Kamis, 27 Desember 2018

Bintu Umamah menulis:

Pernah suatu ketika, saat liburan panjang menyapa, aku menceritakan segala hal yang terjadi di tanah perantauan kepada seorang wanita pemilik wajah teduh, ibu. Dengan penuh kesabaran dan antusias, ia mendengarkan ocehanku dengan sesekali menanggapi.
Hingga tiba pada suatu perbincangan yang tak membuat kami tidak berada dalam satu pendapat; tentang kehidupan sosial, yang entah tersebab apa, aku merasa sedikit merasa kesal. Bahkan, sempat terbesit dalam hati; 'ibuk sih nggak pernah ngerasain kehidupan di pondok (kayak aku)'. Dan itulah titik terburuk yang pernah aku alami, merasa lebih baik dari ibu. Astaghfirullah :( Padahal, sungguh, walaupun ibu tak mengecap kehidupan pondok enam tahun seperti yang pernah aku rasakan, tak pernah hidup satu kamar bebarengan dengan kawan-kawan yang lainnya, hidup dengan amanah untuk belajar dan mengurusi organisasi, tapi sungguh kehidupan beliau saat kecil jauh lebih berwarna dan bermakna.
Beliau memang menuntut ilmu di sebuah pondok di kota magelang, tapi tersebab berbagai alasan, ibu harus memilih 'nglaju', pulang pergi setiap harinya, menempuh jarak yang begitu jauh. Menyusuri pematang sawah, rel kereta api, juga tanah-tanah kosong tanpa bangunan; berangkat saat matahari belum muncul sempurna, dan pulang saat matahari tepat berada di tengah, puncak teriknya.
Lihatlah wajahnya yang terlihat gelap itu, hasil dari paparan sinar matahari yang langsung terbasuh air wudhu sholat dzuhur.

Belum selesai. Ba'da sekolah bukannya menuju kasur untuk tidur siang, beliau masih harus mendatangi rumah tetangga, bekerja sebagai pengerajin sapu-tersebab desanya yang masyhur karena kerajinan sapunya-, atau menuju sawah membantu 'mbah kakung dan mbah putri'.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar