Pernah suatu ketika, saat liburan panjang menyapa, aku
menceritakan segala hal yang terjadi di tanah perantauan kepada seorang wanita
pemilik wajah teduh, ibu. Dengan penuh kesabaran dan antusias, ia mendengarkan
ocehanku dengan sesekali menanggapi.
Hingga tiba pada suatu perbincangan yang tak membuat kami
tidak berada dalam satu pendapat; tentang kehidupan sosial, yang entah tersebab
apa, aku merasa sedikit merasa kesal. Bahkan, sempat terbesit dalam hati; 'ibuk
sih nggak pernah ngerasain kehidupan di pondok (kayak aku)'. Dan itulah titik
terburuk yang pernah aku alami, merasa lebih baik dari ibu. Astaghfirullah :(
Padahal, sungguh, walaupun ibu tak mengecap kehidupan pondok enam tahun seperti
yang pernah aku rasakan, tak pernah hidup satu kamar bebarengan dengan
kawan-kawan yang lainnya, hidup dengan amanah untuk belajar dan mengurusi
organisasi, tapi sungguh kehidupan beliau saat kecil jauh lebih berwarna dan
bermakna.
Beliau memang menuntut ilmu di sebuah pondok di kota
magelang, tapi tersebab berbagai alasan, ibu harus memilih 'nglaju', pulang
pergi setiap harinya, menempuh jarak yang begitu jauh. Menyusuri pematang
sawah, rel kereta api, juga tanah-tanah kosong tanpa bangunan; berangkat saat
matahari belum muncul sempurna, dan pulang saat matahari tepat berada di
tengah, puncak teriknya.
Lihatlah wajahnya yang terlihat gelap itu, hasil dari
paparan sinar matahari yang langsung terbasuh air wudhu sholat dzuhur.
Belum selesai. Ba'da sekolah bukannya menuju kasur untuk
tidur siang, beliau masih harus mendatangi rumah tetangga, bekerja sebagai
pengerajin sapu-tersebab desanya yang masyhur karena kerajinan sapunya-, atau
menuju sawah membantu 'mbah kakung dan mbah putri'.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar