Rumah campuran antara kayu dan bamboo berdiri kokoh menaungi keluarga bear kami, diantara keistimewaan yang tak terlupakan salah satu pintu kami merupakan lembaran kayu jati yang berdiameter 1 meter yang kini masih kokoh merupakan pintu utama rumah ayah kami. Lantai bercampur antara batu bata merah persehi dan sebagian tanah, aku masih sangat ingat sekali hampir setiap tahunnya menjelang hari raya lebaran membenahi batubata yang bergeser karena tanah yang menggembung karena pengaruh hujan, dan kalau kemarau tanah menganga, akibat panas yang terik. Tidak lupa membeli beberapa gumpal batu gamping dari tobong pembekaran gamping di kampong kepek sebelah timur kecamatan nguntoro nadi. Batu ini di masukkan kedalam ember ditunggu beberapa saat sudah mendidih lebnur menjadi enjet, ini lah cat rumah kami saat itu , warna tunggal, putih bersih sebersih hati penghuninya.
Sebagian
dinding rumah terdiri dari anyaman bamboo (gedeg)
Rumah
ini terdiri dari tiga rumah, rumah induk yang berfungsi rumah tinggal yang
sebagian di kamar-kamar, salah satunya kamar merupakan gudang yang berisi beberapa bodag ( wadah besar yang
terbuat dari anyaman bambu) untuk menyimpan padi maupun gaplek ( singkong yang
dikeringkan) ada juga tumbu (yang biasa untuk membawa hasil panenan dari ladang
atau menjual ke pasar) , jodang ( kotak kayu yang ber jeruji kayu besar
biasanya untuk hantaran calon penganten yang berisi pisang raja, jadah , padi,
beras dll) , dan sebelah pojok ada seperangkat tempat tombak yang berisi
beberapa tombak, yang ditutup dengan kain hitam, yang berjajar.
Selain
rumah induk ada juga rumah dapur, yang berisi beberapa tumpuk kayu bakar, dua
lincak besar, untuk persiapan masak, ada juga lumpang, selah pojok utara batrat
ada genong air, sebelah pojok selatan ada beberapa tarangan ayam, dan tiang
dekat tarangan ayam untuk mengikat kambing. Sebelah tengah bagian Timur ada 2
tungku masak yang setiap pagi dikerumuni anggota keluarga, saat musim dingin
diatas tungku pemasak tergantung asang yang terbuat dari anyaman bamboo yang
berfungsi untuk menyimpan bibit tanaman agar tidak terserang hama bubuk
(binantang kecil-kecil semacam kutu).
Di
dinding sebelah luar rumah dapur biasa bersandar alat-alat pertanian, juga
biasa kutaruh pancing ikan, percak (jarring ikan yang punya gagang yang biasa
klu buat sendiri).
Depan
rumah dapur rumah bangunan trebuka, yang terisi kandang kambing, lesung,
lumping serta kayu bakar serta tempat mengumpulkan sampah kering untuk cadangan
kayu bakar jika musim penghujan.
Dibagian
tenggara biasa dinyalakan api unggun di lalam hari untuk mengusir naymuk serta
binatang yang mengganggu sekaligus penerangan (maklum tahun itu belum ada
petromak apalagi listrik.
Di
depan rumah utama sebelah kanan berdiri tegak pohon sawo sebesar dekapan orang
dewasa, disebelah kiri rumah dapur berdiri tegak pohon sawo juga sebesar
dekapan orang dewasa juga, entah sejak kapan aku tak mengerti, sejak masa
kecilku pohon-pohon itu sudah tegak dan tak henti menghasilakan buah sawo,
adapu dekat rumah lesung, berdiri menjulang tinggi sebesar satu setengah
dekapan orng dewasa pohon apel(sawo hijau yang hanya bisa dimakan ketika buah
itu masak di pohon, dagingnya putih dan manis orang kampungku menyebutnya apel) ketika buah
sudah pada masak bila angin kencang meniup dengan keras maka buah itu
berjatuahn tinggal mengambilnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar