“horeee… horee… aku dapat, aku dapat…” sorak ku, teman-teman sama menoleh apa yang aku dapatkan, seekor ikan gabus sebesar tangan orang dewasa meronta-ronta diujung kailku, kutarik dari ketinggian kurang lebih sepuluh meter dari atas jembatan kereta api. Saya berdiri dikerangka jembatan sambil mengamati pergerakan iikan gabus yang menepi mengikuti bayangan jembatan. Setelah kelihatan ikan gabus kulempar umpan agak jauh yng jjika kutarik akan mengarah kepermukaan ikan gabus. Biasanya tidak menunggu lama ikan gabus kan menyambar umppan, nah disaat ituilah detik detik yang sangat menyenangkan. Ketika umpan sudah diyakini di telan kutarik dengan hentak , mak kail akan mengait di kerongkongan ikan, hampir bias dipastikan aiiakn akan tersangkut. Namun demikian, kadang ikannyya terlalu bedsar sebingga tali kail putus, atau kailnya nyangkutnya kurang dalam, sehingga mulut ikan akan sobek. Kalau dah begita wooowww.. kecewa berat dan ndak mungkin ikan itu akan nyamber umpan kita lagi, bahkan ikan yang lain menjadi seembunyi.
Sudah
menjadi kebiasaan jika musim kemarau, saya bersama teman sekampung mancing
diatas jembatan kereta api jurusan solo baturetno, sebuah kecamatan diujung
selatan daerah wonogiri.
Selepas
sekolah sambil menggembala kambing, mencari umpan disekitar sungai berupa
precil (katak yang masih kel sebesar ujung jari). Kadang umpannya cacing atau orong-orong (binatang sejenis jangkrik
yang hidupnya di tanah basah yng berada dibawah permukaan tanah.
Sungai
wiroko sebuah sungai yang masih jernih airnya bening. Sehingga kedalam 1
meterpun dasar sungai kelihatan, ikan kecil seperti cendol yang sangat banyak,
jjika ada makanan yang lewat hanya sekejab sudah habis dikerumuninya. Ikan
merupakan pemandangan yang sangat menyenangkan. Waktu itu belu ada jarring,
belum ada pestrisida, sehingga semakin tahun semakin banyak ikan berkembang
biak. Hal itu terjadi sampai kira kira tahun 80 an. Sudah ada jarring dan
pestisida.yang ada waktu itu hanya alat tradisional. Yang di rajut sendiri oleh
pemiliknya. Untk memebeli sulit rasanya mendapatkan uang pada tahun 70 an.
Dibawah
jembatan disisi utara ada beberapa batu
besar, disisi selatan juga terdapat batu yang menjulang, yang biasanya jika
untuk mandi, di sungai ini batu yang kedua belah sisi ini tempat anak-anak
melompat unutuk berenag mandi disungai,
Jika
pagi hari sebeluilum berangkat sekolah jika musim kemarau, sungainya kadang
selain jernih juga airnya hangat. Karena pengaruh kemarau. Mandi ramai -ramai
sudah menjadi kebiasaan anak-anak desa kami dan sekitarnya .meski demikian kami
terbiasa menutup aurat dengan mengenakan celana pendek atau sarung.
Kedungnggaleng,
sebuah desa yang dilewati kereta api jurusan solo wonnogiri baturetno. Sebuah
desa yang nyaman dan penuh keceriaan. Meski jauh dar perkotaan.
Di
sebelah utara dibatasi sungai, utara sungai desa tulung dan putuk, seeeebelah
timur berdampingan desa kedung pasasr, sebelah selatan dibatasi persawahan yang berbatsan denga desa gambol
sedangkan disebelah barat dibatasi denbgan persawahan yang besambbung dengan
dua desa sampelan dang pengkol, kwdua desa ini dilewati jaluir darat bis anatar
kota yang menghubungkan pacitan wongiri dan solo. Disinilah biasanya anak-anak
kapnung kedungggaleng mengenghentikan bis untyuk menuju solo atau wonogiri.
desa
kedunggaleng Kurang lebih 5 km untuk
menuju kecamatan nguntoronasdi(betal)
yang terdekat, dan ke Bturetno kurang lebih 15 km. sedangkan untk ke kabupaten
wonogiri kurang lebih 30 km.
Namun
demikian hampir semua remaja mengenyam pendidikan meskipun saat itu hanya SPG
dan PGA namun itu sebuah prestasi yang luar biasa untuk tahun tujuh puluhan,
hampir bias di pastikan selesai sekolah diangkat menjadi pegawai negeri, yaitu
guru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar