Ibnu Sirin berkata: " Aku tidak akan
mendengki seorangpun karena urusan dunia, sebab jika dia calon ahli jannah,
maka bagaimana mungkin aku mendengkinya karena urusan dunia padahal dia
berjalan menuju jalan Jannah. Jika dia calon ahli Neraka, maka bagaimana
mungkin aku mendengkinya karena urusan dunia, padahal dia menuju jalan Neraka.
Siapa Muhammad biin Sirin
Ketika Umar bin Hubairah
al-Farazi yang diangkat menjadi gubernur Irak,
Beliau memberi hadiah kepada ibnu Sirin sekantong uang berisi 3000 dirham dari kas Negara, tapi sama sekali tak disentuhnya. Bertanyalah anak saudaranya, “Apa yang menghalangimu untuk menerima hadiah dari amir itu?” Beliau berkata, “Dia memberi karena mengira aku orang baik. Bila benar aku baik, tidak pantas aku mengambil uang itu. Namun jika aku tidak seperti yang ia duga, tentu lebih layak lagi untuk tidak mengambilnya…”
Beliau memberi hadiah kepada ibnu Sirin sekantong uang berisi 3000 dirham dari kas Negara, tapi sama sekali tak disentuhnya. Bertanyalah anak saudaranya, “Apa yang menghalangimu untuk menerima hadiah dari amir itu?” Beliau berkata, “Dia memberi karena mengira aku orang baik. Bila benar aku baik, tidak pantas aku mengambil uang itu. Namun jika aku tidak seperti yang ia duga, tentu lebih layak lagi untuk tidak mengambilnya…”
Beliau mendengar seseorang
memaki Hajjaj bin Yusuf setelah matinya, beliau mendekati orang itu dan
berkata, “Tahanlah wahai putra saudaraku, Hajjaj sudah kembali ke sisi Rabbnya.
Saat engkau datang kepada Rabb-mu, akan kau dapati bahwa dosa terkecil yang kau
lakukan di dunia lebih kau sesali daripada dosa yang dilakukan Hajjaj.
Masing-masing dari kalian akan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.”
Ujian ibnu Sirin adalah peristiwa di mana beliau membeli minyak seharga 40.000 dirham sebanyak satu bejana penuh dibayar belakangan. Ketika diperiksa ternyata ada bangkai tikus yang sudah membusuk di dalamnya. Dia berpikir, “Minyak ini ditampung dalam satu wadah dan najisnya tidak hanya di sekitar bangkai itu. Jika aku kembalikan kepada penjualnya, pasti akan dijualnya kepada orang lain.” Maka dibuangnya semua minyak di bejana tersebut. Ini terjadi di saat perniagaannya rugi cukup besar. Akhirnya beliau terbelit utang, pemilik minyak menagih utangnya sedangkan beliau tak mampu membayarnya, lalu orang itu mengadukan persoalan tersebut kepada yang berwenang. Akhirnya diperintahkan agar beliau dipenjara sampai bisa mengembalikan utangnya.
Cukup lama beliau dipenjara,
hingga penjaga merasa kasihan karena mengetahui keteguhan agama dan
ketakwaannya dalam ibadah. Dia berkata, “Wahai Syaikh, pulanglah kepada
keluarga bila malam tiba dan kembalilah kemari pada pagi harinya. Anda bisa
melakukan itu sampai bebas nanti.” Beliau menolak, “Tidak, Demi Allah aku tidak
akan melakukan itu.” Penjaga berkata, “Mengapa?” Beliau menjawab, “Agar aku
tidak membantumu mengkhianati pemerintah.”
Ketika Anas bin Malik
sakit keras, beliau berwasiat agar yang memandikan jenazahnya kelak adalah Muhammad
bin Sirin, sekaligus menyalatkannya. Tapi Ibnu Sirin masih berada di dalam
tahanan.
Hari di mana Anas wafat,
orang-orang mendatangi wali dan menceritakan tentang wasiat sahabat Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam dan memohonkan izin untuk Muhammad bin Sirin agar
bisa melaksanakan wasiatnya. Namun beliau berkata, “Aku tidak akan keluar
kecuali jika kalian menginginkan aku kepada orang yang aku utangi, bukankah aku
ditahan karena belum mampu membayar utangnya?”
Orang yang diutangi pun
memberikan izin sehingga dia bisa keluar dari tahanannya. Setelah selesai
memandikan, mengafani, dan menyalatkan jenazah Anas radhiyallahu ‘anhu,
beliau langsung kembali lagi ke penjara tanpa sedikit pun mengambil kesempatan
untuk mampir menengok keluarganya.
Mendungan 28.12.2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar