وعن أَبي
هُرَيْرَةَ ، عن النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: :
مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ
عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ
دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ
مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ
فَحُمِلَ عَلَيْه ( رواه البخاري).
Dari Abu Hurairah: Nabi ﷺ
bersabda: “Siapa yang pernah
berbuat zhalim terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun hendaklah dia
meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang
ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham. Jika dia tidak lakukan, maka
(nanti pada hari kiamat) bila dia memiliki amal shalih akan diambil darinya
sebanyak kezholimannya. Apabila dia tidak memiliki kebaikan lagi maka keburukan
saudaranya yang dizhaliminya itu akan diambil lalu ditimpakan kepadanya”. (HR.
Al-Bukhari no. 2449
https://muslim.or.id/53105-janganlah-berbuat-zalim.html
Secara
bahasa, zalim atau azh zhulmu artinya meletakkan sesuatu bukan
pada tempatnya.
الظُّلْمُ: وَضْع الشيء في غير موضِعه
“Azh
zhulmu artinya meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya”
Secara
istilah,
وضع
الشيء في غير موضعه المختص به؛ إمَّا بنقصان أو بزيادة؛ وإما بعدول عن وقته أو
مكانه
“Zalim
adalah meletakkan sesuatu bukan pada posisinya yang tepat baginya, baik karena
kurang maupun karena adanya tambahan, baik karena tidak sesuai dari segi
waktunya ataupun dari segi tempatnya” (Mufradat Allafzhil Qur’an Al
Asfahani 537, dinukil dari Mausu’ah Akhlaq Durarus Saniyyah)
https://muslim.or.id/53105-janganlah-berbuat-zalim.html
Macam- macam kezhaliman
Dalam
Kitab Syarhu Sunnah, Imam Hasan Al Bashri membagi kezhaliman ada tiga
1.
Kezhaliman yang tidak diampuni
Allah
Adalah kezhaliman yang
dilakukan sorang yang tidak akan ampun
Allah ia sebelum bertobat.
Contoh perbuatan syirik
Rasulullah ﷺ:” bersabda:” Maukah aku kabarkan kepada
kalian tentang dosa yang paling besar?, yaitu menyekutakan Allah , durhaka
kepada orang tua dan persaksian palsu” (Hadis Riwayat Muttafaqun ‘Alaihi)
2.
Kezhaliman yang tidak dibiarkan
begitu saja oleh AllahTa’ala
adalah kezhaliman yang dilakukan seseorang muslim
kepada saudaranya.baik dalam harta maupun jiwa dan kehormatan.
Contoh seorang tidak menuaikan
hak orang lain yang wajib ditunaikan, mengancam jiwa , memfitnah, mencaci maki,
mencermarkan nama baik, pengambilan tanah
secara paksa , tidak membayar hutang dalam kondisi mampu.
Rasulullah
ﷺ memerintahkan umatnya
agar menyelesaikan urusan yang berupa harta, darah dan kehormatan, Berkaitan
dengan pengambilan
tanah secara paksa. Nabi Saw pernah bersabda. “Barang
siapa menganiaya seseorang dalm perkara sejengkal tanah, maka pada hari kiamat
kelak ia akn dikalungi tujuh bumi. ( HR Ahmad
1/ 188-189)
3.
Kezhaliman yang diampuni Allah
Ta’ala
Adalah
kezaliman yang
dilakukan seorang hamba terhadap dirinya dengan melakukan perbuatan dosa
Misal seorang meninggalkan puasa wajib, minum-minuman keras, dan
lainnya.
Jika ia bertobat dan beramal shaleh niscaya akan diampuni
oleh Allah..
Allah Swt berfirman: “ dan orang-orang yang apabila mengerjakan
perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mengingat Allah, lalu memohon
ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa
selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka
mengetahui. (QS. Ali Imran:135 )
Akibat Perbuatan Zhalim
Perbuatan
zalim menyebabkan pelakunya mendapat keburukan di dunia dan di akhirat.
Diantaranya:
1. Akan di-qishash pada hari
kiamat
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ كَانَتْ لَهُ
مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ
الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ
عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ
حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ
“Siapa
yang pernah berbuat aniaya (zhalim) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu
apapun hendaklah dia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia)
sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham. Jika dia
tidak lakukan, maka (nanti pada hari kiamat) bila dia memiliki amal shalih akan
diambil darinya sebanyak kezholimannya. Apabila dia tidak memiliki kebaikan
lagi maka keburukan saudaranya yang dizhaliminya itu akan diambil lalu
ditimpakan kepadanya”. (HR. Al-Bukhari no. 2449)
2. Mendapatkan laknat dari
Allah
Allah Ta’ala berfirman:
يَوْمَ
لا يَنفَعُ الظَّالِمِينَ مَعْذِرَتُهُمْ وَلَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ
الدَّارِ
“(yaitu)
hari yang tidak berguna bagi orang-orang zalim permintaan maafnya dan bagi
merekalah laknat dan bagi merekalah tempat tinggal yang buruk” (QS. Ghafir: 52).
3. Mendapatkan kegelapan di
hari kiamat
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
الظُّلْمُ
ظُلُمَاتٌ يَوْمَ القِيَامَةِ
“Kezaliman
adalah kegelapan pada hari kiamat” (HR. Al Bukhari no. 2447, Muslim no. 2578).
4. Terancam oleh doa orang
yang dizhalimi
Doa orang
yang terzalimi dikabulkan oleh Allah, termasuk jika orang yang terzalimi
mendoakan keburukan bagi yang menzaliminya. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
وَاتَّقِ
دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ
“Dan
berhati-hatilah terhadap doa orang yang terzalimi, karena tidak ada penghalang
antara doanya dengan Allah.” (HR. Bukhari no.1496, Muslim no.19).
5. Jauh dari hidayah Allah
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ
اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“Sesungguhnya
Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim” (QS. Al Maidah:
51).
6. Dijauhkan dari Al
Falah
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ
“Sesungguhnya
orang-orang yang zalim tidak akan mendapatkan al falah (keuntungan dunia
akherat)” (QS. Al An’am: 21).
7. Kezaliman adalah sebab
bencana dan petaka
Allah Ta’ala berfirman:
فَكَأَيِّن
مِّن قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَاهَا وَهِيَ ظَالِمَةٌ فَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا
وَبِئْرٍ مُّعَطَّلَةٍ وَقَصْرٍ مَّشِيدٍ
“Berapalah
banyaknya kota yang Kami telah membinasakannya, yang penduduknya dalam keadaan
zalim, maka (tembok-tembok) kota itu roboh menutupi atap-atapnya dan (berapa
banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi” (QS. Al
Hajj: 45).
https://muslim.or.id/53105-janganlah-berbuat-zalim.html
Adapun cara membersihkan jiwa dari perbuatan
zhalim, adalah: Bertakwa
kepada Allah, tawadhu (rendah hati), menjauhi sifat hasad, menyemangati jiwa
untuk meraih janji Allah untuk
orang-orang yang berlaku adil dan berdoa dengan tulus kepada Allah
https://asysyariah.com/kezaliman-adalah-kegelapan-pada-hari-kiamat/
Hadis-hadis
tentang Kezhaliman
Rasulullah
ﷺ bersabda: "Janganlah
salah seorang diantara kalian berdiri ditempat orang yang terzhalimi sedang
dipukuli. Sesungguhnya laknat itu akan turun kepada siapa saja yang ada di
tempat kejadian itu, kecuali ia membelanya (Hadis Riwayat Thabrani11675)
Rasulullah
ﷺ bersabda: "Seorang
laki-laki didatang Malaikat didalm kuburnya, kemudian malaikat itu
berkata,”Kami akan memukulmu dengan seratus
pukulan. Orang itu berkali-kali meminta keringanan , sehingga menjadi
sekali pukulan. Lalu malaikat memukulnya.Maka menyalah api di dalam kuburnya.
Orang itu bertanya, “Mengapa kamu memukul dengan pukulan tadi?. Para Malaikat
menjawab, “Karena kau sholat tanpa bersuci dan melewati orang terzhalimi kau
tidak menolongnya. Itu adalah keadaan orang yang tidak menolong orang yang
terzhalimi, padahal ia mampu menolongnya”. (Hadis Riwayat Thabroni)
Dari Abu Hurairoh: "Bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
“Barang siapa memukul dengan cambuk secara zhalim, maka pada hari kiamat kulak
akan diambil qishosnya”. ( Al Bukhari Dalam Al Adab Al Mufrod 185)
Abu Umamah berkata, Rasulullah ﷺ bersabda: :”Pada hari kiamat nanti
orang yang zhalim akan bertemu dengan orang yang dizhaliminya di atas jembatan
yang dipancang neraka Jahannam. Ia akan memberitahu kepada si zhalim itu
apa-apa yang sudah dianiayakannya. Orang yang teraniaya tidak akan
meninggalkannnya sampai mengambil semua kebaikan si zhalim. Setelah kebaikannya
habis, maka dipikulkanlah kepada si zhalim kejahatan-kejahatan yang teraniaya,
hingga akhirnya ia masuk kedalam neraka yang paling bawah”. (Diriwayatkan oleh
At Thabroni dalam Al Ausath 5976,
Abdullah bin Unais berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:”Pada
hari kiamat nanti manusia akan dibangkitkan dalam keadaan tanpa alas kaki tanpa busana dan
tanpa khitan, mereka akan mendengar suara yang terdengar dari jarak dekat
maupun jauh. Aku adalah Maha Raja dan Maha Kuasa. Tidak boleh seorangpun ahli
surga untuk memasukinya dan ahli neraka untuk memasukinya selama masih ada
padanya krzhaliman hingga aku selesai mengadili, sekalipun itu hanya satu makian,
apalagi lebih dari itu. RobMu tidaklah menganiaya seorangpun. Kami bertanya
:”Wahai Rasulullah, bagaimana itu sedangkan kami datang tanpa alas kaki tanpa
busana?, Beliau menjawab dengan kebaikan dan kejahatan sebagai gantinya, Rabmu
tidaklah menganiaya seorangpun.
Al Bukhari dalam kitab Al ‘ilm bab Al Khuruj fi Tholabil ‘ilm
Kisah-kisah
Kezhaliman
1. Dikisahkan seorang arif , “Suatu malam saya bermimpi
melihat seorang laki-laki yang sudah meninggal dunia beberapa lama. Orang itu semasa hidupnya melayani
orang-orang yang zhalim dan pemungut bia cukai. Keadaannya sangat buruk sekali,
lalu saya bertanya, “Bagaimana kabarmu?”. Ia menjawab, “kabar buruk. Saya
bertanya lagi, “Kamu mau kemana?”. Ia menjawab,”Ke adzab allah. Saya bertanya
lagi, “Bagaimana keadaan orang-orang yang zhalim di sana?”. Ia
menjawab,”Keadaan mereka buruk sekali, Tidakkah anda mendengar, firman Allah :
وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ
مُنْقَلَبٍ يَنْقَلِبُونَ
... Dan orang-orang
yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali ( Asy
Syu’ara’ : 227)
- Seorang arif yang
lain menyampaikan, “ Saya pernah melihat seorang laki-laki yang terpotong
tangannya sampai pundaknya. Orang itu berkata:”Barang siapa sudah
melihatku, maka jangan pernah berbuat zhalim lagi kepada seseorang. Saya
mendekatinya, “wahai saudara apa kisahmu?”. Orang itu menjawab. Kisahku
sangat aneh. Dahulu aku adalah seorang pembantu orang yang zhalim. Suatu
hari aku melihat seorang nelayan yang telah berhasil menagkapseekor ikan yang sangat besar. Aku tertarik
kepada ikannya, lalu menemuinya dan kukatakan. Berikan ikan itu kepadaku.
Orang itu menjawab, “ Aku tidak akan memberkannya kepadamu.Aku akan
menjualnya untuk member makan keluargaku.Lalu ikan itu aku pukul dan aku
ambil ikan itu secara paksa. Akupun pulang dengan membawa ikan itu,
tiba-tiba ikan itu menggigit ibu jari tanganku dengan kuat sekali..
Setibanya di rumah, ikan itu aku lemparkan dari tanganku begitu saja, dan
aku pegang ibujari tanganku. Rasanya sakit sekali, sehingga aku tidak bisa
tidur dibuatnya. Lukaku membengkak,
dan keeosokan harinya aku menemui seorang tabib. Aku ceritakan tentang sakitku. Ia
berkata, “Ibu jarimu harus dipotong, karna sudah membusuk. Kalau tidak ia
akan menjalar ke tanganmu. Maka ibu jaripun dipotong. Akan tetapi, rasa
akitnya tidak hilang, sehingga malamnya aku tidak bias tidur tenang. . Ada
yang menyarankan agar dipotong saja telapak tanganku, karena sakitnya yang
tak tertahankan lagi, akupun mengikuti sarannya, kupotng telapak
tanganku. Rupanya sara sakit tetap
tinggal, Bahkan akhirnya menjjalar sampai ke lengan. Saya tidak tahan lagi
dan mulai berteriak. Ketika ada yang menyarankan agar kupotong sampai
siku-siku, akupun melakukannya. Namun tetap saja rasa sakitnya menjalar
sampai ke lengan atas dan lebih sakit dari pada sebelumnya. Seseorang
menyarankan agar kupotong lenganku sampai pangkal lengan. akupun mengikuti
sarannya. Lalu ada yang menanyakan kepadaku penyebab sakitku itu. Akupun
menceritakan, bahwa aku telah merampas ikan milik nelayan itu. Orang itu
berkata: “Wah andaikan sejak pertama sakit, Anda pergi menemui nelayan
itu, dan meminta maaf dan kerelaannya lalu dia menerimanya, tetntu Anda
tidak perlu memotong tangan Anda. Sekarang cobalah untuk mencarinya, dan
mintalah maaf kepadanya sebelum penyakit ini menjalar keseluruh tubuh
Anda.”,maka akupun pergi mencari nelayan itu ke berbagai penjuru kota.
Sampai akhirnya kutemukan ia dan kucium kakinya sambil menangis. Aku
katakan, “Tua, saya mohon dengan menyebut nam Allah, sudilah tuan
memaafkan saya”. Nelayan terkejut, lalu bertanya: “Anda ini siapa?”.
Akupun menjawab: “Saya adalah orang yang beberapa hari yang lau merampas
ikan tuan secara paksa.” Lalu aku ceritakan kepadanya, apa yang telah
terjadi padaku. Aku perlihatkan tanganku, kepadanya dank ala melihatnya,
nelayan itu menangis, seraya berkata, “Wahai saudaraku aku telah
memaafkanmu, setelah melihat bencana yang menimpamu ini”. Kemudian aku
bertanya:”Tuan, demi Allah, apakah tuan telah mendoakan saya dengan doa
yang tidak baik, ketika saya merampas ikan tuan tempo hari?”. Nelayan itu menjawab, “Benar, saya berdoa,
Ya Allah orang ini telah memaksakan kehendaknya kepadaku dengan
kekuatannya ats kelemahanku. Ia telah merampas rezeki yang telah Engkau
anugerahkan kepadaku secara zhalim.Karenanya tunjukkanlah kekuasaanMu
kepadaku atas dirinya”. Akupun berkata,”Tuan Allah telah menujukkan
kekuasaan\Nya terhadap saya kepada tuan, dan saya bertaubat kepada Allah
dari segala perbuatan zhalim yang telah lalu, dan saya berjanji tidak akan
membantu orang yang zhalim lagi, selam hidup saya. Insyaallah wa
billahittaufiq
- Wahib bin Munabih
mengisahkan, sorang penguasa bengis
tengah membangun istana. Seorang wanita tua miskin mendirikan sebuah gubuk
di sebelahnya untuk tempat tinggalnya. Suatu saat penguasa bengis
berjalan-jalan mengelingi istananya, Ia semelihat gubuk wanita itu dan
berkata:”Milik siapa gubuk ini?. Ada yang menjawab:”Milik wanita miskin
untuk tempat tinggalnya”Kemudia penguasa itu menyuruh orang untuk
merobohkan gubuk itu.Ketika wanita miskin itu melihat gubuknya sudah rata
dengan tanah, ia bertanya:”Siapa yang merobohkan gubukku?”.Seorang
menjawab,”Sang Raja. Ia melihatnya lalu merobohkannya”. Lalu wanita itu
menengadahkan kepalanya ke langit seraya berkata, “Duhai RobKu, jika saya
tidak ada lalu di manakah Engkau?”. Lalu Allah memerintahkan Jibril untuk
membalik istana pengusa tadi beserta siapapun yang ada di dalamnya, maka
Jibrilpun melaksanakan”..
Semoga kita dijauhkan perbuatan zhalim,
bisa berlaku adil dalam segala sesuatu. Semoga Allah memberi taufiq
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ
تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
"Ya Tuhan, kami telah menganiaya dm kami
sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami serta memberi rahmat kepada
kami, niscaya kami termasuk orangorang yang merugi." (QS. Al-A'râf 23)
Maraji’
Abu Zufar
Imtihan Asy Syafi’I, 2001, Dosa-Dosa Besar, Pustaka Arofah, Solo,
Tatik
Umamah, S.Pd.I
Tidak ada komentar:
Posting Komentar