Kamis, 27 Desember 2018

MASA KECIL HINGGA REMAJA


Tatik Umamah adalah nama yang diberikan oleh kedua orang tuaku saat aku lahir. Orang biasa memanggilku Tatik tetapi ada juga yang memanggilku Um. Sementara ibuku memanggilku Tik. Di pondok sebagian santri memanggilku mamah. Aku tidak pernah menolak atau marah dengan panggilan yang berbeda-beda itu. Yang penting masih ada kaitannya dengan nama atau diriku sebagai perempuan dan tidak bermaksud memperolok diriku. Aku lahir pada tanggal 16 April 1967 dari pasangan suami istri bernama Burhan (almarhum) dan Saniyatun . Aku anak ke dua dari 6 bersaudara. Kami tinggal di sebuah dusun kecil bernama Keprekan, Desa bojong, yang berada di wilayah Magelang Jawa Tengah. Satu kecamatan dengan Pondok Pesantren Pabelan, yaitu Mungkid.
Pendidikan formalku dimulai dari Sekolah Dasar Negeri (SDN) Bojong 1 dan lulus pada tahun 1980. Setelah itu orang tuaku memasukkanku ke Pondok Pesantren Pabelan. Bisa dibilang aku menghabiskan masa remajaku di dalam pondok. Setelah menyelesaikan pendidikan selama 6 tahun plus dua tahun untuk mengabdi dengan berat hati aku harus meninggalkan pondok yang telah membesarkanku. Tahun 1987 aku sempat ikut ujian persamaan MTs dan Aliyah di sebuah sekolah yang ada di Meduro Bojong. Tahun 1988 aku berhasil mendapatkan ijazah Mts tapi karena aku mendapatkan panggilan untuk mengajar di pondok Assalam Solo dan harus meninggalkan Magelang, aku terpaksa tidak bisa melanjutkan pendidikan aliyahku dan gagal mendapatkan ijazah aliyah karena di DO.

INGIN BISA KULIAH
Karena tidak memiliki ijazah aliyah, aku jadi tidak bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Padahal keinginan untuk bisa kuliah terus menggebu-gebu di dalam dada.  Sampai akhirnya aku menikah pada tahun 1990,  keinginan untuk bisa kuliah tetap saja ada bahkan hingga anak-anakku lahir, keinginan itu tidak pernah padam.
Tahun 1991 anak pertamaku lahir, kami beri nama Ain-  -ur ro f i--- q Al   Fa    --- i     z . Selang tiga tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1994 anak keduaku pun lahir dan kami beri nama N  a  - b  ris M  ufti -A n N      afis. Karena ingin tetap bisa kuliah, setelah melahirkan anak kedua, aku mencoba mendaftarkan diri ke  salah satu sekolah Aliyah di Solo agar bisa mengikuti ujian persamaan. Sayangnya usahaku itu tidak membuahkan hasil karena batas untuk mengikuti  ujian persamaan Aliyah maksimal usianya harus 25 tahun sedangkan waktu itu umur ku sudah 27 tahun.
Pada tahun 1997, bertepatan dengan kelahiran anak ketigaku, As-- qina Hiday    --- ata An Na   -- jah, aku mendapat surat undangan kuliah di Fakultas Agama Islam dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Betapa Maha Pemurahnya Allah, karena tanpa aku duga Dia telah membukakan jalan menuju cita-cita yang selama ini aku impi-impikan. Dia telah mengabulkan doa dan harapanku dengan memberiku kesempatan untuk bisa kuliah. Aku terus bersyukur atas karunia yang begitu besar yang telah Allah berikan kepada diriku. Tanpa berfikir panjang lagi, aku langsung menyanggupinya dan segera melengkapi semua persyaratan administrasinya. Karena baru melahirkan, aku tidak bisa mengurusnya seorang sendiri. Aku meminta tolong kepada adik dan suami untuk membantuku memenuhi persyaratan-persyaratan yang diminta pihak UMS, termasuk meminta surat keterangan dari pondok Pesantren Pabelan.
Ketika suamiku menyerahkan persyaratan ke universitas, bagian pendaftaran bertanya,” Pak persyaratannya masih kurang, mana ijazah aliyahnya? Tanpa ijazah aliyah istri bapak tidak akan bisa diterima sebagai mahasiswa“.  Akhirnya suamiku menemui Dekan FAI dengan membawa bukti surat undangan kuliah yang ditujukan untuk diriku. Dekan FAI kemudian menulis sebuah memo yang isinya mengatakan bahwa Tatik Umamah diterima sebagai mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta karena telah memiliki ijazah pondok yang sederajat dengan ijazah Aliyah.
Sejak saat itu aku resmi menjadi seorang mahasiswa, sebuah status yang sudah lama aku idam-idamkan. Aku menjadi mahasiswa paling tua di Falkutasku sehingga teman-teman dan dosen-dosenpun memanggilku dengan sebutan ibu Tatik.
Meskipun disibukkan dengan berbagai aktivitas kuliah, aku masih tetap aktif mengajar. Agar kedua-duanya bisa aku jalani, aku lalu memberikan jadwal mengajarku kepada dosen-dosenku dan meminta ijin mereka untuk tidak bisa masuk secara full ke dalam ruang kuliah. Alhamdulillah Dosen-dosenku semuanya baik-baik. Mereka mau mengerti dan memaklumi kondisiku. Mereka tetap membolehkanku mengikuti  perkuliahan walau waktunya hanya tinggal 10 menit. Hal lain yang sangat menguntungkan dan mendukung adalah jarak dari Pondok Pesantren Assalam tempatku mengajar ke UMS tidak terlalu jauh. Hanya sekitar 500 meter saja. Hal ini memungkinkan bagi diriku untuk bisa bolak-balik  sesering mungkin antara Assalam dan UMS. Begitu ada jam mengajar yang kosong bersamaan dengan jadwal perkuliahan, aku langsung menuju ke kampus untuk kuliah. Begitu juga sebaliknya. Tetapi jika jadwalnya bentrok, aku lebih mengutamakan untuk mengajar. Bagiku mengajar sudah seperti panggilan jiwa yang tidak bisa aku lepaskan begitu saja. Mendidik dan menyebarkan ilmu ke murid-murid adalah tugas mulia. Apalagi jika kelak murid kita menjadi orang yang sukses dan berguna serta memanfaatkan ilmu yang kita berikan untuk hal-hal yang baik tentu kita bangga sebagai gurunya. Untuk mengejar ketertinggalanku, aku berusaha untuk menggunakan waktu kuliah yang ada secara maksimal.
Di awal kuliah, aku dipanggil menghadap Dekan. Beliau menyarankan agar aku mengikuti ujian persamaan SMA di Sukoharjo. Aku pun menerima sarannya. Melalui Depdikbud aku lalu mendaftar dan pada tahun itu juga aku mengikuti ujian persamaan. Alhamdulillah aku lulus dan mendapatkan ijazah SMA.
Baik mengajar maupun kuliah bagiku sama pentingnya. Karena itu aku berusaha agar keduanya tetap berjalan sebagaimana yang aku inginnya. Dan tanpa terasa tibalah saatnya untuk menulis skripsi. Pada masa-masa penulisan skripsi, semua masih berjalan sesuai yang aku harapkan. Perhatian dan pengertian dari dosen pembimbing sangat membantuku dalam menyelesaikan skripsiku. Dosen Pembimbingku pernah berkata, “Silakan ibu datang kapan saja, seluangnya waktu ibu. Saya akan tetap siap membantu”. Jadi bukannya aku yang menyesuaikan waktu dengan mereka tetapi merekalah yang menyesuaikan jadwal bimbingan dengan jadwal kegiatanku.
Suatu saat aku ada jadwal bimbingan skripsi. Tetapi karena ada tamu wali santri yang ingin bertemu denganku terpaksa aku menunda waktu bimbingan skripsiku. Benar saja, ketika aku sampai di ruang dosen, dosen pembimbingku sudah tidak berada di tempat. Aku lalu mengejarnya hingga ke tempat parkir kendaraan.  Alhamdulillah setelah aku beri penjelasan, beliau bersedia kembali ke kantor. Beliau sempat berkata, “kata ibu mau datang jam 11.00, saya sudah tunggu sesuai janji, tapi ibu belum datang juga,  maka saya memutuskan untuk pulang“. Akupun dengan kerendahan hati meminta maaf atas keterlambatan itu.
Setelah empat tahun berjalan dengan segala aktivitas sebagai istri, ibu,  guru dan juga kepala asrama putri, akhirnya aku bisa menyelesaikan kuliahku. Aku lulus dengan nilai IPK memuaskan. Segala rintangan dan halangan menjadi tak berarti. Betapa Maha Pemurahnya Allah, aku  terus berusaha untuk mensyukuri nikmat dan karunia yang telah aku dapat.  Wallahu fii ‘aunil ‘abdi maa kaanal ‘abdu fii ‘auni akhiihi. Aku juga bersyukur memiliki suami dan anak-anak yang baik dan penuh pengertian. Mereka sangat mendukung kegiatanku.
Tahun 2006 aku mendaftar menjadi mahasiswa Pasca sarjana di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Dan kemudian pada tahun 2008 aku mendapat sertifikat sebagai pendidik . Sejak  kecil aku bercita-cita ingin menjadi seorang guru besar, memakai kerudung dan berjalan sambil membawa kitab-kitab besar. Aku memang sangat terinspirasi oleh tokoh-tokoh pendidik dunia dan aku ingin bisa seperti mereka. Perhitunganku adalah, kalau bekerja sebagai guru atau seorang dosen, aku masih bisa mengerjakan pekerjaan yang lain misalnya mengurus rumah tangga atau kegiatan-kegiatan lainnya.

MASA SEKARANG
Sekarang ini, aku dan keluarga tinggal di sebuah rumah mewah alias mepet sawah, di lingkungan berbasis muslim. Alamatku di Jalan Hamzah 4, Windan Baru Rt 004 Rw 07, Desa Gumpang Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Propinsi Jawa Tengah. Hari-hariku aku isi dengan berusaha untuk menjadi pribadi yang baik. Sebagai seorang muslimah, tentu ingin selalu mengabdikan diri kepada Allah Subhana Ta’ala. Sebagai seorang istri dan seorang ibu, tentu ingin mengabdi kepada suami, mendidik dan membimbing anak-anak agar kelak mereka bisa menjadi orang-orang yang shaleh dan shalihah. Anak pertamaku sudah kuliah semester terakhir. Anak keduaku sudah semester tiga dan anak ketigaku sekarang duduk di bangku kelas dua SMA.
Sebagai seorang guru atau pendidik, aku ingin terus bisa mengabdikan diri untuk mencetak generasi yang berkualitas untuk agama dan bangsa. Karena itu aku masih tetap aktif mengajar di Assalam.  Sebagai bagian dari masyarakat, aku ingin mengabdikan diri kepada mereka. Harapanku, di sisa umurku ini aku masih terus bisa bermanfaat untuk orang banyak.

Inilah sekelumit pengalaman dan kisah perjalanan hidupku, semoga bermanfaat bagi yang membacanya. Satu hal yang aku yakini, jika ada kemauan insya Allah akan ada jalan. Senantiasa berusaha dan berdoa, maka Allah akan menunjukkan jalan itu. Jazakumullah bish shawab. Semoga berkah dan manfaah, aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar