Tatik Umamah adalah nama yang
diberikan oleh kedua orang tuaku saat aku lahir. Orang biasa memanggilku Tatik
tetapi ada juga yang memanggilku Um. Sementara ibuku memanggilku Tik. Di pondok
sebagian santri memanggilku mamah. Aku tidak pernah menolak atau marah dengan
panggilan yang berbeda-beda itu. Yang penting masih ada kaitannya dengan nama
atau diriku sebagai perempuan dan tidak bermaksud memperolok diriku. Aku lahir
pada tanggal 16 April 1967 dari pasangan suami istri bernama Burhan (almarhum)
dan Saniyatun . Aku anak ke dua dari 6 bersaudara. Kami tinggal di sebuah dusun
kecil bernama Keprekan, Desa bojong, yang berada di wilayah Magelang Jawa
Tengah. Satu kecamatan dengan Pondok Pesantren Pabelan, yaitu Mungkid.
Pendidikan formalku dimulai dari Sekolah Dasar Negeri (SDN)
Bojong 1 dan lulus pada tahun 1980. Setelah itu orang tuaku memasukkanku ke
Pondok Pesantren Pabelan. Bisa dibilang aku menghabiskan masa remajaku di dalam
pondok. Setelah menyelesaikan pendidikan selama 6 tahun plus dua tahun untuk
mengabdi dengan berat hati aku harus meninggalkan pondok yang telah
membesarkanku. Tahun 1987 aku sempat ikut ujian persamaan MTs dan Aliyah di
sebuah sekolah yang ada di Meduro Bojong. Tahun 1988 aku berhasil mendapatkan
ijazah Mts tapi karena aku mendapatkan panggilan untuk mengajar di pondok
Assalam Solo dan harus meninggalkan Magelang, aku terpaksa tidak bisa
melanjutkan pendidikan aliyahku dan gagal mendapatkan ijazah aliyah karena di
DO.
INGIN BISA KULIAH
Karena tidak memiliki ijazah aliyah, aku jadi tidak bisa
melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Padahal keinginan untuk bisa kuliah
terus menggebu-gebu di dalam dada.
Sampai akhirnya aku menikah pada tahun 1990, keinginan untuk bisa kuliah tetap saja ada
bahkan hingga anak-anakku lahir, keinginan itu tidak pernah padam.
Tahun 1991 anak pertamaku lahir, kami beri nama Ain- -ur ro f i--- q Al Fa --- i z . Selang tiga tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1994 anak keduaku pun
lahir dan kami beri nama N a - b ris M ufti -A n N afis. Karena ingin tetap bisa kuliah,
setelah melahirkan anak kedua, aku mencoba mendaftarkan diri ke salah satu sekolah Aliyah di Solo agar bisa mengikuti
ujian persamaan. Sayangnya usahaku itu tidak membuahkan hasil karena batas
untuk mengikuti ujian persamaan Aliyah
maksimal usianya harus 25 tahun sedangkan waktu itu umur ku sudah 27 tahun.
Pada tahun 1997, bertepatan dengan kelahiran anak ketigaku,
As-- qina Hiday --- ata An Na -- jah, aku mendapat surat undangan kuliah di Fakultas Agama
Islam dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Betapa Maha Pemurahnya
Allah, karena tanpa aku duga Dia telah membukakan jalan menuju cita-cita yang
selama ini aku impi-impikan. Dia telah mengabulkan doa dan harapanku dengan
memberiku kesempatan untuk bisa kuliah. Aku terus bersyukur atas karunia yang
begitu besar yang telah Allah berikan kepada diriku. Tanpa berfikir panjang
lagi, aku langsung menyanggupinya dan segera melengkapi semua persyaratan
administrasinya. Karena baru melahirkan, aku tidak bisa mengurusnya seorang
sendiri. Aku meminta tolong kepada adik dan suami untuk membantuku memenuhi
persyaratan-persyaratan yang diminta pihak UMS, termasuk meminta surat
keterangan dari pondok Pesantren Pabelan.
Ketika suamiku menyerahkan persyaratan ke universitas, bagian
pendaftaran bertanya,” Pak persyaratannya masih kurang, mana ijazah aliyahnya? Tanpa
ijazah aliyah istri bapak tidak akan bisa diterima sebagai mahasiswa“. Akhirnya suamiku menemui Dekan FAI dengan
membawa bukti surat undangan kuliah yang ditujukan untuk diriku. Dekan FAI kemudian
menulis sebuah memo yang isinya mengatakan bahwa Tatik Umamah diterima sebagai
mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta karena telah memiliki ijazah pondok
yang sederajat dengan ijazah Aliyah.
Sejak saat itu aku resmi menjadi seorang mahasiswa, sebuah
status yang sudah lama aku idam-idamkan. Aku menjadi mahasiswa paling tua di
Falkutasku sehingga teman-teman dan dosen-dosenpun memanggilku dengan sebutan ibu
Tatik.
Meskipun disibukkan dengan berbagai aktivitas kuliah, aku masih
tetap aktif mengajar. Agar kedua-duanya bisa aku jalani, aku lalu memberikan
jadwal mengajarku kepada dosen-dosenku dan meminta ijin mereka untuk tidak bisa
masuk secara full ke dalam ruang kuliah. Alhamdulillah Dosen-dosenku semuanya
baik-baik. Mereka mau mengerti dan memaklumi kondisiku. Mereka tetap
membolehkanku mengikuti perkuliahan
walau waktunya hanya tinggal 10 menit. Hal lain yang sangat menguntungkan dan
mendukung adalah jarak dari Pondok Pesantren Assalam tempatku mengajar ke UMS
tidak terlalu jauh. Hanya sekitar 500 meter saja. Hal ini memungkinkan bagi
diriku untuk bisa bolak-balik sesering
mungkin antara Assalam dan UMS. Begitu ada jam mengajar yang kosong bersamaan
dengan jadwal perkuliahan, aku langsung menuju ke kampus untuk kuliah. Begitu
juga sebaliknya. Tetapi jika jadwalnya bentrok, aku lebih mengutamakan untuk
mengajar. Bagiku mengajar sudah seperti panggilan jiwa yang tidak bisa aku
lepaskan begitu saja. Mendidik dan
menyebarkan ilmu ke murid-murid adalah tugas mulia. Apalagi jika kelak murid
kita menjadi orang yang sukses dan berguna serta memanfaatkan ilmu yang kita
berikan untuk hal-hal yang baik tentu kita bangga sebagai gurunya. Untuk
mengejar ketertinggalanku, aku berusaha untuk menggunakan waktu kuliah yang ada
secara maksimal.
Di awal kuliah, aku dipanggil menghadap
Dekan. Beliau menyarankan agar aku mengikuti ujian persamaan SMA di Sukoharjo.
Aku pun menerima sarannya. Melalui Depdikbud aku lalu mendaftar dan pada tahun
itu juga aku mengikuti ujian persamaan. Alhamdulillah aku lulus dan mendapatkan
ijazah SMA.
Baik mengajar maupun kuliah bagiku sama pentingnya. Karena itu
aku berusaha agar keduanya tetap berjalan sebagaimana yang aku inginnya. Dan
tanpa terasa tibalah saatnya untuk menulis skripsi. Pada masa-masa penulisan
skripsi, semua masih berjalan sesuai yang aku harapkan. Perhatian dan
pengertian dari dosen pembimbing sangat membantuku dalam menyelesaikan skripsiku.
Dosen Pembimbingku pernah berkata, “Silakan ibu datang kapan saja, seluangnya
waktu ibu. Saya akan tetap siap membantu”. Jadi bukannya aku yang menyesuaikan
waktu dengan mereka tetapi merekalah yang menyesuaikan jadwal bimbingan dengan
jadwal kegiatanku.
Suatu saat aku ada jadwal bimbingan skripsi. Tetapi karena ada
tamu wali santri yang ingin bertemu denganku terpaksa aku menunda waktu
bimbingan skripsiku. Benar saja, ketika aku sampai di ruang dosen, dosen
pembimbingku sudah tidak berada di tempat. Aku lalu mengejarnya hingga ke
tempat parkir kendaraan. Alhamdulillah
setelah aku beri penjelasan, beliau bersedia kembali ke kantor. Beliau sempat
berkata, “kata ibu mau datang jam 11.00, saya sudah tunggu sesuai janji, tapi
ibu belum datang juga, maka saya
memutuskan untuk pulang“. Akupun dengan kerendahan hati meminta maaf atas
keterlambatan itu.
Setelah empat tahun berjalan dengan segala aktivitas sebagai
istri, ibu, guru dan juga kepala asrama
putri, akhirnya aku bisa menyelesaikan kuliahku. Aku lulus dengan nilai IPK
memuaskan. Segala rintangan dan halangan menjadi tak berarti. Betapa Maha Pemurahnya
Allah, aku terus berusaha untuk
mensyukuri nikmat dan karunia yang telah aku dapat. Wallahu fii ‘aunil ‘abdi maa kaanal ‘abdu fii
‘auni akhiihi. Aku juga bersyukur memiliki suami dan anak-anak yang baik dan
penuh pengertian. Mereka sangat mendukung kegiatanku.
Tahun 2006 aku mendaftar menjadi mahasiswa Pasca sarjana di
Universitas Muhammadiyah Surakarta. Dan kemudian pada tahun 2008 aku mendapat
sertifikat sebagai pendidik . Sejak kecil aku bercita-cita ingin menjadi seorang
guru besar, memakai kerudung dan berjalan sambil membawa kitab-kitab besar. Aku
memang sangat terinspirasi oleh tokoh-tokoh pendidik dunia dan aku ingin bisa
seperti mereka. Perhitunganku adalah, kalau bekerja sebagai guru atau seorang
dosen, aku masih bisa mengerjakan pekerjaan yang lain misalnya mengurus rumah
tangga atau kegiatan-kegiatan lainnya.
MASA SEKARANG
Sekarang ini, aku dan keluarga tinggal di sebuah rumah mewah
alias mepet sawah, di lingkungan berbasis muslim. Alamatku di Jalan Hamzah 4,
Windan Baru Rt 004 Rw 07, Desa Gumpang Kecamatan Kartasura, Kabupaten
Sukoharjo, Propinsi Jawa Tengah. Hari-hariku aku isi dengan berusaha untuk
menjadi pribadi yang baik. Sebagai seorang muslimah, tentu ingin selalu
mengabdikan diri kepada Allah Subhana Ta’ala. Sebagai seorang istri dan seorang
ibu, tentu ingin mengabdi kepada suami, mendidik dan membimbing anak-anak agar
kelak mereka bisa menjadi orang-orang yang shaleh dan shalihah. Anak pertamaku
sudah kuliah semester terakhir. Anak keduaku sudah semester tiga dan anak
ketigaku sekarang duduk di bangku kelas dua SMA.
Sebagai seorang guru atau pendidik, aku ingin terus bisa
mengabdikan diri untuk mencetak generasi yang berkualitas untuk agama dan
bangsa. Karena itu aku masih tetap aktif mengajar di Assalam. Sebagai bagian dari masyarakat, aku ingin
mengabdikan diri kepada mereka. Harapanku, di sisa umurku ini aku masih terus
bisa bermanfaat untuk orang banyak.
Inilah sekelumit pengalaman dan kisah perjalanan hidupku, semoga
bermanfaat bagi yang membacanya. Satu hal yang aku yakini, jika ada kemauan
insya Allah akan ada jalan. Senantiasa berusaha dan berdoa, maka Allah akan
menunjukkan jalan itu. Jazakumullah bish shawab. Semoga berkah dan manfaah,
aamiin.