يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ
وَٱلَّذِينَ أُوتُوا ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ
وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Allah
akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang
diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang
kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Dalam Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an disebutkan, bahwa pada
ayat ini, Allah
memerintahkan agar orang-orang beriman mengembangkan adab yang baik, yaitu
saling memberikan tempat dalam pertemuan sebagai tanda saling menghormati dan menumbuhkan
persaudaraan.
Allah juga meninggikan derajat orang yang beriman, berilmu, dan
beramal dengan ilmunya itu.
Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, berkata: “Orang-orang yang berilmu mempunyai derajat
sebanyak tujuh ratus kali
di atas derajat orang-orang mukmin. Jarak
di antara derajat ini terbentang sejauh perjalanan selama lima ratus tahun.”
Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang Allah kehendaki
dengan kebaikan pada dirinya, maka Allah memberinya pengetahuan agama.” (HR. Muslim)
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, termasuk semut
dalam lobangnya, juga ikan paus, benar-benar bersholawat kepada orang-orang
yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” ( HR.
Tirmidzi)
Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Sesungguhnya, orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang
lain, maka setiap hewan yang melata akan memohonkan ampun baginya, termasuk
pula ikan paus di lautan.”
Jika ada yang bertanya: “Bagaimana mungkin ikan paus memohonkan ampun
orang yang mengajarkan ilmu?” Karena
manfaat ilmu meliputi segala sesuatu, termasuk ikan paus. Orang yang berilmu tahu yang boleh dilakukan
dan tahu yang dilarang. Orang yang berilmu
pasti akan memberi
nasehat agar santun kepada segala sesuatu, termasuk kepada hewan juga ikan
paus. Karena itu Allah mengilhamkan kepada setiap makhluk yaitu permohonan bagi orang yang berilmu, sebagai balasannya.
Hendaknya
orang yang berilmu menghindari perdebatan yang tidak mendatangkan
manfaat. Karena, jika ilmu yang dimilikinya
digunakan untuk
mendebat yang tujuannya mencari kemenangan dan pujian, maka
hal tersebut
merupakan akhlaq yang tercela.
Seorang berilmu yang suka berdebat dapat terjerumus pada
sifat ujub
(mengagumi diri sendiri) dan riya’ (memamerkan
amal supaya dipuji manusia, tidak diniatkan beramal untuk Allah SWT). Umurnya yang
dihabiskan untuk menimba ilmu bisa berlalu dengan sia-sia karena tidak ada
kemanfaatan untuk akhiratnya.
Rasulullah Shallahu’alaihi wasallam bersabda: “Orang yang paling keras adzabnya pada hari kiamat adalah
orang yang berilmu, namun ilmunya tidak bermanfaat baginya.” (
HR. At Thobroni, Ibnu
Adi Al Baihaqi)
Seorang
murid seyogyanya harus
belajar adab sebelum mencari ilmu. Diantara
adab murid terhadap
guru adalah murid harus membersihkan jiwanya dulu dari akhlaq-akhlaq yang hina
dan sifat-sifat yang tercela. Sebab, ilmu adalah ibadah hati. Dia harus melepaskan diri dari
berbagai kesibukan yang lain. Ketika
pikiran bercabang, maka kemampuan menggali ilmu menjadi terbatas.
Para salaf lebih mementingkan ilmu daripada hal-hal yang lain. Begitu juga seorang murid yang sedang belajar
ilmu, jangan ada niat tampil beda dengan orang lain. Karena, niat ini bisa mengacaukan pikirannya dan
membuyarkan konsentrasinya.
Seyogyanya, murid
senantiasa mengambil suatu ilmu yang terbaik, sebab umurnya tidak mungkin
mendalami semua pengetahuan. Ilmu yang lebih utama adalah ilmu yang memiliki
hubungan dengan ilmu akherat. Karena ilmu tersebut akan membantu kita untuk menguatkan
iman.
Rasulullah pernah memberikan kesaksian
kepada Abu Bakar As Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu tentang ilmu. Rasullullah Shallahu’alaihi
wasallam bersabda:
“Abu Bakar tidak mengalahkan kalian karena banyak puasa dan tidak pula karena sholat, tetapi karena sesuatu yang bersemayam
dalam dadanya.”
Beberapa adab
guru dalam menjalankan tugasnya adalah
menyayangi murid dan menuntunnya ke jalan yang benar, sebagaimana dia
menyayangi anaknya sendiri. Seorang guru tidak mengharapkan balasan dan ucapan
terima kasih. Seorang guru berharap, supaya 30 tahun kedepan, murid yang ia
ajar menjadi pemimpin yang amanah, yang mau mendoakan sepeninggalnya.
Seorang guru mengajarkan
ilmu untuk
mengharap ridho
dari Allah SWT. Seorang guru
tidak menampakkan dirinya
lebih hebat dari murid, walau sebenarnya murid lebih hebat dalam hal yang lain.
Seorang guru mempersiapkan hati murid-muridnya untuk lebih ber-taqarrub kepada Allah dengan cara menanam
ilmu dalam hatinya. Seorang guru memperingatkan murid dari akhlaq
yang buruk dengan cara yang lunak dan halus.
Seorang guru hendaknya mengetahui tingkat pemahaman murid dan kemampuan
dirinya.
Seyogyanya, seorang guru
berbuat sesuatu sesuai dengan apa yang dikatakan. Sebagaimana
termaktub dalam firman Allah SWT:
كَبُرَ مَقْتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُوا
مَا لَا تَفْعَلُونَ
“Amat
besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu
kerjakan.” (QS. As-Shaff: 3)
Berkata Abdullah bin Sallam: Maka Rasulullah Shallahu’alaihi wasallam membacakan
ayat tersebut kepada kami. Ini adalah hadits yang disebutkan Ibnu Katsir dalam
tafsirnya. Kemudian
Ibnu Katsir berkata: “Sesungguhnya, ucapan yang tanpa pembenaran dengan amal,
menjadi penyebab celaan dan sesuatu yang tidak disenangi, ia adalah sebesar-besar
sesuatu yang dibenci dan membuat kemurkaan.”
Maka marilah memohon Akhlak yang baik dan berlindung dari
akhlak yang buruk. Salah satu do’a yang dianjutkan
yakni:
اللَّهُمَّ حَسَّنْتَ خَلْقِي فَحَسِّنْ خُلُقِي
“Ya Allah, sebagaimana
Engkau baguskan badanku, perbaikilah akhlakku.” (HR. Ahmad,
1/403, Ibnu Hibban, no. 959)
Do’a ini bukanlah do’a khusus ketika akan bercermin. Akan tetapi bisa dibaca kapan saja.
Syaikh al-Albani Rahimahullah berkata setelah menyebutkan
riwayat-riwayat hadits yang mengkhususkan doa tersebut saat bercermin.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ
الْأَخْلَاقِ وَالْأَعْمَالِ وَالْأَهْوَاءِ
“Ya Allah, aku berlindung
kepada-Mu dari akhlak-akhlak yang mungkar, dari amalan-amalan yang mungkar, dan
dari hawa nafsu yang menyimpang.” (HR.
at-Tirmidzi, no. 3591, dinilai sahih oleh al- Albani
dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi, 3/473)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar