namun itu sebuah prestasi yang luar biasa untuk tahun tujuh puluhan, hampir bias di pastikan selesai sekolah diangkat menjadi pegawai negeri, yaitu guru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar