Sabtu, 15 Agustus 2020

KEDUNGGALENG TAHUN 70 AN

Rumah campuran antara kayu dan bamboo berdiri kokoh menaungi keluarga bear kami, diantara keistimewaan yang tak terlupakan salah satu pintu kami merupakan lembaran kayu jati yang berdiameter 1 meter yang kini masih kokoh merupakan pintu utama rumah ayah kami. Lantai bercampur antara batu bata merah persehi dan sebagian tanah, aku masih sangat ingat sekali hampir setiap tahunnya menjelang hari raya lebaran membenahi batubata yang bergeser karena tanah yang menggembung karena pengaruh hujan, dan kalau kemarau tanah menganga, akibat panas yang terik. Tidak lupa membeli beberapa gumpal batu gamping dari tobong pembekaran gamping di kampong kepek sebelah timur kecamatan nguntoro nadi. Batu ini di masukkan kedalam ember ditunggu beberapa saat sudah mendidih lebnur menjadi enjet, ini lah cat rumah kami saat itu , warna tunggal, putih bersih sebersih hati penghuninya.

Sebagian dinding rumah terdiri dari anyaman bamboo (gedeg)

Rumah ini terdiri dari tiga rumah, rumah induk yang berfungsi rumah tinggal yang sebagian di kamar-kamar, salah satunya kamar merupakan gudang  yang berisi beberapa bodag ( wadah besar yang terbuat dari anyaman bambu) untuk menyimpan padi maupun gaplek ( singkong yang dikeringkan) ada juga tumbu (yang biasa untuk membawa hasil panenan dari ladang atau menjual ke pasar) , jodang ( kotak kayu yang ber jeruji kayu besar biasanya untuk hantaran calon penganten yang berisi pisang raja, jadah , padi, beras dll) , dan sebelah pojok ada seperangkat tempat tombak yang berisi beberapa tombak, yang ditutup dengan kain hitam, yang berjajar.

Selain rumah induk ada juga rumah dapur, yang berisi beberapa tumpuk kayu bakar, dua lincak besar, untuk persiapan masak, ada juga lumpang, selah pojok utara batrat ada genong air, sebelah pojok selatan ada beberapa tarangan ayam, dan tiang dekat tarangan ayam untuk mengikat kambing. Sebelah tengah bagian Timur ada 2 tungku masak yang setiap pagi dikerumuni anggota keluarga, saat musim dingin diatas tungku pemasak tergantung asang yang terbuat dari anyaman bamboo yang berfungsi untuk menyimpan bibit tanaman agar tidak terserang hama bubuk (binantang kecil-kecil semacam kutu).

Di dinding sebelah luar rumah dapur biasa bersandar alat-alat pertanian, juga biasa kutaruh pancing ikan, percak (jarring ikan yang punya gagang yang biasa klu buat sendiri).

Depan rumah dapur rumah bangunan trebuka, yang terisi kandang kambing, lesung, lumping serta kayu bakar serta tempat mengumpulkan sampah kering untuk cadangan kayu bakar jika musim penghujan.

Dibagian tenggara biasa dinyalakan api unggun di lalam hari untuk mengusir naymuk serta binatang yang mengganggu sekaligus penerangan (maklum tahun itu belum ada petromak apalagi listrik.

Di depan rumah utama sebelah kanan berdiri tegak pohon sawo sebesar dekapan orang dewasa, disebelah kiri rumah dapur berdiri tegak pohon sawo juga sebesar dekapan orang dewasa juga, entah sejak kapan aku tak mengerti, sejak masa kecilku pohon-pohon itu sudah tegak dan tak henti menghasilakan buah sawo, adapu dekat rumah lesung, berdiri menjulang tinggi sebesar satu setengah dekapan orng dewasa pohon apel(sawo hijau yang hanya bisa dimakan ketika buah itu masak di pohon, dagingnya putih dan manis  orang kampungku menyebutnya apel) ketika buah sudah pada masak bila angin kencang meniup dengan keras maka buah itu berjatuahn tinggal mengambilnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar