Kamis, 27 Desember 2018

Waro’nya Muhammad bin Sirin RA

Ibnu Sirin berkata: " Aku tidak akan mendengki seorangpun karena urusan dunia, sebab jika dia calon ahli jannah, maka bagaimana mungkin aku mendengkinya karena urusan dunia padahal dia berjalan menuju jalan Jannah. Jika dia calon ahli Neraka, maka bagaimana mungkin aku mendengkinya karena urusan dunia, padahal dia menuju jalan Neraka.
 Siapa Muhammad biin  Sirin

Ketika Umar bin Hubairah al-Farazi yang diangkat menjadi gubernur Irak,
Beliau memberi hadiah kepada ibnu Sirin  sekantong uang berisi 3000 dirham dari kas Negara, tapi sama sekali tak disentuhnya. Bertanyalah anak saudaranya, “Apa yang menghalangimu untuk menerima hadiah dari amir itu?” Beliau berkata, “Dia memberi karena mengira aku orang baik. Bila benar aku baik, tidak pantas aku mengambil uang itu. Namun jika aku tidak seperti yang ia duga, tentu lebih layak lagi untuk tidak mengambilnya…”

Beliau mendengar seseorang memaki Hajjaj bin Yusuf setelah matinya, beliau mendekati orang itu dan berkata, “Tahanlah wahai putra saudaraku, Hajjaj sudah kembali ke sisi Rabbnya. Saat engkau datang kepada Rabb-mu, akan kau dapati bahwa dosa terkecil yang kau lakukan di dunia lebih kau sesali daripada dosa yang dilakukan Hajjaj. Masing-masing dari kalian akan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.”

Ujian  ibnu Sirin
adalah peristiwa di mana beliau membeli minyak seharga 40.000 dirham sebanyak satu bejana penuh dibayar belakangan. Ketika diperiksa ternyata ada bangkai tikus yang sudah membusuk di dalamnya. Dia berpikir, “Minyak ini ditampung dalam satu wadah dan najisnya tidak hanya di sekitar bangkai itu. Jika aku kembalikan kepada penjualnya, pasti akan dijualnya kepada orang lain.” Maka dibuangnya semua minyak di bejana tersebut. Ini terjadi di saat perniagaannya rugi cukup besar. Akhirnya beliau terbelit utang, pemilik minyak menagih utangnya sedangkan beliau tak mampu membayarnya, lalu orang itu mengadukan persoalan tersebut kepada yang berwenang. Akhirnya diperintahkan agar beliau dipenjara sampai bisa mengembalikan utangnya.
Cukup lama beliau dipenjara, hingga penjaga merasa kasihan karena mengetahui keteguhan agama dan ketakwaannya dalam ibadah. Dia berkata, “Wahai Syaikh, pulanglah kepada keluarga bila malam tiba dan kembalilah kemari pada pagi harinya. Anda bisa melakukan itu sampai bebas nanti.” Beliau menolak, “Tidak, Demi Allah aku tidak akan melakukan itu.” Penjaga berkata, “Mengapa?” Beliau menjawab, “Agar aku tidak membantumu mengkhianati pemerintah.”
Ketika Anas bin Malik sakit keras, beliau berwasiat agar yang memandikan jenazahnya kelak adalah Muhammad bin Sirin, sekaligus menyalatkannya. Tapi Ibnu Sirin masih berada di dalam tahanan.
Hari di mana Anas wafat, orang-orang mendatangi wali dan menceritakan tentang wasiat sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memohonkan izin untuk Muhammad bin Sirin agar bisa melaksanakan wasiatnya. Namun beliau berkata, “Aku tidak akan keluar kecuali jika kalian menginginkan aku kepada orang yang aku utangi, bukankah aku ditahan karena belum mampu membayar utangnya?”

Orang yang diutangi pun memberikan izin sehingga dia bisa keluar dari tahanannya. Setelah selesai memandikan, mengafani, dan menyalatkan jenazah Anas radhiyallahu ‘anhu, beliau langsung kembali lagi ke penjara tanpa sedikit pun mengambil kesempatan untuk mampir menengok keluarganya.

Mendungan 28.12.2018

MASA KECIL HINGGA REMAJA


Tatik Umamah adalah nama yang diberikan oleh kedua orang tuaku saat aku lahir. Orang biasa memanggilku Tatik tetapi ada juga yang memanggilku Um. Sementara ibuku memanggilku Tik. Di pondok sebagian santri memanggilku mamah. Aku tidak pernah menolak atau marah dengan panggilan yang berbeda-beda itu. Yang penting masih ada kaitannya dengan nama atau diriku sebagai perempuan dan tidak bermaksud memperolok diriku. Aku lahir pada tanggal 16 April 1967 dari pasangan suami istri bernama Burhan (almarhum) dan Saniyatun . Aku anak ke dua dari 6 bersaudara. Kami tinggal di sebuah dusun kecil bernama Keprekan, Desa bojong, yang berada di wilayah Magelang Jawa Tengah. Satu kecamatan dengan Pondok Pesantren Pabelan, yaitu Mungkid.
Pendidikan formalku dimulai dari Sekolah Dasar Negeri (SDN) Bojong 1 dan lulus pada tahun 1980. Setelah itu orang tuaku memasukkanku ke Pondok Pesantren Pabelan. Bisa dibilang aku menghabiskan masa remajaku di dalam pondok. Setelah menyelesaikan pendidikan selama 6 tahun plus dua tahun untuk mengabdi dengan berat hati aku harus meninggalkan pondok yang telah membesarkanku. Tahun 1987 aku sempat ikut ujian persamaan MTs dan Aliyah di sebuah sekolah yang ada di Meduro Bojong. Tahun 1988 aku berhasil mendapatkan ijazah Mts tapi karena aku mendapatkan panggilan untuk mengajar di pondok Assalam Solo dan harus meninggalkan Magelang, aku terpaksa tidak bisa melanjutkan pendidikan aliyahku dan gagal mendapatkan ijazah aliyah karena di DO.

INGIN BISA KULIAH
Karena tidak memiliki ijazah aliyah, aku jadi tidak bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Padahal keinginan untuk bisa kuliah terus menggebu-gebu di dalam dada.  Sampai akhirnya aku menikah pada tahun 1990,  keinginan untuk bisa kuliah tetap saja ada bahkan hingga anak-anakku lahir, keinginan itu tidak pernah padam.
Tahun 1991 anak pertamaku lahir, kami beri nama Ain-  -ur ro f i--- q Al   Fa    --- i     z . Selang tiga tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1994 anak keduaku pun lahir dan kami beri nama N  a  - b  ris M  ufti -A n N      afis. Karena ingin tetap bisa kuliah, setelah melahirkan anak kedua, aku mencoba mendaftarkan diri ke  salah satu sekolah Aliyah di Solo agar bisa mengikuti ujian persamaan. Sayangnya usahaku itu tidak membuahkan hasil karena batas untuk mengikuti  ujian persamaan Aliyah maksimal usianya harus 25 tahun sedangkan waktu itu umur ku sudah 27 tahun.
Pada tahun 1997, bertepatan dengan kelahiran anak ketigaku, As-- qina Hiday    --- ata An Na   -- jah, aku mendapat surat undangan kuliah di Fakultas Agama Islam dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Betapa Maha Pemurahnya Allah, karena tanpa aku duga Dia telah membukakan jalan menuju cita-cita yang selama ini aku impi-impikan. Dia telah mengabulkan doa dan harapanku dengan memberiku kesempatan untuk bisa kuliah. Aku terus bersyukur atas karunia yang begitu besar yang telah Allah berikan kepada diriku. Tanpa berfikir panjang lagi, aku langsung menyanggupinya dan segera melengkapi semua persyaratan administrasinya. Karena baru melahirkan, aku tidak bisa mengurusnya seorang sendiri. Aku meminta tolong kepada adik dan suami untuk membantuku memenuhi persyaratan-persyaratan yang diminta pihak UMS, termasuk meminta surat keterangan dari pondok Pesantren Pabelan.
Ketika suamiku menyerahkan persyaratan ke universitas, bagian pendaftaran bertanya,” Pak persyaratannya masih kurang, mana ijazah aliyahnya? Tanpa ijazah aliyah istri bapak tidak akan bisa diterima sebagai mahasiswa“.  Akhirnya suamiku menemui Dekan FAI dengan membawa bukti surat undangan kuliah yang ditujukan untuk diriku. Dekan FAI kemudian menulis sebuah memo yang isinya mengatakan bahwa Tatik Umamah diterima sebagai mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta karena telah memiliki ijazah pondok yang sederajat dengan ijazah Aliyah.
Sejak saat itu aku resmi menjadi seorang mahasiswa, sebuah status yang sudah lama aku idam-idamkan. Aku menjadi mahasiswa paling tua di Falkutasku sehingga teman-teman dan dosen-dosenpun memanggilku dengan sebutan ibu Tatik.
Meskipun disibukkan dengan berbagai aktivitas kuliah, aku masih tetap aktif mengajar. Agar kedua-duanya bisa aku jalani, aku lalu memberikan jadwal mengajarku kepada dosen-dosenku dan meminta ijin mereka untuk tidak bisa masuk secara full ke dalam ruang kuliah. Alhamdulillah Dosen-dosenku semuanya baik-baik. Mereka mau mengerti dan memaklumi kondisiku. Mereka tetap membolehkanku mengikuti  perkuliahan walau waktunya hanya tinggal 10 menit. Hal lain yang sangat menguntungkan dan mendukung adalah jarak dari Pondok Pesantren Assalam tempatku mengajar ke UMS tidak terlalu jauh. Hanya sekitar 500 meter saja. Hal ini memungkinkan bagi diriku untuk bisa bolak-balik  sesering mungkin antara Assalam dan UMS. Begitu ada jam mengajar yang kosong bersamaan dengan jadwal perkuliahan, aku langsung menuju ke kampus untuk kuliah. Begitu juga sebaliknya. Tetapi jika jadwalnya bentrok, aku lebih mengutamakan untuk mengajar. Bagiku mengajar sudah seperti panggilan jiwa yang tidak bisa aku lepaskan begitu saja. Mendidik dan menyebarkan ilmu ke murid-murid adalah tugas mulia. Apalagi jika kelak murid kita menjadi orang yang sukses dan berguna serta memanfaatkan ilmu yang kita berikan untuk hal-hal yang baik tentu kita bangga sebagai gurunya. Untuk mengejar ketertinggalanku, aku berusaha untuk menggunakan waktu kuliah yang ada secara maksimal.
Di awal kuliah, aku dipanggil menghadap Dekan. Beliau menyarankan agar aku mengikuti ujian persamaan SMA di Sukoharjo. Aku pun menerima sarannya. Melalui Depdikbud aku lalu mendaftar dan pada tahun itu juga aku mengikuti ujian persamaan. Alhamdulillah aku lulus dan mendapatkan ijazah SMA.
Baik mengajar maupun kuliah bagiku sama pentingnya. Karena itu aku berusaha agar keduanya tetap berjalan sebagaimana yang aku inginnya. Dan tanpa terasa tibalah saatnya untuk menulis skripsi. Pada masa-masa penulisan skripsi, semua masih berjalan sesuai yang aku harapkan. Perhatian dan pengertian dari dosen pembimbing sangat membantuku dalam menyelesaikan skripsiku. Dosen Pembimbingku pernah berkata, “Silakan ibu datang kapan saja, seluangnya waktu ibu. Saya akan tetap siap membantu”. Jadi bukannya aku yang menyesuaikan waktu dengan mereka tetapi merekalah yang menyesuaikan jadwal bimbingan dengan jadwal kegiatanku.
Suatu saat aku ada jadwal bimbingan skripsi. Tetapi karena ada tamu wali santri yang ingin bertemu denganku terpaksa aku menunda waktu bimbingan skripsiku. Benar saja, ketika aku sampai di ruang dosen, dosen pembimbingku sudah tidak berada di tempat. Aku lalu mengejarnya hingga ke tempat parkir kendaraan.  Alhamdulillah setelah aku beri penjelasan, beliau bersedia kembali ke kantor. Beliau sempat berkata, “kata ibu mau datang jam 11.00, saya sudah tunggu sesuai janji, tapi ibu belum datang juga,  maka saya memutuskan untuk pulang“. Akupun dengan kerendahan hati meminta maaf atas keterlambatan itu.
Setelah empat tahun berjalan dengan segala aktivitas sebagai istri, ibu,  guru dan juga kepala asrama putri, akhirnya aku bisa menyelesaikan kuliahku. Aku lulus dengan nilai IPK memuaskan. Segala rintangan dan halangan menjadi tak berarti. Betapa Maha Pemurahnya Allah, aku  terus berusaha untuk mensyukuri nikmat dan karunia yang telah aku dapat.  Wallahu fii ‘aunil ‘abdi maa kaanal ‘abdu fii ‘auni akhiihi. Aku juga bersyukur memiliki suami dan anak-anak yang baik dan penuh pengertian. Mereka sangat mendukung kegiatanku.
Tahun 2006 aku mendaftar menjadi mahasiswa Pasca sarjana di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Dan kemudian pada tahun 2008 aku mendapat sertifikat sebagai pendidik . Sejak  kecil aku bercita-cita ingin menjadi seorang guru besar, memakai kerudung dan berjalan sambil membawa kitab-kitab besar. Aku memang sangat terinspirasi oleh tokoh-tokoh pendidik dunia dan aku ingin bisa seperti mereka. Perhitunganku adalah, kalau bekerja sebagai guru atau seorang dosen, aku masih bisa mengerjakan pekerjaan yang lain misalnya mengurus rumah tangga atau kegiatan-kegiatan lainnya.

MASA SEKARANG
Sekarang ini, aku dan keluarga tinggal di sebuah rumah mewah alias mepet sawah, di lingkungan berbasis muslim. Alamatku di Jalan Hamzah 4, Windan Baru Rt 004 Rw 07, Desa Gumpang Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Propinsi Jawa Tengah. Hari-hariku aku isi dengan berusaha untuk menjadi pribadi yang baik. Sebagai seorang muslimah, tentu ingin selalu mengabdikan diri kepada Allah Subhana Ta’ala. Sebagai seorang istri dan seorang ibu, tentu ingin mengabdi kepada suami, mendidik dan membimbing anak-anak agar kelak mereka bisa menjadi orang-orang yang shaleh dan shalihah. Anak pertamaku sudah kuliah semester terakhir. Anak keduaku sudah semester tiga dan anak ketigaku sekarang duduk di bangku kelas dua SMA.
Sebagai seorang guru atau pendidik, aku ingin terus bisa mengabdikan diri untuk mencetak generasi yang berkualitas untuk agama dan bangsa. Karena itu aku masih tetap aktif mengajar di Assalam.  Sebagai bagian dari masyarakat, aku ingin mengabdikan diri kepada mereka. Harapanku, di sisa umurku ini aku masih terus bisa bermanfaat untuk orang banyak.

Inilah sekelumit pengalaman dan kisah perjalanan hidupku, semoga bermanfaat bagi yang membacanya. Satu hal yang aku yakini, jika ada kemauan insya Allah akan ada jalan. Senantiasa berusaha dan berdoa, maka Allah akan menunjukkan jalan itu. Jazakumullah bish shawab. Semoga berkah dan manfaah, aamiin.

Bintu Umamah menulis:

Pernah suatu ketika, saat liburan panjang menyapa, aku menceritakan segala hal yang terjadi di tanah perantauan kepada seorang wanita pemilik wajah teduh, ibu. Dengan penuh kesabaran dan antusias, ia mendengarkan ocehanku dengan sesekali menanggapi.
Hingga tiba pada suatu perbincangan yang tak membuat kami tidak berada dalam satu pendapat; tentang kehidupan sosial, yang entah tersebab apa, aku merasa sedikit merasa kesal. Bahkan, sempat terbesit dalam hati; 'ibuk sih nggak pernah ngerasain kehidupan di pondok (kayak aku)'. Dan itulah titik terburuk yang pernah aku alami, merasa lebih baik dari ibu. Astaghfirullah :( Padahal, sungguh, walaupun ibu tak mengecap kehidupan pondok enam tahun seperti yang pernah aku rasakan, tak pernah hidup satu kamar bebarengan dengan kawan-kawan yang lainnya, hidup dengan amanah untuk belajar dan mengurusi organisasi, tapi sungguh kehidupan beliau saat kecil jauh lebih berwarna dan bermakna.
Beliau memang menuntut ilmu di sebuah pondok di kota magelang, tapi tersebab berbagai alasan, ibu harus memilih 'nglaju', pulang pergi setiap harinya, menempuh jarak yang begitu jauh. Menyusuri pematang sawah, rel kereta api, juga tanah-tanah kosong tanpa bangunan; berangkat saat matahari belum muncul sempurna, dan pulang saat matahari tepat berada di tengah, puncak teriknya.
Lihatlah wajahnya yang terlihat gelap itu, hasil dari paparan sinar matahari yang langsung terbasuh air wudhu sholat dzuhur.

Belum selesai. Ba'da sekolah bukannya menuju kasur untuk tidur siang, beliau masih harus mendatangi rumah tetangga, bekerja sebagai pengerajin sapu-tersebab desanya yang masyhur karena kerajinan sapunya-, atau menuju sawah membantu 'mbah kakung dan mbah putri'.

Kamis, 13 Desember 2018

Iri dan Ghibthah

Iblis berkata kepada Nabi Nuh 'alaihi sallam, :" Jauhilah dengki,karena dengki memikat diriku ke keadaan ini."
Ketahuilah bahwa jika Allah memberi kenikmatan kepada orang lain, maka ada 2 sikap yang muncul dalam menghadapi situasi ini:
1. Kamu membenci nikmat itu dan merasa suka jika nikmat itu lenyap. Ini disebut Iri.
2. Kamu tidak membenci adanya nikmat itu dan tidak menginginkan nikmat itu lenyap dari orang itu, tapi ada keinginan dalam hatimu untuk mendapatkan kenikmatan yang sama. Ini disebut Ghibthah ( ingin mendapatkan apa yang dikaruniakan orang lain).

Jumat, 07 Desember 2018

Dengki dan Iri

Jika amarah dipendam karena ketidakmampuan melampiaskannya, maka rasa marah itu akan berbalik ke batinnya, tertahan di dalamnya dan akan menjadi dengki. Tandanya adalah selalu membenci dengan orang telah membuatnya marah, terasa berat untuk bertemu bahkan berusaha untuk menghindar. Dengki adalah buah dari marah, sedang iri adalah buah kedengkian.Dari Zubair bin Awwam RA, Rasulullah Shollahu'alaihi wassalllam bersabda: Kamu sekalian akan ditulari penyakit umat dulu yaitu dengki dan kebencian (HR Tirmidzi dan Ahmad).
Dalam shohihaini Rasulullah Shollahu'alaihi wassalllam bersabda: Janganlah kamu sekalian saling membenci, saling memutuskan tali silaturrohmi, saling mendengki, saling bermusuhan. Jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. (HR Buchori dan Muslim)
Jum'at 7 desember 2018

Jumat, 30 November 2018

Bab Dendam dan Hasad

Tanda -tanda orang yang beriman adalah " tidak halal mendiamkan saudaranya lebih dari 3 hari. Ketika seorang marah, pada hari pertama adalah hari memuncakknya kemarahan, hari kedua tinggal 75% dan akan reda pada hari ketiga. Disitulah letak rahasinya sabda Rasulullah dibolehkannya jotaan (jawa) hanya 3 hari, selebihnya haram.
Ketika paman Rasulullah shHamzah bin Abdul Mutholib  dibunuh Wahsy ketika perang uhud pada tahun ke 3H, dan Wahsy masuk Islam. Untuk menghindari kemarahan, Rasulullah sh minta wahsy untuk tidak dekat-dekat rasulullah sh.
Orang kecil sering didholimi, dia diam tapi dalam hati itu ada yang tertahan, jadi kadang mendoakan orang yang mendholimi dengan doa yang kurang baik, maka hendaknya hindari hal itu.Hendaklah minta kesabaran  agar jangan sampai doanya menyebabkan yang mendholimi tersiksa. Karena doa oarang didholimi tidak ada sekat antara Allah dan dirinya.
Kemarahan bisa hilang dengan doa
ربنا اصرف علينا صبرا وثبت أقدامنا واصرنا على القوم الكافرين

Ta'lim Jum'at 30 November 2018 di Mendungan oleh ust Abdullah Manaf Amin