Belajar Menyembunyikan Amal
Tatik Umamah, S.Pd.I
مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ
بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ
“Siapa
yang memperdengarkan amalanya (kepada orang lain), Allah akan memperdengarkan
(bahwa amal tersebut bukan untuk Allah). Dan siapa saja yang ingin mempertontonkan
amalnya, maka Allah akan mempertontonkan aibnya (bahwa amalan tersebut bukan
untuk Allah).” (HR Bukhari)
Di
jaman penuh dengan kemajuan teknologi seperti saat ini, sering kali kita
tergoda untuk membagikan setiap aktifitas kebaikan di media sosial. Meski niat
yang dimiliki berbeda-beda, ada yang memang ingin memotivasi orang lain untuk
mengikuti, untuk berbagi kebahagiaan. Apapun itu, kita harus senantiasa menjaga
hati dari berbagai niat yang tidak ikhlas, terutama apabila membagikan sesuatu
yang berkaitan dengan masalah ibadah diri. Sebab, bisa jadi bisikan setan
datang berupa syirik kecil atau riya', yang mana sangat dikhawatirkan oleh
Rasulullah SAW jika menimpa umatnya.
Dikisahkan
oleh Imam Muslim dari Abu Hurairoh RA, bahwa Rasulullahu SAW bersabda, “Sesungguhnya orang yang pertama yang diadili pada hari kiamat adalah
orang yang mati di jalan Allah (dalam perang fi sabilillah). Orang itu
didatangkan lalu Allah mengingatkannya tentang nikmat –nikmat yang telah Allah
diberikan d ia pun mengakuinya. Allah bertanya kepadanya, 'Apa yang kamu lakukan dengan nikmat-nikmat itu?' ia
menjawab, 'Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.'
Allah berfirman: 'Engkau dusta, Tapi engkau malakukan itu orang bahwa adalah seorang pemberani. Memang dan itu
sudah dikatakan dikatakan orang. Kemudian Allah merintahkan kepada Malaikat
agar menyeret orang itu pada wajahnya
lalu dilemparkan ke dalam neraka.
Kemudian
didatangkan pula seorang laki-laki yang telah diberi Allah kelapangan dan harta
yang banyak. Allah mengingatkannya tentang nikmat-nikmat yang telah
diberikannya dan iapun mengingatnya. Allah bertanya kepadanya, 'Apa yang
kamu lakukan dengan nikmat-nikmat itu?'
ia menjawab: Saya tidak meninggalkan satu jalanpun yang engkau sukai
menginfakkan harta di sana hanya karenaMu. Allah menjawab, engkau telah
berdusta . tetapi engkau melakukan itu hanya demi mengharap pujian orang ,
supaya dikatakan bahwa engkau adalah seorang dermawan, dan itu sudah dikatakan
orang. Kemudian Allah merintahkan kepada Malaikat agar menyeret orang itu pada
wajahnya lalu dilemparkan ke dalam
neraka..
Lalu
didatangkan pula seorang laki-laki yang mempelajari ilmu, mengajarkannya dan
membaca Al Qur’an. Allah mengingatkannya tentang nikmat-nikmat yang telah diberikannya
dan iapun mengingatnya. Allah bertanya kepadanya, 'Apa yang kamu lakukan dengan segala nikmat itu?' ia
menjawab, saya belajar ilmu dan mengajarkannya, serta membaca Al qur’an
karenaMu. Allah menjawab, engkau dusta, tetapi engkau belajar dengn maksud
supaya dikatakan olaeh orang-orang bahwa engkau adalah orang alim, dan
engkau membaca Al qur’an dengan maksud
agar dikatan sebagai qori’. Kemudian Allah merintahkan kepada Malaikat agar
menyeret orang itu pada wajahnya lalu
dilemparkan ke dalam neraka.”
Al-Hafidz
Ibnu Hajar al-Asqolani menjelaskan tentang
riya’ ialah menampakkan ibadah dengan tujuan dilihat manusia, lalu
mereka memuji pelaku amalan itu. Sementara Imam Al-Ghazali, menjelaskan
bahwa riya’ adalah mencari kedudukan
pada hati manusia dengan memperlihatkan kepada mereka hal-hal kebaikan.
Al
Hasan Al Bashri mengatakan, orang yang berbuat riya’ itu pada hakekatnya
ingin mengalahkan taqdir Allah SWT padanya. Ia adalah orang jahat. Ia ingin
orang menyebutnya orang yang sholeh. Bagaimana mungkin orang-orang akan
mengatakan demikian, sementara ia menempati kedudukan yang buruk di sisi Allah
SWT.
Umar
bin Khotthob RA pernah melihat seorang laki-laki menekuk lehernya, beliau
berkata, ”Wahai orang yang menekuk lehernya, tegakkan lehermu. Sesungguhnya
khusyu’ itu bukan di leher tapi ada di dalam hati”.
Abu
Umamah Al Bahily RA pernah berjalan melewati seorang laki-laki yang sedang
bersujud di masjid sambil menangis dan berdoa. Abu Umamah Al Bahily RA berkata
kepadanya, “Wahai kamu alangkah baiknya kalau kamu melakukannya di dalam
rumahmu”.
Ali
bin abi Tholib RA berkat, ” Orang yang berbuat riya’ itu ada tiga tandanya:
jika ia sendirian ia malas beramal, jika ia di keramaian ia rajin dan jika di
puji ia meningkatkan amalnya sedangkan jika dicela ia menguranginya”.
Jadi riya’ adalah melakukan amal kebaikan bukan
karena niat ibadah kepada Allah, melainkan demi manusia dengan cara
memperlihatkan amal kebaikannya kepada orang lain supaya mendapat pujian atau
penghargaan, dengan harapan agar orang lain memberikan penghormatan padanya.
Ada
dua macam riya’ yaitu riya’ kholish dan
riya’ syirik . Yang pertama adalah
riya’ kholish yaitu melakukan ibadah semata-mata hanya untuk mendapatkan
pujian dari manusia. Dan yang kedua adalah riya’ syirik yaitu melakukan
perbuatan karena niat menjalankan perintah Allah, dan juga karena untuk
mendapatkan pujian dari manusia, dan keduanya bercampur.
Riya’
bisa muncul didalam diri seseorang pada saat setelah atau sebelum suatu ibadah
selesai dilakukan.
Menurut
Al Imam an Nawawi Rahimahullah ada amalan yang bukan termasuk amalan
riya’, Contohnya yaitu:
1.
Rajin beribadah ketika bersama
orang shalih. Hal ini terkadang menimpa ketika seseorang berkumpul dengan
orang-orang shaleh sehingga lebih semangat dalam beribadah. Hal ini tidak
termasuk riya. Ibnu Qudamah mengatakan, terkadang seseorang menginap di rumah
orang yang suka bertahajud, lalu ia pun ikut melaksanakan tahajud lebih lama.
Padahal biasanya ia hanya melakukan shalat malam sebentar saja. Pada saat itu, ia
menyesuaikan dirinya dengan mereka. Ia pun ikut berpuasa ketika mereka
berpuasa. Jika bukan karena bersama orang yang ahli ibadah tadi, tentu ia tidak
rajin beribadah seperti ini.
2.
Menyembunyikan dosa. Kewajiban
bagi setiap muslim apabila berbuat dosa adalah menyembunyikan dan tidak
menampakkan dosa tersebut. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Setiap umatku akan
diampuni kecuali orang yang menampakkan perbuatan dosanya. Di antara bentuk
menampakkan dosa adalah seseorang di malam hari melakukan maksiat, ia menceritakan kepada orang lain, padahal Allah sudah menutup aibnya.
Adapun
akibat buruk dari perbuatan riya’ adalah terhapusnya pahala amal baik,
sebagaimana dijelaskan dalam Q.S Al Baqarah : 264
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟
لَا تُبْطِلُوا۟ صَدَقَٰتِكُم بِٱلْمَنِّ وَٱلْأَذَىٰ كَٱلَّذِى يُنفِقُ مَالَهُۥ رِئَآءَ
ٱلنَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۖ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ
صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُۥ وَابِلٌ فَتَرَكَهُۥ صَلْدًا ۖ لَّا يَقْدِرُونَ
عَلَىٰ شَىْءٍ مِّمَّا كَسَبُوا۟ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْكَٰفِرِينَ
“Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu
dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang
menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada
Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di
atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia
bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka
usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”( Al Baqarah: 264)
Orang
yang berbuat riya’ akan mendapat dosa besar. Mengapa demikaian? Karena riya’ termasuk perbuatan syirik, sedang
syirik adalah kedholiman yang yang paling besar
Orang
yang berbuat riya’ tidak selamat dari bahaya kekafiran karena riya’ sangat
dekat hubungannya dengan sikap kafir
Marilah
kita berdoa agar terhindar dari perbuata riya’ yaitu dengan melatih diri untuk
beramal secara ikhlas, sekecil apa pun yang dilakukan , juga mengendalikan diri
agar tidak merasa bangga apabila ada orang lain memuji amal baik yang dilakukan.
Selain itu juga menahan diri agar tidak emosi apabila ada orang lain yang
meremehkan kebaikan yang dilakukan. Lalu, tidak suka memuji kebaikan orang lain
secara berlebih-lebihan karena hal itu dapat mendorong pelakunya menjadi riya’
atas kebaikannya. Dan yang terakhir, melatih
diri untuk bersedekah secara sembunyi-sembunyi untuk menghindari
sanjungan orang lain
Semoga
Allah memberi ma’unah kepada kita, keikhlasan dalam beramal, berkata, bergerak
dan berdiam. Dan dijauhkan dari sifat riya’
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ
بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ
"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung
kepadaMu dari perbuatan menyekutukanMu di saat aku mengetahui dan aku mohon
ampunan dari sesuatu yang aku tidak mengetahui."
Aamiin..
Sumber:
1. Fadli
Bahri Lc, 2002, Ensiklopedi Muslim Minhajul Muslim, Jakarta Timur, Penerbit
darul fala
2. Abu
Zufar Imtihan asy Syafi’i, 2010, Dosa-Dosa Besar, Penerbit Pustaka Aofah, Solo
3. https://muslim.or.id/5470-riya-penghapus-amal.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar