Jumat, 27 November 2020

Belajar Akhlaq Sebelum Ilmu

 Buletin Jum’at Menebar Islam Rahmatan Lil ‘Alamin Edisi 06 28 Safar 1442H / 16 Oktober 2020 Belajar Akhlaq Sebelum Ilmu ۟ ۟ ۟ ٓ ْ ن ءامنوا إذا قیل لكم تفسحوا فى ٱلمجلس فٱفسحوا یفسح ٱ لكم ۖ ٰ َ َّ ْ ْ ْ َ ُ ُ َ ُ َ َ َّ َ ِ ِ َ ٰ َ ََ َّ ُ ِ ْ ُ َ َ ِ َ ِ ُ َ ِ َ َ ٓ َیأیُّ ِ ھا ٱلذی َ َ ُ ُ َ ُ ُ َ ُ ُ ن ءامنوا منكم ۟ ۟ َّ ۟ َ ِ ُ َ َ ِ َ َ ْ َّ ِ وإذا قیل ٱنشزوا فٱنشزوا یرفع ٱ ٱلذی َ ِ ْ ِ ُ ٰ ُ َ ن َخبیر َّ ُ ۟ ْ ْ َ َ َ َ َ ُ ِ َ َ ِ ِ وٱلذی َ ِ َ ن أوتوا ٱلعلم درج ٍ َّ ْ ت ۚ وٱ بما تعملو َ ٌ Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepada kalian: "Berlapanglapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untuk kalian. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kalian", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan (QS. Al-Mujadilah: 11) 1 yasalunaka Dalam Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an disebutkan, bahwa pada ayat ini, Allah memerintahkan agar orang-orang beriman untuk menjaga adab yang baik, yaitu saling memberikan tempat dalam pertemuan sebagai tanda saling menghormati dan menumbuhkan persaudaraan. Allah juga meninggikan derajat orang – orang beriman, berilmu, dan beramal dengan ilmunya itu, apalagi ilmunya bisa dirasakan manfaatnya oleh orang banyak. Dan inilah salah satu tujuan seseorang belajar ilmu agama, agar nantinya ilmu tersebut bisa dirasakan manfaatnya bagi masyarakat di sekelilingnya. Oleh: Tatik Uma 2 Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma, berkata: “Orang-orang yang ber ilmu mempunyai derajat sebanyak tujuh ratus kali di atas derajat orang-orang mukmin. Jarak di antara de rajat ini terbentang sejauh perjalanan s e l a m a l i m a r a t u s t a h u n . ” R a s u l u l l a h SAW b e r s a b d a : “ B a r a n g s i a p a y a n g A l l a h kehendaki dengan kebaikan pada dirinya, maka Allah memberinya p e n g e t a h u a n a g a m a . ” (HR. Muslim) Edisi 06 28 Safar 1442H / 16 Oktober 2020 ampunan untuk o r ang y ang mengajarkan ilmu?” jawabnya K a r e n a m a n f a a t i l m u i t u m e l i p u t i s e g a l a s e s u a t u , termasuk ikan paus. Orang yang berilmu itu mengetahui yang boleh dilakukan dan mengetahui y a n g d i l a r a n g . O r a n g y a n g ber ilmu pas ti akan member i nasehat agar bersikap santun kepada segala sesuatu, termasuk kepada hewan diantaranya ikan paus . Oleh karena itu Allah menganugerahkan kepada setiap ma khluk k emampuan untuk memohonk an ampunan ba g i orang berilmu, sebagai balasan atas jasanya. Dalam hadits lain juga diriwayat kan bahwa : “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, termasuk semut dalam lubangnya, juga ikan paus, benar-benar bersholawat kepada orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” ( HR. Tirmidzi) Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma berkata: “Sesungguhnya, orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain, maka setiap hewan yang melata akan memohonkan ampun baginya, termasuk pula ikan paus di lautan.” Jika ada yang bertanya: “Bagaimana mungkin ikan paus memohonkan Hendaknya orang –orang berilmu menghindari perdebatan yang tidak mendatangkan manfaat. Karena, jika ilmu yang dimilikinya digunakan untuk mendebat orang lain agar dipuji, maka hal tersebut termasuk akhlaq yang tercela Orang berilmu yang suka berdebat bisa terjerumus pada sifat ujub (mengagumi dirinya sendiri) dan riya' (memamerkan amal dengan niat upaya dipuji manusia). Usia yang dihabiskan untuk menimba ilmu erlalu dengan sia-sia karena tidak da kemanfaatan untuk akhiratnya. 3 Rasulullah Shallahu'alaihi wasallam bersabda: “Orang yang paling keras adzabnya pada hari kiamat adalah orang yang berilmu, namun ilmunya tidak bermanfaat baginya.” ( HR. At Thobroni, Ibnu Adi Al Baihaqi) Rasulullah Shallahu'alaihi wasallam pernah memberikan kesaksian kepada Abu Bakar As Shiddiq adhiyallahu 'anhu tentang ilmu. Rasullullah Shallahu'alaihi wasallam be r s abda : “Abu Bak a r tidak mengalahkan kalian karena banyak puasa dan tidak pula karena sholat, t e t a p i k a r e n a s e s u a t u y a n g bersemayam dalam dadanya.” Edisi 06 28 Safar 1442H / 16 Oktober 2020 Seorang murid seyogyanya harus belajar adab sebelum mencari ilmu. Diantara adab murid terhadap guru ada l ah s eor ang mur id ha rus membersihkan jiwanya dulu dari akhlaq-akhlaq yang hina dan sifatsifat yang tercela. Sebab, ilmu adalah ibadah hati. Dia harus melepaskan diri dari berbagai kesibukan yang lain. Ketika pikirannya bercabang, maka kemampuan menggali ilmu menjadi terbatas. Para Ulama salaf lebih menyukai ilmu dibanding harta. dan seseorang yang sedang mencari ilmu, jangan pernah merasa ilmunya lebih unggul dibanding orang lain. Karena keangkuhan ini bisa memadamkan cahaya Allah pada dirinya. Sebaiknya, seorang penuntut ilmu itu memprioritaskan dirinya untuk m e n d a l a m i i l m u y a n g b i s a meningkatkan kualitas iman dan taqwanya kepada Allah Subhaanahu wa ta'ala. Karena hal itu akan membahagiakannya kelak di akhirat Diantara adab guru adalah menyayangi muridnya dan menuntunnya ke jalan yang benar, sebagaimana dia menyayangi anaknya sendiri. Seorang guru tidak mengharapkan balasan materi dan ucapan terima kasih. Karena guru h a n y a b e r h a r a p i l m u n y a b i s a memberikan manfaat kepada muridnya, serta berharap selalu mendoakan kebaikan untuknya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda َ إذا مـــــــــــــــــــــــــــــات الإنســـــــــــــــــــــــــــــان انقطع عملھُ ِ إلا من ثلاث ٍة َ ْ ْ ُ ْ َ َ ُ َّ ْ ََ َ ِ َ َ َ َ ِ َ ِ ْ ٍ وولد صالح ْ یدعــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــو َ لھُ ٍ َ َ ِ َ ِ َ َ َ ِ َ ٍ َ ٍ ِ ٍ ُ ُ ِ ِ َ ُ ْ من َ صدقة جاریة وعلم ْ ََ ینتفع بھ َ “ J i k a s e s e o r a n g m e n i n g g a l d u n i a , m a k a terputus lah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do'a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631) Hakikatnya guru itu mengajarkan ilmu kepada muridnya senantiasa mengharap ridho Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan sebaiknya guru itu selalu mendoakan k e b a i k a n u n t u k m u r i d n y a . 4 Diterbitkan setiap Jum’at oleh Dewan Kyai Assalaam bersama Takmir Masjid Assalaam, Takmir Masjid Ibadurrahman Assalaam Hypermart dan L-ZIS Assalaam Buletin Jum’at Menebar Islam Rahmatan Lil ‘Alamin Wallahu A'lam Bish Shawab Penanggung Jawab: Ketua Dewan Kyai PPMI Assalaam Ketua Redaksi: Mahyani Devi Yumandera Pengarah: Arkanuddin Budiyanto, Trisnojoyo Khottob, Moh. Toha www.assalaam.or.id Guru juga selayaknya berusaha menata hati murid-muridnya agar semakin dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan berusaha menanamkan ilmunya kedalam hatinya. Guru sepatutnya selalu mengingatkan muridnya agar terhin dar dari akhlaq yang buruk dengan cara yang lunak dan halus dan guru juga sewajarnya mengetahui tingkat pemahaman muridnya dan kemampuan dirinya. seorang guru juga harus berbuat sesuai dengan apa yang dikatakannya.agar murid-murinya senantiasa meneladani hal hal yang baik dalam dirinya. Sebagaimana termaktub dalam firman Allah SWT: Anggota Redaksi: Rosyad Nur Liyas Design & Layout: Luthfi A Nasher Distributor: Triyanto Redaksi menerima tulisan sesuai motto Menebar Islam Rahmatan Lil’alamin Kontak Kami : +62 856-4715-4816 - Mahyani Devi Yumandera, Lc َ َ َ َ ِ َ َّ َكبُ ً ِ َ َ َ ر مقتا عند ٱ أن تقولوا ما لا تفعلو َن ْ َ ُ ُ ْ ُ “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Shaff: 3) Edisi 06 28 Safar 1442H / 16 Oktober 2020 Berkata Abdullah bin Sallam: Maka Rasulullah Shallahu'alaihi wasallam membacakan ayat tersebut kepada kami. Ini adalah hadits yang disebutkan Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Kemudian Ibnu Katsir berkata: “Sesungguhnya, ucapan yang tanpa pembenaran dengan amal, menjadi penyebab celaan dan sesuatu yang tidak disenangi, ia adalah s e b e s a r - b e s a r s e s u a t u y a n g d i b e n c i d a n m e m b u a t k e m u r k a a n . ” Marilah kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar senantiasa dimudahkan untuk selalu berakhlak yang baik dan senantiasa berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dari akhlak yang buruk. dan salah satu do'a yang disunnahkan yakni: ْ َ ْ ُ خلقي فحسن خلقي َّ ْ ُ ُ َّ َ َّ َ اللھم حسنت َ ِ َ ِّ ِ “Ya Allah, sebagaimana Engkau baguskan badanku, perbaikilah akhlakku.” (HR. Ahmad, 1/403, Ibnu Hibban, no. 959) Do'a ini bukanlah do'a khusus ketika akan bercermin. Akan tetapi bisa dibaca kapan saja. Syaikh al-Albani Rahimahullah berkata setelah menyebutkan riwayat-riwayat hadits yang mengkhususkan doa tersebut saat bercermin ِ ُ َ ِ اللھم إني أعوذ بك من منكرا ِت الأخلاق والأ ْ ِ ّ ْ ْ َ ْ َ ْ عمال والأھواء َّ َ ُ ْ َ ْ َ ْ َ ُ َّ ِ ِ ُ َ ِ َ َ ِ َ َ “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari akhlak-akhlak yang mungkar, dari amalanamalan yang mungkar, dan dari hawa nafsu yang menyimpang.” (HR. at-Tirmidzi, no. 3591, dinilai sahih oleh al- Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi, 3/473

Jumat, 20 November 2020

Belajar Menyembunyikan Amal

 

Belajar Menyembunyikan Amal

Tatik Umamah, S.Pd.I

 

 

مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ

“Siapa yang memperdengarkan amalanya (kepada orang lain), Allah akan memperdengarkan (bahwa amal tersebut bukan untuk Allah). Dan siapa saja yang ingin mempertontonkan amalnya, maka Allah akan mempertontonkan aibnya (bahwa amalan tersebut bukan untuk Allah).”  (HR Bukhari)

 

Di jaman penuh dengan kemajuan teknologi seperti saat ini, sering kali kita tergoda untuk membagikan setiap aktifitas kebaikan di media sosial. Meski niat yang dimiliki berbeda-beda, ada yang memang ingin memotivasi orang lain untuk mengikuti, untuk berbagi kebahagiaan. Apapun itu, kita harus senantiasa menjaga hati dari berbagai niat yang tidak ikhlas, terutama apabila membagikan sesuatu yang berkaitan dengan masalah ibadah diri. Sebab, bisa jadi bisikan setan datang berupa syirik kecil atau riya', yang mana sangat dikhawatirkan oleh Rasulullah SAW jika menimpa umatnya.

 

Dikisahkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairoh RA, bahwa Rasulullahu SAW bersabda,  “Sesungguhnya orang yang  pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati di jalan Allah (dalam perang fi sabilillah). Orang itu didatangkan lalu Allah mengingatkannya tentang nikmat –nikmat yang telah Allah diberikan d ia pun mengakuinya. Allah bertanya kepadanya, 'Apa yang kamu  lakukan dengan nikmat-nikmat itu?' ia menjawab, 'Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.' Allah berfirman: 'Engkau dusta, Tapi engkau malakukan itu orang bahwa  adalah seorang pemberani. Memang dan itu sudah dikatakan dikatakan orang. Kemudian Allah merintahkan kepada Malaikat agar menyeret orang itu pada wajahnya  lalu dilemparkan ke dalam neraka.

 

Kemudian didatangkan pula seorang laki-laki yang telah diberi Allah kelapangan dan harta yang banyak. Allah mengingatkannya tentang nikmat-nikmat yang telah diberikannya dan iapun mengingatnya. Allah bertanya kepadanya, 'Apa yang kamu  lakukan dengan nikmat-nikmat itu?' ia menjawab: Saya tidak meninggalkan satu jalanpun yang engkau sukai menginfakkan harta di sana hanya karenaMu. Allah menjawab, engkau telah berdusta . tetapi engkau melakukan itu hanya demi mengharap pujian orang , supaya dikatakan bahwa engkau adalah seorang dermawan, dan itu sudah dikatakan orang. Kemudian Allah merintahkan kepada Malaikat agar menyeret orang itu pada wajahnya  lalu dilemparkan ke dalam neraka..

 

Lalu didatangkan pula seorang laki-laki yang mempelajari ilmu, mengajarkannya dan membaca Al Qur’an. Allah mengingatkannya tentang nikmat-nikmat yang telah diberikannya dan iapun mengingatnya. Allah bertanya kepadanya, 'Apa yang kamu  lakukan dengan segala nikmat itu?' ia menjawab, saya belajar ilmu dan mengajarkannya, serta membaca Al qur’an karenaMu. Allah menjawab, engkau dusta, tetapi engkau belajar dengn maksud supaya dikatakan olaeh orang-orang bahwa engkau adalah orang alim, dan engkau  membaca Al qur’an dengan maksud agar dikatan sebagai qori’. Kemudian Allah merintahkan kepada Malaikat agar menyeret orang itu pada wajahnya  lalu dilemparkan ke dalam neraka.”

 

Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolani menjelaskan tentang  riya’ ialah menampakkan ibadah dengan tujuan dilihat manusia, lalu mereka memuji pelaku amalan itu. Sementara Imam Al-Ghazali, menjelaskan bahwa  riya’ adalah mencari kedudukan pada hati manusia dengan memperlihatkan kepada mereka hal-hal kebaikan.

 

Al Hasan  Al Bashri mengatakan,  orang yang berbuat riya’ itu pada hakekatnya ingin mengalahkan taqdir Allah SWT padanya. Ia adalah orang jahat. Ia ingin orang menyebutnya orang yang sholeh. Bagaimana mungkin orang-orang akan mengatakan demikian, sementara ia menempati kedudukan yang buruk di sisi Allah SWT.

 

Umar bin Khotthob RA pernah melihat seorang laki-laki menekuk lehernya, beliau berkata, ”Wahai orang yang menekuk lehernya, tegakkan lehermu. Sesungguhnya khusyu’ itu bukan di leher tapi ada di dalam hati”.

 

Abu Umamah Al Bahily RA pernah berjalan melewati seorang laki-laki yang sedang bersujud di masjid sambil menangis dan berdoa. Abu Umamah Al Bahily RA berkata kepadanya, “Wahai kamu alangkah baiknya kalau kamu melakukannya di dalam rumahmu”.

 

Ali bin abi Tholib RA berkat, ” Orang yang berbuat riya’ itu ada tiga tandanya: jika ia sendirian ia malas beramal, jika ia di keramaian ia rajin dan jika di puji ia meningkatkan amalnya sedangkan jika dicela ia menguranginya”.

 

Jadi  riya’ adalah melakukan amal kebaikan bukan karena niat ibadah kepada Allah, melainkan demi manusia dengan cara memperlihatkan amal kebaikannya kepada orang lain supaya mendapat pujian atau penghargaan, dengan harapan agar orang lain memberikan penghormatan padanya.

 

Ada dua macam riya’ yaitu riya’ kholish dan  riya’ syirik . Yang pertama adalah  riya’ kholish yaitu melakukan ibadah semata-mata hanya untuk mendapatkan pujian dari manusia. Dan yang kedua adalah riya’ syirik yaitu melakukan perbuatan karena niat menjalankan perintah Allah, dan juga karena untuk mendapatkan pujian dari manusia, dan keduanya bercampur.

 

Riya’ bisa muncul didalam diri seseorang pada saat setelah atau sebelum suatu ibadah selesai dilakukan.

 

Menurut Al Imam an Nawawi Rahimahullah ada amalan yang bukan termasuk amalan riya’, Contohnya  yaitu:  

1.    Rajin beribadah ketika bersama orang shalih. Hal ini terkadang menimpa ketika seseorang berkumpul dengan orang-orang shaleh sehingga lebih semangat dalam beribadah. Hal ini tidak termasuk riya. Ibnu Qudamah mengatakan, terkadang seseorang menginap di rumah orang yang suka bertahajud, lalu ia pun ikut melaksanakan tahajud lebih lama. Padahal biasanya ia hanya melakukan shalat malam sebentar saja. Pada saat itu, ia menyesuaikan dirinya dengan mereka. Ia pun ikut berpuasa ketika mereka berpuasa. Jika bukan karena bersama orang yang ahli ibadah tadi, tentu ia tidak rajin beribadah seperti ini.  

 

2.    Menyembunyikan dosa. Kewajiban bagi setiap muslim apabila berbuat dosa adalah menyembunyikan dan tidak menampakkan dosa tersebut. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Setiap umatku akan diampuni kecuali orang yang menampakkan perbuatan dosanya. Di antara bentuk menampakkan dosa adalah seseorang di malam hari melakukan maksiat, ia  menceritakan kepada orang lain, padahal  Allah sudah menutup aibnya.

 

Adapun akibat buruk dari perbuatan riya’ adalah terhapusnya pahala amal baik, sebagaimana dijelaskan dalam Q.S Al Baqarah : 264

 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُبْطِلُوا۟ صَدَقَٰتِكُم بِٱلْمَنِّ وَٱلْأَذَىٰ كَٱلَّذِى يُنفِقُ مَالَهُۥ رِئَآءَ ٱلنَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۖ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُۥ وَابِلٌ فَتَرَكَهُۥ صَلْدًا ۖ لَّا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَىْءٍ مِّمَّا كَسَبُوا۟ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْكَٰفِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”( Al Baqarah: 264)

 

Orang yang berbuat riya’ akan mendapat dosa besar. Mengapa demikaian? Karena  riya’ termasuk perbuatan syirik, sedang syirik adalah kedholiman yang yang paling besar

Orang yang berbuat riya’ tidak selamat dari bahaya kekafiran karena riya’ sangat dekat hubungannya dengan sikap kafir

 

Marilah kita berdoa agar terhindar dari perbuata riya’ yaitu dengan melatih diri untuk beramal secara ikhlas, sekecil apa pun yang dilakukan , juga mengendalikan diri agar tidak merasa bangga apabila ada orang lain memuji amal baik yang dilakukan. Selain itu juga menahan diri agar tidak emosi apabila ada orang lain yang meremehkan kebaikan yang dilakukan. Lalu, tidak suka memuji kebaikan orang lain secara berlebih-lebihan karena hal itu dapat mendorong pelakunya menjadi riya’ atas kebaikannya. Dan yang terakhir, melatih  diri untuk bersedekah secara sembunyi-sembunyi untuk menghindari sanjungan orang lain

 

Semoga Allah memberi ma’unah kepada kita, keikhlasan dalam beramal, berkata, bergerak dan berdiam. Dan dijauhkan dari sifat riya’

 

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ

 "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari perbuatan menyekutukanMu di saat aku mengetahui dan aku mohon ampunan dari sesuatu yang aku tidak mengetahui."

 

Aamiin..

 

Sumber:

1.    Fadli Bahri Lc, 2002, Ensiklopedi Muslim Minhajul Muslim, Jakarta Timur, Penerbit darul fala

2.    Abu Zufar Imtihan asy Syafi’i, 2010, Dosa-Dosa Besar, Penerbit Pustaka Aofah, Solo    

3.    https://muslim.or.id/5470-riya-penghapus-amal.html

Belajar Menyembunyikan Amal

 Belajar Menyembunyikan Amal

Tatik Umamah, S.Pd.I

مَ نْ سَمَّعَْ سَمَّعَْ اللَّّْه بِهِ، وَمَ نْ يهرَائِي يهرَائِي اللَّّْه بِهِْ

“Siapa yang memperdengarkan amalanya (kepada orang lain), Allah akan memperdengarkan (bahwa amal tersebut bukan untuk Allah). Dan siapa saja yang ingin mempertontonkan amalnya, maka Allah akan mempertontonkan aibnya (bahwa amalan tersebut bukan untuk Allah).” (HR Bukhari)

Di jaman penuh dengan kemajuan teknologi seperti saat ini, sering kali kita tergoda untuk membagikan setiap aktifitas kebaikan di media sosial. Meski niat yang dimiliki berbeda-beda, ada yang memang ingin memotivasi orang lain untuk mengikuti, untuk berbagi kebahagiaan. Apapun itu, kita harus senantiasa menjaga hati dari berbagai niat yang tidak ikhlas, terutama apabila membagikan sesuatu yang berkaitan dengan masalah ibadah diri. Sebab, bisa jadi bisikan setan datang berupa syirik kecil atau riya', yang mana sangat dikhawatirkan oleh Rasulullah SAW jika menimpa umatnya.

Dikisahkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairoh RA, bahwa Rasulullahu SAW bersabda, “Sesungguhnya orang yang pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati di jalan Allah (dalam perang fi sabilillah). Orang itu didatangkan lalu Allah mengingatkannya tentang nikmat –nikmat yang telah Allah diberikan d ia pun mengakuinya. Allah bertanya kepadanya, 'Apa yang kamu lakukan dengan nikmat-nikmat itu?' ia menjawab, 'Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.' Allah berfirman: 'Engkau dusta, Tapi engkau malakukan itu orang bahwa adalah seorang pemberani. Memang dan itu sudah dikatakan dikatakan orang. Kemudian Allah merintahkan kepada Malaikat agar menyeret orang itu pada wajahnya lalu dilemparkan ke dalam neraka.

Kemudian didatangkan pula seorang laki-laki yang telah diberi Allah kelapangan dan harta yang banyak. Allah mengingatkannya tentang nikmat-nikmat yang telah diberikannya dan iapun mengingatnya. Allah bertanya kepadanya, 'Apa yang kamu lakukan dengan nikmat-nikmat itu?' ia menjawab: Saya tidak meninggalkan satu jalanpun yang engkau sukai menginfakkan harta di sana hanya karenaMu. Allah menjawab, engkau telah berdusta . tetapi engkau melakukan itu hanya demi mengharap pujian orang , supaya dikatakan bahwa engkau adalah seorang dermawan, dan itu sudah dikatakan orang. Kemudian Allah merintahkan kepada Malaikat agar menyeret orang itu pada wajahnya lalu dilemparkan ke dalam neraka..

Lalu didatangkan pula seorang laki-laki yang mempelajari ilmu, mengajarkannya dan membaca Al Qur’an.ْ Allahْ mengingatkannyaْ tentangْ nikmat-nikmat yang telah diberikannya dan iapun

mengingatnya. Allah bertanya kepadanya, 'Apa yang kamu lakukan dengan segala nikmat itu?' ia menjawab, saya belajar ilmu dan mengajarkannya, serta membaca Alْ qur’anْ karenaMu.ْ Allahْ

menjawab, engkau dusta, tetapi engkau belajar dengn maksud supaya dikatakan olaeh orang-orang bahwaْ engkauْ adalahْ orangْ alim,ْ danْ engkauْْ membacaْ Alْ qur’anْ denganْ maksudْ agarْ dikatanْ

sebagaiْ qori’.ْ Kemudianْ Allahْ merintahkanْ kepada Malaikat agar menyeret orang itu pada wajahnya

lalu dilemparkan ke dalam neraka.”

Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolani menjelaskan tentang riya’ْ ialahْ menampakkanْ ibadahْ denganْ

tujuan dilihat manusia, lalu mereka memuji pelaku amalan itu. Sementara Imam Al-Ghazali, menjelaskanْ bahwaْْ riya’ْ adalahْ mencariْ kedudukanْ padaْ hatiْ manusiaْ denganْ memperlihatkanْ

kepada mereka hal-hal kebaikan.

Al Hasan Al Bashri mengatakan,ْْ orangْ yangْ berbuatْ riya’ْ ituْ padaْ hakekatnyaْ inginْ mengalahkanْ

taqdir Allah SWT padanya. Ia adalah orang jahat. Ia ingin orang menyebutnya orang yang sholeh. Bagaimana mungkin orang-orang akan mengatakan demikian, sementara ia menempati kedudukan yang buruk di sisi Allah SWT.

Umar bin Khotthob RA pernah melihat seorang laki-laki menekuk lehernya, beliau berkata, ”Wahai orangْ yangْ menekukْ lehernya,ْ tegakkanْ lehermu.ْ Sesungguhnyaْ khusyu’ْ ituْ bukanْ diْ leherْ tapiْ adaْ

diْ dalamْ hati”.

Abu Umamah Al Bahily RA pernah berjalan melewati seorang laki-laki yang sedang bersujud di masjid sambil menangis dan berdoa. Abu Umamah Al Bahily RA berkata kepadanya, “Wahai kamu alangkahْ baiknyaْ kalauْ kamuْ melakukannyaْ diْ dalamْ rumahmu”.

Ali bin abi Tholib RA berkat, ”ْ Orangْ yangْ berbuatْ riya’ْ ituْ adaْ tigaْ tandanya: jika ia sendirian ia

malas beramal, jika ia di keramaian ia rajin dan jika di puji ia meningkatkan amalnya sedangkan jika dicelaْ iaْ menguranginya”.

Jadiْْ riya’ْ adalahْ melakukanْ amalْ kebaikanْ bukanْ karenaْ niatْ ibadahْ kepadaْ Allah,ْ melainkanْ demiْ

manusia dengan cara memperlihatkan amal kebaikannya kepada orang lain supaya mendapat pujian atau penghargaan, dengan harapan agar orang lain memberikan penghormatan padanya.

Adaْ duaْ macamْ riya’ْ yaituْ riya’ْ kholish danْْ riya’ْ syirikْ .ْ Yangْ pertamaْ adalahْْ riya’ْ kholishْ yaituْ

melakukan ibadah semata-mata hanya untuk mendapatkan pujian dari manusia. Dan yang kedua

adalahْ riya’ْ syirikْ yaituْ melakukanْ perbuatanْ karenaْ niatْ menjalankanْ perintahْ Allah,ْ danْ jugaْ

karena untuk mendapatkan pujian dari manusia, dan keduanya bercampur.

Riya’ْ bisaْ munculْ didalamْ diriْ seseorangْ padaْ saatْ setelahْ atauْ sebelumْ suatuْ ibadahْ selesaiْ

dilakukan.

Menurut Al Imam an Nawawi Rahimahullah adaْ amalanْ yangْ bukanْ termasukْ amalanْ riya’,ْ

Contohnya yaitu:

1. Rajin beribadah ketika bersama orang shalih. Hal ini terkadang menimpa ketika seseorang berkumpul dengan orang-orang shaleh sehingga lebih semangat dalam beribadah. Hal ini tidak termasuk riya. Ibnu Qudamah mengatakan, terkadang seseorang menginap di rumah orang yang suka bertahajud, lalu ia pun ikut melaksanakan tahajud lebih lama. Padahal biasanya ia hanya melakukan shalat malam sebentar saja. Pada saat itu, ia menyesuaikan dirinya dengan mereka. Ia pun ikut berpuasa ketika mereka berpuasa. Jika bukan karena bersama orang yang ahli ibadah tadi, tentu ia tidak rajin beribadah seperti ini.

2. Menyembunyikan dosa. Kewajiban bagi setiap muslim apabila berbuat dosa adalah menyembunyikan dan tidak menampakkan dosa tersebut. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Setiapْ umatkuْ akanْ diampuniْ kecualiْ orangْ yangْ menampakkanْ perbuatanْ dosanya.ْ Diْ antaraْ

bentuk menampakkan dosa adalah seseorang di malam hari melakukan maksiat, ia menceritakan kepada orang lain, padahal Allah sudah menutup aibnya.

Adapunْ akibatْ burukْ dariْ perbuatanْ riya’ْ adalahْ terhapusnyaْ pahalaْ amalْ baik,ْ sebagaimanaْ

dijelaskan dalam Q.S Al Baqarah : 264

يََٰٓأيَُّهَا ٱلَّذِينَْ ءَامَنهو اْ لَْ ته بطِلهو اْ صَدَ قَتِ ه كم بِْٱ لمَ نْ وَْٱ لْذََ ىْ كَْٱلَّذِى يهنفِ ه قْ مَالَهْۥه رِئَآَٰءَْ ٱلنَّاسِْ وَلَْ

يه ؤمِ ه نْ بِْٱللَِّّْ وَْٱ ليَ ومِْ ٱ لءَاخِرِْْۖ فَمَثَلههْۥه كَمَثَلِْ صَ فوَا نْ عَلَ يهِْ تهرَا بْ فَأصََابَهْۥه وَابِ لْ فَتَرَْكَهْۥه صَ لدًاْۖ لَّْ

يَ قدِ ه رونَْ عَلَ ىْ شَ ى ءْ ممَّا كَسَبهو اْْۗ وَْٱللَّّْه لَْ يَ هدِى ٱ لقَ ومَْ ٱ ل كَفِرِينَْ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”( Al Baqarah: 264)

Orang yang berbuatْ riya’ akan mendapat dosa besar. Mengapa demikaian? Karenaْْ riya’ْ termasukْ

perbuatan syirik, sedang syirik adalah kedholiman yang yang paling besar

Orangْ yangْ berbuatْ riya’ْ tidakْ selamatْ dariْ bahayaْ kekafiranْ karenaْ riya’ sangat dekat hubungannya

dengan sikap kafir

Marilah kitaْ berdoaْ agarْ terhindarْ dariْ perbuataْ riya’ْ yaituْ denganْ melatih diri untuk beramal secara

ikhlas, sekecil apa pun yang dilakukan , juga mengendalikan diri agar tidak merasa bangga apabila ada orang lain memuji amal baik yang dilakukan. Selain itu juga menahan diri agar tidak emosi apabila ada orang lain yang meremehkan kebaikan yang dilakukan. Lalu, tidak suka memuji kebaikan orang lain secara berlebih-lebihan karena hal itu dapat mendorong pelakunya menjadi riya’ atas kebaikannya. Dan yang terakhir, melatih diri untuk bersedekah secara sembunyi-sembunyi untuk menghindari sanjungan orang lain

Semogaْ Allahْ memberiْ ma’unahْ kepadaْ kita,ْ keikhlasanْ dalamْ beramal,ْ berkata,ْ bergerakْ danْ

berdiam.ْ Danْ dijauhkanْ dariْ sifatْ riya’ْ

اللَّ ه همَّْ إِن ي أَ ه عوذْه بِكَْ أَ نْ أه شرِكَْ بِكَْ وَأَنَا أَ علَ ه م، وَأَ ستَ غفِ ه ركَْ لِمَا لَْ أَ علَ ه مْ

"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari perbuatan menyekutukanMu di saat aku mengetahui dan aku mohon ampunan dari sesuatu yang aku tidak mengetahui."

Aamiin..

Sumber:

1. Fadli Bahri Lc, 2002, Ensiklopedi Muslim Minhajul Muslim, Jakarta Timur, Penerbit darul fala

2. Abuْ Zufarْ Imtihanْ asyْ Syafi’i,ْ 2010,ْ Dosa-Dosa Besar, Penerbit Pustaka Aofah, Solo

3. https://muslim.or.id/5470-riya-penghapus-amal.html

Kondisi Kuburan ust Umar Mita


1.       Sempit

“ Jika seorang selamat dari penyempitan kubur niscaya selamatlah bayi ini ( HR Athbroni)

2.       Gelap yang hanya bias diterang dengan amal sholeh.

3.       Memiliki lidah yang dapat berbicara

Sesungguhnya kubur itu benar-benar menangis dan dalam tangisannya berkata:”aku adalah rumah yang sepi aku adalah rumah sunyi aku adalah rumah cacing”

Ketika manusia dimasukkan kuburan, kuburan berbicara :” hai anak adam, apa yang memperdayakan kamu sampai kamu tidak ingat akan aku

Bumi menyempit kepada orang yang ahli maksiyat. Ahli maksiyat yang meninggal stiap dimasukkan kuburan  tidak muat jasadnya.

Jika yang dimasukkan orang sholeh, malaikat berkata: Tidakkah kamu tahu, bukankah orang dimasukkan kepadamu adalah ahli amal makruf nahi mungkar .

Shofyan Astauri:” Barang siapa yang mengingat kubur, kuburan akan dijadikan taman surga, yang melupakan mnjadi lobang neraka.

Hasan Al Bashri jika ada masalah hati dating ke kuburan, ada wanita berkata: kalau ada yang tahu ttg orang yang akan dikubur , kuburan akan menolak, jenazah bergerak-gerak dan  Hasan al bashri menangis”.

Abdurrohman An Nasi:” Didatangi wanita untuk menggalikan kuburan kuburan, stelah dimasukkan ke kuburan sudah dijemput olah pemandangan yang indah yang bercahaya”

Kadang-kadang allah menampakkan apa yang terjadi dalam kuburan untuk menambah keimanan kita. Berapa orang hidup,

.ust umar Mita

Kamis, 15 Oktober 2020

Belajar Akhlaq Sebelum Ilmu

 

يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ  وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS. Al-Mujadilah: 11)

 

Dalam Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an disebutkan, bahwa pada ayat ini, Allah memerintahkan agar orang-orang beriman mengembangkan adab yang baik, yaitu saling memberikan tempat dalam pertemuan sebagai tanda saling menghormati dan menumbuhkan persaudaraan.

 

Allah juga meninggikan derajat orang yang beriman, berilmu, dan beramal dengan ilmunya itu.

 

 

Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, berkata: “Orang-orang yang berilmu mempunyai derajat sebanyak tujuh ratus kali di atas derajat orang-orang mukmin. Jarak di antara derajat ini terbentang sejauh perjalanan selama lima ratus tahun.

 

 

Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang Allah kehendaki dengan kebaikan pada dirinya, maka Allah memberinya pengetahuan agama.” (HR. Muslim)

 

 

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, termasuk semut dalam lobangnya, juga ikan paus, benar-benar bersholawat kepada orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” ( HR. Tirmidzi)

 

Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Sesungguhnya, orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain, maka setiap hewan yang melata akan memohonkan ampun baginya, termasuk pula ikan paus di lautan.

 

Jika ada yang bertanya: “Bagaimana mungkin ikan paus memohonkan ampun orang yang mengajarkan ilmu?” Karena manfaat ilmu meliputi segala sesuatu, termasuk ikan paus. Orang yang berilmu tahu yang boleh dilakukan dan tahu yang dilarang. Orang yang berilmu pasti akan memberi nasehat agar santun kepada segala sesuatu, termasuk kepada hewan juga ikan paus. Karena itu Allah mengilhamkan kepada setiap makhluk yaitu permohonan bagi orang yang berilmu, sebagai balasannya.

 

 

Hendaknya orang yang berilmu menghindari perdebatan yang tidak mendatangkan manfaat. Karena, jika ilmu yang dimilikinya digunakan untuk mendebat yang tujuannya mencari kemenangan dan pujian, maka hal tersebut merupakan akhlaq yang tercela.

 

Seorang berilmu yang suka berdebat dapat terjerumus pada sifat ujub (mengagumi diri sendiri) dan  riya’ (memamerkan amal supaya dipuji manusia, tidak diniatkan beramal untuk Allah SWT). Umurnya yang dihabiskan untuk menimba ilmu bisa berlalu dengan sia-sia karena tidak ada kemanfaatan untuk akhiratnya.

 

Rasulullah Shallahu’alaihi wasallam  bersabda: “Orang yang paling keras adzabnya pada hari kiamat adalah orang yang berilmu, namun ilmunya tidak bermanfaat baginya.” ( HR. At Thobroni, Ibnu Adi Al Baihaqi)

 

Seorang murid seyogyanya harus belajar adab sebelum mencari ilmu. Diantara adab murid terhadap guru adalah murid harus membersihkan jiwanya dulu dari akhlaq-akhlaq yang hina dan sifat-sifat yang tercela. Sebab, ilmu adalah ibadah hati. Dia harus melepaskan diri dari berbagai kesibukan yang lain. Ketika pikiran bercabang, maka kemampuan menggali ilmu menjadi terbatas.

 

Para salaf lebih mementingkan ilmu daripada hal-hal yang lain. Begitu juga seorang murid yang sedang belajar ilmu, jangan ada niat tampil beda dengan orang lain. Karena, niat ini bisa mengacaukan pikirannya dan membuyarkan konsentrasinya.

 

Seyogyanya, murid senantiasa mengambil suatu ilmu yang terbaik, sebab umurnya tidak mungkin mendalami semua pengetahuan. Ilmu yang lebih utama adalah ilmu yang memiliki hubungan dengan ilmu akherat. Karena ilmu tersebut akan membantu kita untuk menguatkan iman.

 

Rasulullah  pernah memberikan kesaksian kepada Abu Bakar As Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu  tentang ilmu. Rasullullah Shallahu’alaihi wasallam  bersabda: “Abu Bakar tidak mengalahkan kalian karena banyak puasa dan tidak pula karena sholat, tetapi karena sesuatu yang bersemayam dalam dadanya.

 

Beberapa adab guru dalam menjalankan tugasnya adalah menyayangi murid dan menuntunnya ke jalan yang benar, sebagaimana dia menyayangi anaknya sendiri. Seorang guru tidak mengharapkan balasan dan ucapan terima kasih. Seorang guru berharap, supaya 30 tahun kedepan, murid yang ia ajar menjadi pemimpin yang amanah, yang mau mendoakan sepeninggalnya.

 

Seorang guru mengajarkan ilmu untuk mengharap ridho dari Allah SWT. Seorang guru tidak menampakkan dirinya lebih hebat dari murid, walau sebenarnya murid lebih hebat dalam hal yang lain.

 

Seorang guru mempersiapkan hati murid-muridnya untuk lebih ber-taqarrub kepada Allah dengan cara menanam ilmu dalam hatinya.  Seorang guru memperingatkan murid dari akhlaq yang buruk dengan cara yang lunak dan halus.

Seorang guru hendaknya mengetahui tingkat pemahaman murid dan kemampuan dirinya.

 

Seyogyanya, seorang guru berbuat sesuatu sesuai dengan apa yang dikatakan. Sebagaimana termaktub dalam firman Allah SWT:

كَبُرَ مَقْتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.(QS. As-Shaff: 3)

 

Berkata Abdullah bin Sallam: Maka Rasulullah Shallahu’alaihi wasallam  membacakan ayat tersebut kepada kami. Ini adalah hadits yang disebutkan Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Kemudian Ibnu Katsir berkata: Sesungguhnya, ucapan yang tanpa pembenaran dengan amal, menjadi penyebab celaan dan sesuatu yang tidak disenangi, ia adalah sebesar-besar sesuatu yang dibenci dan membuat kemurkaan.”

 

Maka marilah memohon Akhlak yang baik dan berlindung dari akhlak yang buruk. Salah satu do’a yang dianjutkan yakni:

 

اللَّهُمَّ حَسَّنْتَ خَلْقِي فَحَسِّنْ خُلُقِي

“Ya Allah, sebagaimana Engkau baguskan badanku, perbaikilah akhlakku.” (HR. Ahmad, 1/403, Ibnu Hibban, no. 959)

 

Doa ini bukanlah do’a khusus ketika akan bercermin. Akan tetapi bisa dibaca kapan saja.

 

Syaikh al-Albani Rahimahullah berkata setelah menyebutkan riwayat-riwayat hadits yang mengkhususkan doa tersebut saat bercermin.

 

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الْأَخْلَاقِ وَالْأَعْمَالِ وَالْأَهْوَاءِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari akhlak-akhlak yang mungkar, dari amalan-amalan yang mungkar, dan dari hawa nafsu yang menyimpang.” (HR. at-Tirmidzi, no. 3591, dinilai sahih oleh al- Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi, 3/473)

 

 

Selasa, 01 September 2020

Soal Harian Aqidah MA Kelas 10

 

Soal Harian I

السؤال العقيدة لمراجعة اليومية للصف العاشر الأول

1.   ما معنى العقيدة لعةً واصظلاحاً؟

2.   اذكر موضوع علم العقيدة!

3.    اذكرتقسيم الشريعة مع  البيان!

4.   ما أهمية العقيدة  اإسلامية!

5.   اكتب أية تدل على أن العقيدة الإسلامية تحقق الأمن و السعادة!

6.   عرف معنى التوحيد واذكر اقسامه !

7.   عرف توحيد الربوبية !

8.   اذكر الدليل على : تفرد الله بلرزق

9.   بين مفهوم كلمة الرب في القرآن والسنة ؟

10.                     لماذا كفار قريش يقرون بربوبية الله ؟

Soal Harian II

 

السؤال العقيدة لمراجعة اليومية الثاني

1-   عرف توحيد الألوهية ، وما الفرق بينه و بين توحيد الربوبية ؟

2-   اذكر أركان الشهادة أن لا إله إلا الله و أن محمد رسول الله !

3-   ما معنى الشهادة أن لا إله إلله

4-   ما مقتضى الشهادتين ؟

5-   اذكر خمسا من نواقض الشهادتين مع ذكر الدليل !

6-   ما المراد بالتشريع ؟ وما حكم من أطاع مشرِّعا غير الله ؟

7-   عرف العبادة لغة واصطلاحا !

8-   ما أنواع العبادة ؟

9-   اذكر شروط قبول العمل !

10-      ترجم هذه الآية إلى لغة الأندوميسية!

﴿فاستقم كما أمرت ومن تاب معك ولا تطغوا ﴾ . [هو: 112. ]

 

 

الإمتجان العقيدة لربع السنة لنصف السنةSOAL  MID SMT GASAL

 

 2011/2012

 

إختر أصح الأجوبة بوضع علامة (×) على حرف الألف أو الباء أو الجيم أو الدال في ورقة الأجوبة

1- العقيدة لغة من كلمة عقد يعقد معناها .....

        ا- الإرتباط    ب- الرباط    ج-الربط       د- المربوط

2. العقيدة اصطلاحا ...

أ. الأمور التي يجب أن يُصَدِّقَ بِها القلب ، وتطمئن إِليها النفس ، حتى تكون يقينا ثابتا لا يخالطها شك ولا ريب

ب. ما عقد الإِنسانُ عليه قلبه جازما به ؛ سواءٌ أكان حقا

ج. الأساسُ الذي يقوم عليه الدينُ وتَصحُّ معه الأعمالُ

د. الاعتقاد الجازم بأَنَ اللّه عز وجل إفراد بأفعاله

3- العقيدة من حيث كونها علماً بمفهوم أهل السنة والجماعة تشمل على ....

        ا- الإيمان والغيبيات والنبوات والفقه ج- والغيبيات والنبوات والقدر والعبادات            ب- الإيمان والغيبيات والنبوات والقدر     د- التوحيد والغيبيات والنبوات وأصول الأحكام

4. ما معنى العقيدة الإسلامية ؟

أ. هي الإِيمان باللّه ، وملائكته ،  ورسله ,وكتبه ، واليوم الآخر ، والقدر خيره وشره

ب. هي الإِيمان باللّه ، وملائكته ، ورسله وكتبه ، واليوم الآخر ، والقدر خيره وشره

ج. هي الإِيمان باللّه ، وملائكته ، وكتبه ، ورسله ، واليوم الآخر ، والقدر خيره وشره

د. هي الإِيمان باللّه ، ورسله ,وملائكته ، وكتبه ، واليوم الآخر ، والقدر خيره وشره       

5-  ليس من أسماء أخرى للعقيدة

 

        1- التوحيد   ب- السُّنَة     ج-أُصُول الدَين       د- الجهاد الأكبر

6. هذه الأمور ليس من موضوع العقيدة ...

أ. التوحيد ، والإيمان ، والإسلام

 ب. الغيبيات ، والنبوات ، والقدر

 ج. الأخبار ، وأصول الأحكام القطعية

د. الإجماع

7- مصدر العقيدة الإسلامية .....

        ا- القرأن والسنة والعقل       ج- القرآن والسنة والإجماع

        ب- مقصورة على القرآن والسنة     د- التوحيد ، والإيمان ، والإسلام ، والغيبيات ، والنبوات ، والقدر ، والأخبار ، وأصول الأحكام القطعية والفطرة

8- العقل ليس مصدرا للعقيدة لأن ....    

        ا- العقل قاصر وناقص        ج- العقيدة أمر عقلي

        ب- العقيدة الغسلامية موافق بالعقل  د- العقيدة الإسلامية لا يوافق بالعقل

9- الشريعة تنقسم إلى ....

        ا- القسمين اثنين      ب- 3 أقسام ج- 4 أقسام  د- 5 أقسام

10- قوله تعالى ﴿فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا﴾ دليل على أن ......

        ا- العقيدة أساس يقوم عليه جميع الأعمال   ج- العمل الصالح أساس جميع الأعمال

        ب- العبادة تصح مع الشرك  د- من كان يرجو لقاء ربه فليشرك بعادته

11- حاجتنا إلى العقيدة الصحيحة فوق كل حاجة، لأن ......

        ا- العقيدة الصحيحة يحتاج إلى العلم        ج- لا سعادة للقلوب إلا بعبادة الله تعالى. 

        ب- العقيدة الصحيحة هي عقيدة الرسول   د- أكثر الناس ينحرف من العقيدة الصحيحة

12- قول النبي صلى الله عليه وسلم: « أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوْا أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله » يدل على .....

        ا- العقيدة أعظم الواجبات عل الناس ج- قتال الكافر واجب على كل المسلم

        ب- أمر الله نبيه أن يقاتل الكافر     د- الإسلام دين القتال

13- التوحيد من كلمة وحّد يوحّد معناه .....

        ا- عبادة الله وحده            ج- لا يشرك بالله شيئا

        ب- جعل الشيء واحدا      د- جعل الله شيئا

41- ينقسم التوحيد إلى .....

        ا- قسمين اثنين       ب- 3 أقسام ج- 4 أقسام  د- 5 أقسام

51- الاعتقاد الجازم بأَنَ اللّه رَب كلِّ شيء ومليكه وهو الخالق و مدبر العالم والمتصرف فيه هو تعريف توحيد

        ا- الملكية     ب- الخلقية   ج- الألوهية   د- الربوبية

61- نشأ الشيء من حال إلى حال التمام هو معنى ....

        ا- التوحبد     ب- تربية      ج- الرب      د- الربوبية

71- كلمة رب في الجملة الآتية بمعنى الله إلا ....

        ا- الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ    ج- فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ

        ب- فَأَنْسَاهُ الشَّيْطَانُ ذِكْرَ رَبِّهِ د- ألست بربكم

81- الدليل من القرآن على أن الإنسان مفطورين على التوحيد ....

        ا- فطرت الله التي فطر الناس عليها  ج- وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ

        ب- الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ     د- لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

91- الدليل من السنة على أن الإنسان مفطورين على التوحيد ....

        ا- مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ

        ب- خَمْسٌ مِنَ الْفِطْرَةِ تَقْلِيمُ الأَظَافِرِ وَقَصُّ الشَّارِبِ وَنَتْفُ الإِبْطِ وَحَلْقُ الْعَانَةِ وَالاِخْتِتَانُ

        ج- لا يزال أمر أمتي على الفطرة ما لم يؤخروا المغرب

        د- إِنَّمَا يَقْرَأُ خَلْفَ الإِمَامِ مَنْ لَيْسَ عَلَى الْفِطْرَةِ.

20- العبارة الصحيحة فيما يلي هي ....

        ا- الإقرار بتوحيد الربوبية لا يوجب الإقرار بتوحيد الإلوهية

        ب- الإقرار بتوحيد الربوبية لا يكفي إلا إذا كان معه الإقرار بتوحيد الألوهية

        ج- الإقرار بتوحيد الربوبية يكفي وينفع أن يكون صاحبه مسلما

        د- مشركي القريش كانوا منكرين بتوحيد الربوبية

12- العبارة الصحيحة فيما يلى هي …

        ا- المشركون ينكرون بوجود الله

        ب- المشركون يقرون بتوحيد الألوهية مع الإنكار بالألوهية

        ج- المشركون لا ينكرون بتوحيد الألوهية

        د- المشركون لا ينكرون بتوحيد الربوبية

22- توحيد الألوهية هو ........

        ا- إفراد الله في افعاله         ج- إفراد الله في أفعال العباد

        ب-إفراد الله في ذاته         د- إفراد العباد بافعال الله تعالى

32- إذا لم يتحقق توحيد الألوهية حصل ....

        ا- الإسلام    ب- الشرك    ج- الفطرة    د- توحيد الربوبية

42- توحيد الألوهية يسمى أيضا بـ.....

        ا- توحيد الملكية     ب- توحيد المحبة    ج-توحيد الحكمية    د- توحيد العبودية

25- معنى قول تعالى ﴿وَلَوْ أَشْرَكُوْا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ﴾

        ا- لا يقبل الله عمل المشرك  ج- لا يقبل الله العمل مع الرياء

        ب- يقبل الله العمل الصالح من المشرك     د- المشرك يقبل العمل الصالح

 

1.   ما معنى العقيدة لعةً واصظلاحاً؟

2.   ما أهمية العقيدة  الإسلامية!

3.   عرف توحيد الربوبية !

4.   اذكر الدليل على : تفرد الله بالرزق!

5.   بين مفهوم كلمة الرب في القرآن والسنة ؟

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SOAL AQIDAH  SMT GASAL 2011/2012M

 

الإمتجان العقيدة لنصف السنة للصف العاشر

إختر أصح الأجوبة بوضع علامة (×) على حرف الألف أو الباء أو الجيم أو الدال في ورقة الأجوبة

1- العقيدة لغة من كلمة عقد يعقد معناها .....

        ا- الإرتباط    ب- الرباط    ج-الربط       د- المربوط

2- العقيدة من حيث كونها علماً بمفهوم أهل السنة والجماعة تشمل على ....

        ا- الإيمان والغيبيات والنبوات والفقه ج- والغيبيات والنبوات والقدر والعبادات            ب- الإيمان والغيبيات والنبوات والقدر     د- التوحيد والغيبيات والنبوات والقدر وأصول الأحكام

3-  ليس من أسماء أخرى للعقيدة

        1- التوحيد   ب- السُّنَة     ج-أُصُول الدَين       د- الجهاد الأكبر

4- مصدر العقيدة الإسلامية .....

        ا- القرأن والسنة والعقل       ج- القرآن والسنة والإجماع

        ب- مقصورة على القرآن والسنة     د- القرآن والسنة والفطرة

5- العقل ليس مصدرا للعقيدة لأن ....

        ا- العقل قاصر وناقص        ج- العقيدة أمر عقلي

        ب- العقيدة الإسلامية موافق بالعقل د- العقيدة الإسلامية لا يوافق بالعقل

6- الشريعة تنقسم إلى ....

        ا- القسمين اثنين      ب- 3 أقسام ج- 4 أقسام  د- 5 أقسام

7- قوله تعالى ﴿فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا﴾ دليل على أن ......

        ا- العقيدة أساس يقوم عليه جميع الأعمال   ج- العمل الصالح أساس جميع الأعمال

        ب- العبادة تصح مع الشرك  د- من كان يرجو لقاء ربه فليشرك بعادته

8- حاجتنا إلى العقيدة الصحيحة فوق كل حاجة، لأن ......

        ا- العقيدة الصحيحة يحتاج إلى العلم        ج- لا سعادة للقلوب إلا بعبادة الله تعالى. 

        ب- العقيدة الصحيحة هي عقيدة الرسول   د- أكثر الناس ينحرف من العقيدة الصحيحة

9- قول النبي صلى الله عليه وسلم: « أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوْا أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله » يدل على .....

        ا- العقيدة أعظم الواجبات عل الناس ج- قتال الكافر واجب على كل المسلم

        ب- أمر الله نبيه أن يقاتل الكافر     د- الإسلام دين القتال

10- التوحيد من كلمة وحّد يوحّد معناه .....

        ا- عبادة الله وحده            ج- لا يشرك بالله شيئا

        ب- جعل الشيء واحدا      د- جعل الله شيئا

11- ينقسم التوحيد إلى .....

        ا- قسمين اثنين       ب- 3 أقسام ج- 4 أقسام  د- 5 أقسام

12- الاعتقاد الجازم بأَنَ اللّه رَب كلِّ شيء ومليكه وهو الخالق و مدبر العالم والمتصرف فيه هو تعريف توحيد

        ا- الملكية     ب- الخلقية   ج- الألوهية   د- الربوبية

13- نشأ الشيء من حال إلى حال التمام هو معنى ....

        ا- التوحبد     ب- تربية      ج- الرب      د- الربوبية

14- كلمة رب في الجملة الآتية بمعنى الله إلا ....

        ا- الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ    ج- فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ

        ب- فَأَنْسَاهُ الشَّيْطَانُ ذِكْرَ رَبِّهِ د- ألست بربكم

15- الدليل من القرآن على أن الإنسان مفطورين على التوحيد ....

        ا- فطرت الله التي فطر الناس عليها  ج- وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ

        ب- الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ     د- لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

16- الدليل من السنة على أن الإنسان مفطورين على التوحيد ....

        ا- مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ

        ب- خَمْسٌ مِنَ الْفِطْرَةِ تَقْلِيمُ الأَظَافِرِ وَقَصُّ الشَّارِبِ وَنَتْفُ الإِبْطِ وَحَلْقُ الْعَانَةِ وَالاِخْتِتَانُ

        ج- لا يزال أمر أمتي على الفطرة ما لم يؤخروا المغرب

        د- إِنَّمَا يَقْرَأُ خَلْفَ الإِمَامِ مَنْ لَيْسَ عَلَى الْفِطْرَةِ.

17- العبارة الصحيحة فيما يلي هي ....

        ا- الإقرار بتوحيد الربوبية لا يوجب الإقرار بتوحيد الإلوهية

        ب- الإقرار بتوحيد الربوبية لا يكفي إلا إذا كان معه الإقرار بتوحيد الألوهية

        ج- الإقرار بتوحيد الربوبية يكفي وينفع أن يكون صاحبه مسلما

        د- مشركي القريش كانوا منكرين بتوحيد الربوبية

18- العبارة الصحيحة فيما يلى هي …

        ا- المشركون ينكرون بوجود الله

        ب- المشركون يقرون بتوحيد الألوهية مع الإنكار بالألوهية

        ج- المشركون لا ينكرون بتوحيد الألوهية

        د- المشركون لا ينكرون بتوحيد الربوبية

19- توحيد الألوهية هو ........

        ا- إفراد الله في افعاله         ج- إفراد الله في أفعال العباد

        ب-إفراد الله في ذاته         د- إفراد العباد بافعال الله تعالى

20- إذا لم يتحقق توحيد الألوهية حصل ....

        ا- الإسلام    ب- الشرك    ج- الفطرة    د- توحيد الربوبية

21- توحيد الألوهية يسمى أيضا بـ.....

        ا- توحيد الملكية     ب- توحيد المحبة    ج-توحيد الحكمية    د- توحيد العبودية

22- موضوع دعوة جميع الرسل من أولهم إلى آخرهم هو

        ا- العدل بين الناس   ب- توحيد الربوبية    ج- توحيد الألوهية   د- الجنة

23- معنى قول تعالى ﴿وَلَوْ أَشْرَكُوْا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ﴾

        ا- لا يقبل الله عمل المشرك  ج- لا يقبل الله العمل مع الرياء

        ب- يقبل الله العمل الصالح من المشرك     د- المشرك يقبل العمل الصالح

24- معنى كلمة لا إله إلا الله هي ....

        ا- لا معبود إلا الله            ج- لا خالق بحق إلا الله    

        ب- لا خالق إلا الله          د- لا معبود بحق إلا الله

25- العبارة الأتية من عناصر معنى شهادة أن محمد رسول الله إلا

        ا- تقديم قول أحد على قوله ج- تصديقه فيما أخبر

        ب- طاعته فيما أمر           د- اكتفاء العبادة بما شرع

26- أركان كلمة لا إله إلا الله .....

        ا- واحد       ب- اثنان     ج- ثلاثة      د- أربعة

27- من اركان الشهادة أن لا إله إلا الله هو النفي، معناه

        ا- إبطال الشرك بجميع أنواعه        ج- إبطال الأعمال بغير ما شرعه الله

        ب- يوجب الكفر بعبادة الله  د- يوجب القبول بالعبادة من دون الله

28- معنى قوله تعالى ﴿قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ ﴾....

        ا- نفي التفريط                ب- نفي الإفراط      ج- نفي التكفير       د- نفي الجهالة

29- من الإفراط هي….

        ا- الإعتقاد أن للرسول صفة الألوهية

        ب- الإعتقاد أن الرسول هو خاص للعرب

        ج- الإعتقاد أن الرسول هو بشر كسائر البشر

        د- الإعتقاد أن للرسول صفة الْمَلَكِ

30- ومعنى الرسول في أركان الشهادة أن محمدا رسول الله....

        ا- أنه مبعوث إلى الناس كافة ج- أن له صفة من صفات الألوهية

        ب- أنه رسول إلى العرب     د-  أن له حق في تفريج الكربات

31- هذه الكلمة من شروط الشهادة أن لا إله إلا الله، إلا ...

        ا- الإخلاص  ب- الإسلام  ج- المحبة    د- العلم

32- المراد بالصدق كإحدى شروط شهادة لا إله إلا الله : أن يقول هذه الكلمة....

        ا- بقول اللسان               ج- مصدقا بما قلبه

        ب- مع العلم بمعناها                 د- تصفية القول من الشرك

33- الدليل على المحبة كإحدى شروط الشهادة ....

        ا- ومن الناس من يتخذ من دون الله أندادًا يحبونهم كحب الله

        ب- إن الله يحب التوابين ويحب المتطهرين

        ج- فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

        د- إِنَّ هَؤُلاءِ يُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ وَيَذَرُونَ وَرَاءَهُمْ يَوْماً ثَقِيلاً

34- نواقض الإسلام هي …

        ا- ما يذهب الإسلام من الشخص بعد وجوده

        ب- ما يثبت إسلام الشخص بعد إقراره للشهادتين

        ج- الحكم على ثبوت الإسلام بعد الشك

        د- الشك في الشخص أهو من الإ سلام أو الكفر

35-  هذه العبارة داخلة في نواقض اشهادتين إلا

        ا- الشرك في عبادة الله       ج- السحر            ج- الحكم على ثبوت الإسلام بعد الشك

        ب- من أبغض شيئاً مما جاء به الرسول      د- من قتل النفس بغير حقٍّ

36- من استهزأ بشيء من الإسلام ناقض الشهادتين لقوله تعالى....

        ا- وما هم بضارين به من أحد إلا بأذن الله ويتعلمون ما يضرهم ولا ينفعهم

        ب- قل أبالله وآياته ورسوله كنتم تستهزءون * لا تعتذروا قد كفرتم بعد إيمانكم

        ج- ومن يتولهم منكم فإنه منهم إن الله لا يهدي القوم الظالمين

        د- إنه من يشرك بالله فقد حرم الله عليه الجنة ومأواه النار وما للظالمين من أنصار

37- مظاهرة المشركين ومعاونتهم على المسلمين ، ناقض الشهادتين لقوله تعالى...

        ا- وتعاونوا على البر والتقوى ولا تعاونوا على الإثم والعدوان

        ب- قل أبالله وآياته ورسوله كنتم تستهزءون * لا تعتذروا قد كفرتم بعد إيمانكم

        ج- ومن يتولهم منكم فإنه منهم إن الله لا يهدي القوم الظالمين

        د- إنه من يشرك بالله فقد حرم الله عليه الجنة ومأواه النار وما للظالمين من أنصار

38- قوله تعالى ﴿أم لهم شركاؤا شرعوا لهم من الدين ما لم يأذن به الله ﴾ دليل على

        ا- أذن الله لعباده أن يتخذوا شريكا له

        ب- التحليل والتحريم يجوز بغير إذن الله

        ج- سؤال الله لعباده هل لهم شركاء له في الدين؟

        د- نهي التحليل والتحريم بدون الدليل من الكتاب والسنة

39- من قبل تشريعا غير تشريع الله فهو

        ا- الصبر      ب- المذنب  ج- المشرك   د- المتقين

40- معنى الإعراض عن دين الله هو ….

        ا- لا يقبل الإسلام            ج-  لا يعمل بالنوافل

        ب- لا يتعلمه ولا يعمل به    د- العمل بغير علم

 

أجب عن هذه الأسئلة

1- لماذا حاجتنا إلى العقيدة الصحيحة فوق كل حاجة ؟

2- اكتب أية تدل على أن العقيدة الإسلامية تحقق الأمن و السعادة!

3- ما معنى شهادة أن لا إله إلا الله ؟

4- ما أهمية العقيدة  اإسلامية!

5- لماذا نواقض الشهدتين يسمى أيضا بنواقض الإسلام ؟

 

 

 

KISI-KISI PENULISAN SOAL

MAPEL                                  :  AQIDAH AKHLAQ

ALOKASI WAKTU              : 90 (MENIT)

JUMLAH SOAL                    : 40 PILIHAN GANDA, 5 URAIAN

BAHAN KELAS                   : X MA

SEMESTER                            : GASAL

TAHUN AJAR                       : 2011/2012

 

NO

STANDAR KOMPOTENSI

MATERI

JUMLAH SOAL

KOPETENSI DASAR

jawaban                                jja

1.

Memahami Aqidah

AQIDAH

 

11 .  Menjelaskan pengertian  aqidah

1,ج

 

 

 

 

1.2Menjelaskan m asalah Pokok Aqidah

2.ب

 

 

 

 

1.3 Menyebutkan nama Lain Aqidah

3.د

 

 

 

 

1.4 menyebutkan pembagian aqidah

4.ب

 

 

 

 

1.5 menyebutkan sumber  aqidah

5.ب

 

 

 

 

1.6 menyebutkan pentingnya  aqidah Islam

6.أ

 

 

 

 

 

7.ج

2

Memahami Tauhid Rububiyah

Tauhid Rububiyah

 

2.1 Menjelaskan  Pengertian Tauhid

8.ج

 

 

 

 

2.2 menyebutkan Macam –macam Tauhid

9.أ

 

 

 

 

2.3 Menjelaskan Pengertian Tauhid Rububiyah

10.ب

 

 

 

 

2.4 Menjelaskan Tauhid Rububiyah dan Fithroh

11.ب

 

 

 

 

2.5 Menjelaskan usrik dan Rububiyah

12.د

 

 

 

 

 

13.ج

3

Memahami Tauhid Uluhiyah

Tauhid Uluhiyah

 

3.1 menjelaskan Pengertian  Tauhid Uluhiyah

14.أ

15. ا

 

 

 

 

3,.2 menjelaskan Ma'na Syahadataini

16.أ

 

 

 

 

3.3 menyebutkan Rukun  Syahadataini

17.ب

أ

 

 

 

3.4 menyebutkan Syarat  Syahadataini

18.د

 

 

 

 

3.5 menyebutkan Tuntutan  Syahadataini

19.ج

 

 

 

 

3.6 menyebutkan Pembatal  Syahadataini

20.د

 

 

 

 

 

21.د

 

 

 

 

 

22.ج

 

 

 

 

 

23.أ

 

 

 

 

 

24.أ

 

 

 

 

 

25.أ

 

 

 

 

 

26.ب

 

 

 

 

 

27.أ

 

 

 

 

 

28.أ

 

 

 

 

 

29.   ج

 

 

 

 

 

30.أ

 

 

 

 

 

31بد

 

 

 

 

 

32.ج

 

 

 

 

 

33.ب

 

 

 

 

 

34.أ

 

 

 

 

 

35.د

 

 

 

 

 

36.ب

 

 

 

 

 

37.ج

 

 

 

 

 

38.د

 

 

 

 

 

39.ج

 

 

 

 

 

40.ب