Buletin Jum’at Menebar Islam Rahmatan Lil ‘Alamin Edisi 06 28 Safar 1442H / 16 Oktober 2020 Belajar Akhlaq Sebelum Ilmu ۟ ۟ ۟ ٓ ْ ن ءامنوا إذا قیل لكم تفسحوا فى ٱلمجلس فٱفسحوا یفسح ٱ لكم ۖ ٰ َ َّ ْ ْ ْ َ ُ ُ َ ُ َ َ َّ َ ِ ِ َ ٰ َ ََ َّ ُ ِ ْ ُ َ َ ِ َ ِ ُ َ ِ َ َ ٓ َیأیُّ ِ ھا ٱلذی َ َ ُ ُ َ ُ ُ َ ُ ُ ن ءامنوا منكم ۟ ۟ َّ ۟ َ ِ ُ َ َ ِ َ َ ْ َّ ِ وإذا قیل ٱنشزوا فٱنشزوا یرفع ٱ ٱلذی َ ِ ْ ِ ُ ٰ ُ َ ن َخبیر َّ ُ ۟ ْ ْ َ َ َ َ َ ُ ِ َ َ ِ ِ وٱلذی َ ِ َ ن أوتوا ٱلعلم درج ٍ َّ ْ ت ۚ وٱ بما تعملو َ ٌ Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepada kalian: "Berlapanglapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untuk kalian. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kalian", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan (QS. Al-Mujadilah: 11) 1 yasalunaka Dalam Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an disebutkan, bahwa pada ayat ini, Allah memerintahkan agar orang-orang beriman untuk menjaga adab yang baik, yaitu saling memberikan tempat dalam pertemuan sebagai tanda saling menghormati dan menumbuhkan persaudaraan. Allah juga meninggikan derajat orang – orang beriman, berilmu, dan beramal dengan ilmunya itu, apalagi ilmunya bisa dirasakan manfaatnya oleh orang banyak. Dan inilah salah satu tujuan seseorang belajar ilmu agama, agar nantinya ilmu tersebut bisa dirasakan manfaatnya bagi masyarakat di sekelilingnya. Oleh: Tatik Uma 2 Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma, berkata: “Orang-orang yang ber ilmu mempunyai derajat sebanyak tujuh ratus kali di atas derajat orang-orang mukmin. Jarak di antara de rajat ini terbentang sejauh perjalanan s e l a m a l i m a r a t u s t a h u n . ” R a s u l u l l a h SAW b e r s a b d a : “ B a r a n g s i a p a y a n g A l l a h kehendaki dengan kebaikan pada dirinya, maka Allah memberinya p e n g e t a h u a n a g a m a . ” (HR. Muslim) Edisi 06 28 Safar 1442H / 16 Oktober 2020 ampunan untuk o r ang y ang mengajarkan ilmu?” jawabnya K a r e n a m a n f a a t i l m u i t u m e l i p u t i s e g a l a s e s u a t u , termasuk ikan paus. Orang yang berilmu itu mengetahui yang boleh dilakukan dan mengetahui y a n g d i l a r a n g . O r a n g y a n g ber ilmu pas ti akan member i nasehat agar bersikap santun kepada segala sesuatu, termasuk kepada hewan diantaranya ikan paus . Oleh karena itu Allah menganugerahkan kepada setiap ma khluk k emampuan untuk memohonk an ampunan ba g i orang berilmu, sebagai balasan atas jasanya. Dalam hadits lain juga diriwayat kan bahwa : “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, termasuk semut dalam lubangnya, juga ikan paus, benar-benar bersholawat kepada orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” ( HR. Tirmidzi) Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma berkata: “Sesungguhnya, orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain, maka setiap hewan yang melata akan memohonkan ampun baginya, termasuk pula ikan paus di lautan.” Jika ada yang bertanya: “Bagaimana mungkin ikan paus memohonkan Hendaknya orang –orang berilmu menghindari perdebatan yang tidak mendatangkan manfaat. Karena, jika ilmu yang dimilikinya digunakan untuk mendebat orang lain agar dipuji, maka hal tersebut termasuk akhlaq yang tercela Orang berilmu yang suka berdebat bisa terjerumus pada sifat ujub (mengagumi dirinya sendiri) dan riya' (memamerkan amal dengan niat upaya dipuji manusia). Usia yang dihabiskan untuk menimba ilmu erlalu dengan sia-sia karena tidak da kemanfaatan untuk akhiratnya. 3 Rasulullah Shallahu'alaihi wasallam bersabda: “Orang yang paling keras adzabnya pada hari kiamat adalah orang yang berilmu, namun ilmunya tidak bermanfaat baginya.” ( HR. At Thobroni, Ibnu Adi Al Baihaqi) Rasulullah Shallahu'alaihi wasallam pernah memberikan kesaksian kepada Abu Bakar As Shiddiq adhiyallahu 'anhu tentang ilmu. Rasullullah Shallahu'alaihi wasallam be r s abda : “Abu Bak a r tidak mengalahkan kalian karena banyak puasa dan tidak pula karena sholat, t e t a p i k a r e n a s e s u a t u y a n g bersemayam dalam dadanya.” Edisi 06 28 Safar 1442H / 16 Oktober 2020 Seorang murid seyogyanya harus belajar adab sebelum mencari ilmu. Diantara adab murid terhadap guru ada l ah s eor ang mur id ha rus membersihkan jiwanya dulu dari akhlaq-akhlaq yang hina dan sifatsifat yang tercela. Sebab, ilmu adalah ibadah hati. Dia harus melepaskan diri dari berbagai kesibukan yang lain. Ketika pikirannya bercabang, maka kemampuan menggali ilmu menjadi terbatas. Para Ulama salaf lebih menyukai ilmu dibanding harta. dan seseorang yang sedang mencari ilmu, jangan pernah merasa ilmunya lebih unggul dibanding orang lain. Karena keangkuhan ini bisa memadamkan cahaya Allah pada dirinya. Sebaiknya, seorang penuntut ilmu itu memprioritaskan dirinya untuk m e n d a l a m i i l m u y a n g b i s a meningkatkan kualitas iman dan taqwanya kepada Allah Subhaanahu wa ta'ala. Karena hal itu akan membahagiakannya kelak di akhirat Diantara adab guru adalah menyayangi muridnya dan menuntunnya ke jalan yang benar, sebagaimana dia menyayangi anaknya sendiri. Seorang guru tidak mengharapkan balasan materi dan ucapan terima kasih. Karena guru h a n y a b e r h a r a p i l m u n y a b i s a memberikan manfaat kepada muridnya, serta berharap selalu mendoakan kebaikan untuknya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda َ إذا مـــــــــــــــــــــــــــــات الإنســـــــــــــــــــــــــــــان انقطع عملھُ ِ إلا من ثلاث ٍة َ ْ ْ ُ ْ َ َ ُ َّ ْ ََ َ ِ َ َ َ َ ِ َ ِ ْ ٍ وولد صالح ْ یدعــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــو َ لھُ ٍ َ َ ِ َ ِ َ َ َ ِ َ ٍ َ ٍ ِ ٍ ُ ُ ِ ِ َ ُ ْ من َ صدقة جاریة وعلم ْ ََ ینتفع بھ َ “ J i k a s e s e o r a n g m e n i n g g a l d u n i a , m a k a terputus lah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do'a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631) Hakikatnya guru itu mengajarkan ilmu kepada muridnya senantiasa mengharap ridho Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan sebaiknya guru itu selalu mendoakan k e b a i k a n u n t u k m u r i d n y a . 4 Diterbitkan setiap Jum’at oleh Dewan Kyai Assalaam bersama Takmir Masjid Assalaam, Takmir Masjid Ibadurrahman Assalaam Hypermart dan L-ZIS Assalaam Buletin Jum’at Menebar Islam Rahmatan Lil ‘Alamin Wallahu A'lam Bish Shawab Penanggung Jawab: Ketua Dewan Kyai PPMI Assalaam Ketua Redaksi: Mahyani Devi Yumandera Pengarah: Arkanuddin Budiyanto, Trisnojoyo Khottob, Moh. Toha www.assalaam.or.id Guru juga selayaknya berusaha menata hati murid-muridnya agar semakin dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan berusaha menanamkan ilmunya kedalam hatinya. Guru sepatutnya selalu mengingatkan muridnya agar terhin dar dari akhlaq yang buruk dengan cara yang lunak dan halus dan guru juga sewajarnya mengetahui tingkat pemahaman muridnya dan kemampuan dirinya. seorang guru juga harus berbuat sesuai dengan apa yang dikatakannya.agar murid-murinya senantiasa meneladani hal hal yang baik dalam dirinya. Sebagaimana termaktub dalam firman Allah SWT: Anggota Redaksi: Rosyad Nur Liyas Design & Layout: Luthfi A Nasher Distributor: Triyanto Redaksi menerima tulisan sesuai motto Menebar Islam Rahmatan Lil’alamin Kontak Kami : +62 856-4715-4816 - Mahyani Devi Yumandera, Lc َ َ َ َ ِ َ َّ َكبُ ً ِ َ َ َ ر مقتا عند ٱ أن تقولوا ما لا تفعلو َن ْ َ ُ ُ ْ ُ “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Shaff: 3) Edisi 06 28 Safar 1442H / 16 Oktober 2020 Berkata Abdullah bin Sallam: Maka Rasulullah Shallahu'alaihi wasallam membacakan ayat tersebut kepada kami. Ini adalah hadits yang disebutkan Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Kemudian Ibnu Katsir berkata: “Sesungguhnya, ucapan yang tanpa pembenaran dengan amal, menjadi penyebab celaan dan sesuatu yang tidak disenangi, ia adalah s e b e s a r - b e s a r s e s u a t u y a n g d i b e n c i d a n m e m b u a t k e m u r k a a n . ” Marilah kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar senantiasa dimudahkan untuk selalu berakhlak yang baik dan senantiasa berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dari akhlak yang buruk. dan salah satu do'a yang disunnahkan yakni: ْ َ ْ ُ خلقي فحسن خلقي َّ ْ ُ ُ َّ َ َّ َ اللھم حسنت َ ِ َ ِّ ِ “Ya Allah, sebagaimana Engkau baguskan badanku, perbaikilah akhlakku.” (HR. Ahmad, 1/403, Ibnu Hibban, no. 959) Do'a ini bukanlah do'a khusus ketika akan bercermin. Akan tetapi bisa dibaca kapan saja. Syaikh al-Albani Rahimahullah berkata setelah menyebutkan riwayat-riwayat hadits yang mengkhususkan doa tersebut saat bercermin ِ ُ َ ِ اللھم إني أعوذ بك من منكرا ِت الأخلاق والأ ْ ِ ّ ْ ْ َ ْ َ ْ عمال والأھواء َّ َ ُ ْ َ ْ َ ْ َ ُ َّ ِ ِ ُ َ ِ َ َ ِ َ َ “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari akhlak-akhlak yang mungkar, dari amalanamalan yang mungkar, dan dari hawa nafsu yang menyimpang.” (HR. at-Tirmidzi, no. 3591, dinilai sahih oleh al- Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi, 3/473
Jumat, 27 November 2020
Jumat, 20 November 2020
Belajar Menyembunyikan Amal
Belajar Menyembunyikan Amal
Tatik Umamah, S.Pd.I
مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ
بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ
“Siapa
yang memperdengarkan amalanya (kepada orang lain), Allah akan memperdengarkan
(bahwa amal tersebut bukan untuk Allah). Dan siapa saja yang ingin mempertontonkan
amalnya, maka Allah akan mempertontonkan aibnya (bahwa amalan tersebut bukan
untuk Allah).” (HR Bukhari)
Di
jaman penuh dengan kemajuan teknologi seperti saat ini, sering kali kita
tergoda untuk membagikan setiap aktifitas kebaikan di media sosial. Meski niat
yang dimiliki berbeda-beda, ada yang memang ingin memotivasi orang lain untuk
mengikuti, untuk berbagi kebahagiaan. Apapun itu, kita harus senantiasa menjaga
hati dari berbagai niat yang tidak ikhlas, terutama apabila membagikan sesuatu
yang berkaitan dengan masalah ibadah diri. Sebab, bisa jadi bisikan setan
datang berupa syirik kecil atau riya', yang mana sangat dikhawatirkan oleh
Rasulullah SAW jika menimpa umatnya.
Dikisahkan
oleh Imam Muslim dari Abu Hurairoh RA, bahwa Rasulullahu SAW bersabda, “Sesungguhnya orang yang pertama yang diadili pada hari kiamat adalah
orang yang mati di jalan Allah (dalam perang fi sabilillah). Orang itu
didatangkan lalu Allah mengingatkannya tentang nikmat –nikmat yang telah Allah
diberikan d ia pun mengakuinya. Allah bertanya kepadanya, 'Apa yang kamu lakukan dengan nikmat-nikmat itu?' ia
menjawab, 'Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.'
Allah berfirman: 'Engkau dusta, Tapi engkau malakukan itu orang bahwa adalah seorang pemberani. Memang dan itu
sudah dikatakan dikatakan orang. Kemudian Allah merintahkan kepada Malaikat
agar menyeret orang itu pada wajahnya
lalu dilemparkan ke dalam neraka.
Kemudian
didatangkan pula seorang laki-laki yang telah diberi Allah kelapangan dan harta
yang banyak. Allah mengingatkannya tentang nikmat-nikmat yang telah
diberikannya dan iapun mengingatnya. Allah bertanya kepadanya, 'Apa yang
kamu lakukan dengan nikmat-nikmat itu?'
ia menjawab: Saya tidak meninggalkan satu jalanpun yang engkau sukai
menginfakkan harta di sana hanya karenaMu. Allah menjawab, engkau telah
berdusta . tetapi engkau melakukan itu hanya demi mengharap pujian orang ,
supaya dikatakan bahwa engkau adalah seorang dermawan, dan itu sudah dikatakan
orang. Kemudian Allah merintahkan kepada Malaikat agar menyeret orang itu pada
wajahnya lalu dilemparkan ke dalam
neraka..
Lalu
didatangkan pula seorang laki-laki yang mempelajari ilmu, mengajarkannya dan
membaca Al Qur’an. Allah mengingatkannya tentang nikmat-nikmat yang telah diberikannya
dan iapun mengingatnya. Allah bertanya kepadanya, 'Apa yang kamu lakukan dengan segala nikmat itu?' ia
menjawab, saya belajar ilmu dan mengajarkannya, serta membaca Al qur’an
karenaMu. Allah menjawab, engkau dusta, tetapi engkau belajar dengn maksud
supaya dikatakan olaeh orang-orang bahwa engkau adalah orang alim, dan
engkau membaca Al qur’an dengan maksud
agar dikatan sebagai qori’. Kemudian Allah merintahkan kepada Malaikat agar
menyeret orang itu pada wajahnya lalu
dilemparkan ke dalam neraka.”
Al-Hafidz
Ibnu Hajar al-Asqolani menjelaskan tentang
riya’ ialah menampakkan ibadah dengan tujuan dilihat manusia, lalu
mereka memuji pelaku amalan itu. Sementara Imam Al-Ghazali, menjelaskan
bahwa riya’ adalah mencari kedudukan
pada hati manusia dengan memperlihatkan kepada mereka hal-hal kebaikan.
Al
Hasan Al Bashri mengatakan, orang yang berbuat riya’ itu pada hakekatnya
ingin mengalahkan taqdir Allah SWT padanya. Ia adalah orang jahat. Ia ingin
orang menyebutnya orang yang sholeh. Bagaimana mungkin orang-orang akan
mengatakan demikian, sementara ia menempati kedudukan yang buruk di sisi Allah
SWT.
Umar
bin Khotthob RA pernah melihat seorang laki-laki menekuk lehernya, beliau
berkata, ”Wahai orang yang menekuk lehernya, tegakkan lehermu. Sesungguhnya
khusyu’ itu bukan di leher tapi ada di dalam hati”.
Abu
Umamah Al Bahily RA pernah berjalan melewati seorang laki-laki yang sedang
bersujud di masjid sambil menangis dan berdoa. Abu Umamah Al Bahily RA berkata
kepadanya, “Wahai kamu alangkah baiknya kalau kamu melakukannya di dalam
rumahmu”.
Ali
bin abi Tholib RA berkat, ” Orang yang berbuat riya’ itu ada tiga tandanya:
jika ia sendirian ia malas beramal, jika ia di keramaian ia rajin dan jika di
puji ia meningkatkan amalnya sedangkan jika dicela ia menguranginya”.
Jadi riya’ adalah melakukan amal kebaikan bukan
karena niat ibadah kepada Allah, melainkan demi manusia dengan cara
memperlihatkan amal kebaikannya kepada orang lain supaya mendapat pujian atau
penghargaan, dengan harapan agar orang lain memberikan penghormatan padanya.
Ada
dua macam riya’ yaitu riya’ kholish dan
riya’ syirik . Yang pertama adalah
riya’ kholish yaitu melakukan ibadah semata-mata hanya untuk mendapatkan
pujian dari manusia. Dan yang kedua adalah riya’ syirik yaitu melakukan
perbuatan karena niat menjalankan perintah Allah, dan juga karena untuk
mendapatkan pujian dari manusia, dan keduanya bercampur.
Riya’
bisa muncul didalam diri seseorang pada saat setelah atau sebelum suatu ibadah
selesai dilakukan.
Menurut
Al Imam an Nawawi Rahimahullah ada amalan yang bukan termasuk amalan
riya’, Contohnya yaitu:
1.
Rajin beribadah ketika bersama
orang shalih. Hal ini terkadang menimpa ketika seseorang berkumpul dengan
orang-orang shaleh sehingga lebih semangat dalam beribadah. Hal ini tidak
termasuk riya. Ibnu Qudamah mengatakan, terkadang seseorang menginap di rumah
orang yang suka bertahajud, lalu ia pun ikut melaksanakan tahajud lebih lama.
Padahal biasanya ia hanya melakukan shalat malam sebentar saja. Pada saat itu, ia
menyesuaikan dirinya dengan mereka. Ia pun ikut berpuasa ketika mereka
berpuasa. Jika bukan karena bersama orang yang ahli ibadah tadi, tentu ia tidak
rajin beribadah seperti ini.
2.
Menyembunyikan dosa. Kewajiban
bagi setiap muslim apabila berbuat dosa adalah menyembunyikan dan tidak
menampakkan dosa tersebut. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Setiap umatku akan
diampuni kecuali orang yang menampakkan perbuatan dosanya. Di antara bentuk
menampakkan dosa adalah seseorang di malam hari melakukan maksiat, ia menceritakan kepada orang lain, padahal Allah sudah menutup aibnya.
Adapun
akibat buruk dari perbuatan riya’ adalah terhapusnya pahala amal baik,
sebagaimana dijelaskan dalam Q.S Al Baqarah : 264
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟
لَا تُبْطِلُوا۟ صَدَقَٰتِكُم بِٱلْمَنِّ وَٱلْأَذَىٰ كَٱلَّذِى يُنفِقُ مَالَهُۥ رِئَآءَ
ٱلنَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۖ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ
صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُۥ وَابِلٌ فَتَرَكَهُۥ صَلْدًا ۖ لَّا يَقْدِرُونَ
عَلَىٰ شَىْءٍ مِّمَّا كَسَبُوا۟ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْكَٰفِرِينَ
“Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu
dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang
menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada
Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di
atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia
bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka
usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”( Al Baqarah: 264)
Orang
yang berbuat riya’ akan mendapat dosa besar. Mengapa demikaian? Karena riya’ termasuk perbuatan syirik, sedang
syirik adalah kedholiman yang yang paling besar
Orang
yang berbuat riya’ tidak selamat dari bahaya kekafiran karena riya’ sangat
dekat hubungannya dengan sikap kafir
Marilah
kita berdoa agar terhindar dari perbuata riya’ yaitu dengan melatih diri untuk
beramal secara ikhlas, sekecil apa pun yang dilakukan , juga mengendalikan diri
agar tidak merasa bangga apabila ada orang lain memuji amal baik yang dilakukan.
Selain itu juga menahan diri agar tidak emosi apabila ada orang lain yang
meremehkan kebaikan yang dilakukan. Lalu, tidak suka memuji kebaikan orang lain
secara berlebih-lebihan karena hal itu dapat mendorong pelakunya menjadi riya’
atas kebaikannya. Dan yang terakhir, melatih
diri untuk bersedekah secara sembunyi-sembunyi untuk menghindari
sanjungan orang lain
Semoga
Allah memberi ma’unah kepada kita, keikhlasan dalam beramal, berkata, bergerak
dan berdiam. Dan dijauhkan dari sifat riya’
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ
بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ
"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung
kepadaMu dari perbuatan menyekutukanMu di saat aku mengetahui dan aku mohon
ampunan dari sesuatu yang aku tidak mengetahui."
Aamiin..
Sumber:
1. Fadli
Bahri Lc, 2002, Ensiklopedi Muslim Minhajul Muslim, Jakarta Timur, Penerbit
darul fala
2. Abu
Zufar Imtihan asy Syafi’i, 2010, Dosa-Dosa Besar, Penerbit Pustaka Aofah, Solo
3. https://muslim.or.id/5470-riya-penghapus-amal.html
Belajar Menyembunyikan Amal
Belajar Menyembunyikan Amal
Tatik Umamah, S.Pd.I
مَ نْ سَمَّعَْ سَمَّعَْ اللَّّْه بِهِ، وَمَ نْ يهرَائِي يهرَائِي اللَّّْه بِهِْ
“Siapa yang memperdengarkan amalanya (kepada orang lain), Allah akan memperdengarkan (bahwa amal tersebut bukan untuk Allah). Dan siapa saja yang ingin mempertontonkan amalnya, maka Allah akan mempertontonkan aibnya (bahwa amalan tersebut bukan untuk Allah).” (HR Bukhari)
Di jaman penuh dengan kemajuan teknologi seperti saat ini, sering kali kita tergoda untuk membagikan setiap aktifitas kebaikan di media sosial. Meski niat yang dimiliki berbeda-beda, ada yang memang ingin memotivasi orang lain untuk mengikuti, untuk berbagi kebahagiaan. Apapun itu, kita harus senantiasa menjaga hati dari berbagai niat yang tidak ikhlas, terutama apabila membagikan sesuatu yang berkaitan dengan masalah ibadah diri. Sebab, bisa jadi bisikan setan datang berupa syirik kecil atau riya', yang mana sangat dikhawatirkan oleh Rasulullah SAW jika menimpa umatnya.
Dikisahkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairoh RA, bahwa Rasulullahu SAW bersabda, “Sesungguhnya orang yang pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati di jalan Allah (dalam perang fi sabilillah). Orang itu didatangkan lalu Allah mengingatkannya tentang nikmat –nikmat yang telah Allah diberikan d ia pun mengakuinya. Allah bertanya kepadanya, 'Apa yang kamu lakukan dengan nikmat-nikmat itu?' ia menjawab, 'Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.' Allah berfirman: 'Engkau dusta, Tapi engkau malakukan itu orang bahwa adalah seorang pemberani. Memang dan itu sudah dikatakan dikatakan orang. Kemudian Allah merintahkan kepada Malaikat agar menyeret orang itu pada wajahnya lalu dilemparkan ke dalam neraka.
Kemudian didatangkan pula seorang laki-laki yang telah diberi Allah kelapangan dan harta yang banyak. Allah mengingatkannya tentang nikmat-nikmat yang telah diberikannya dan iapun mengingatnya. Allah bertanya kepadanya, 'Apa yang kamu lakukan dengan nikmat-nikmat itu?' ia menjawab: Saya tidak meninggalkan satu jalanpun yang engkau sukai menginfakkan harta di sana hanya karenaMu. Allah menjawab, engkau telah berdusta . tetapi engkau melakukan itu hanya demi mengharap pujian orang , supaya dikatakan bahwa engkau adalah seorang dermawan, dan itu sudah dikatakan orang. Kemudian Allah merintahkan kepada Malaikat agar menyeret orang itu pada wajahnya lalu dilemparkan ke dalam neraka..
Lalu didatangkan pula seorang laki-laki yang mempelajari ilmu, mengajarkannya dan membaca Al Qur’an.ْ Allahْ mengingatkannyaْ tentangْ nikmat-nikmat yang telah diberikannya dan iapun
mengingatnya. Allah bertanya kepadanya, 'Apa yang kamu lakukan dengan segala nikmat itu?' ia menjawab, saya belajar ilmu dan mengajarkannya, serta membaca Alْ qur’anْ karenaMu.ْ Allahْ
menjawab, engkau dusta, tetapi engkau belajar dengn maksud supaya dikatakan olaeh orang-orang bahwaْ engkauْ adalahْ orangْ alim,ْ danْ engkauْْ membacaْ Alْ qur’anْ denganْ maksudْ agarْ dikatanْ
sebagaiْ qori’.ْ Kemudianْ Allahْ merintahkanْ kepada Malaikat agar menyeret orang itu pada wajahnya
lalu dilemparkan ke dalam neraka.”
Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolani menjelaskan tentang riya’ْ ialahْ menampakkanْ ibadahْ denganْ
tujuan dilihat manusia, lalu mereka memuji pelaku amalan itu. Sementara Imam Al-Ghazali, menjelaskanْ bahwaْْ riya’ْ adalahْ mencariْ kedudukanْ padaْ hatiْ manusiaْ denganْ memperlihatkanْ
kepada mereka hal-hal kebaikan.
Al Hasan Al Bashri mengatakan,ْْ orangْ yangْ berbuatْ riya’ْ ituْ padaْ hakekatnyaْ inginْ mengalahkanْ
taqdir Allah SWT padanya. Ia adalah orang jahat. Ia ingin orang menyebutnya orang yang sholeh. Bagaimana mungkin orang-orang akan mengatakan demikian, sementara ia menempati kedudukan yang buruk di sisi Allah SWT.
Umar bin Khotthob RA pernah melihat seorang laki-laki menekuk lehernya, beliau berkata, ”Wahai orangْ yangْ menekukْ lehernya,ْ tegakkanْ lehermu.ْ Sesungguhnyaْ khusyu’ْ ituْ bukanْ diْ leherْ tapiْ adaْ
diْ dalamْ hati”.
Abu Umamah Al Bahily RA pernah berjalan melewati seorang laki-laki yang sedang bersujud di masjid sambil menangis dan berdoa. Abu Umamah Al Bahily RA berkata kepadanya, “Wahai kamu alangkahْ baiknyaْ kalauْ kamuْ melakukannyaْ diْ dalamْ rumahmu”.
Ali bin abi Tholib RA berkat, ”ْ Orangْ yangْ berbuatْ riya’ْ ituْ adaْ tigaْ tandanya: jika ia sendirian ia
malas beramal, jika ia di keramaian ia rajin dan jika di puji ia meningkatkan amalnya sedangkan jika dicelaْ iaْ menguranginya”.
Jadiْْ riya’ْ adalahْ melakukanْ amalْ kebaikanْ bukanْ karenaْ niatْ ibadahْ kepadaْ Allah,ْ melainkanْ demiْ
manusia dengan cara memperlihatkan amal kebaikannya kepada orang lain supaya mendapat pujian atau penghargaan, dengan harapan agar orang lain memberikan penghormatan padanya.
Adaْ duaْ macamْ riya’ْ yaituْ riya’ْ kholish danْْ riya’ْ syirikْ .ْ Yangْ pertamaْ adalahْْ riya’ْ kholishْ yaituْ
melakukan ibadah semata-mata hanya untuk mendapatkan pujian dari manusia. Dan yang kedua
adalahْ riya’ْ syirikْ yaituْ melakukanْ perbuatanْ karenaْ niatْ menjalankanْ perintahْ Allah,ْ danْ jugaْ
karena untuk mendapatkan pujian dari manusia, dan keduanya bercampur.
Riya’ْ bisaْ munculْ didalamْ diriْ seseorangْ padaْ saatْ setelahْ atauْ sebelumْ suatuْ ibadahْ selesaiْ
dilakukan.
Menurut Al Imam an Nawawi Rahimahullah adaْ amalanْ yangْ bukanْ termasukْ amalanْ riya’,ْ
Contohnya yaitu:
1. Rajin beribadah ketika bersama orang shalih. Hal ini terkadang menimpa ketika seseorang berkumpul dengan orang-orang shaleh sehingga lebih semangat dalam beribadah. Hal ini tidak termasuk riya. Ibnu Qudamah mengatakan, terkadang seseorang menginap di rumah orang yang suka bertahajud, lalu ia pun ikut melaksanakan tahajud lebih lama. Padahal biasanya ia hanya melakukan shalat malam sebentar saja. Pada saat itu, ia menyesuaikan dirinya dengan mereka. Ia pun ikut berpuasa ketika mereka berpuasa. Jika bukan karena bersama orang yang ahli ibadah tadi, tentu ia tidak rajin beribadah seperti ini.
2. Menyembunyikan dosa. Kewajiban bagi setiap muslim apabila berbuat dosa adalah menyembunyikan dan tidak menampakkan dosa tersebut. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Setiapْ umatkuْ akanْ diampuniْ kecualiْ orangْ yangْ menampakkanْ perbuatanْ dosanya.ْ Diْ antaraْ
bentuk menampakkan dosa adalah seseorang di malam hari melakukan maksiat, ia menceritakan kepada orang lain, padahal Allah sudah menutup aibnya.
Adapunْ akibatْ burukْ dariْ perbuatanْ riya’ْ adalahْ terhapusnyaْ pahalaْ amalْ baik,ْ sebagaimanaْ
dijelaskan dalam Q.S Al Baqarah : 264
يََٰٓأيَُّهَا ٱلَّذِينَْ ءَامَنهو اْ لَْ ته بطِلهو اْ صَدَ قَتِ ه كم بِْٱ لمَ نْ وَْٱ لْذََ ىْ كَْٱلَّذِى يهنفِ ه قْ مَالَهْۥه رِئَآَٰءَْ ٱلنَّاسِْ وَلَْ
يه ؤمِ ه نْ بِْٱللَِّّْ وَْٱ ليَ ومِْ ٱ لءَاخِرِْْۖ فَمَثَلههْۥه كَمَثَلِْ صَ فوَا نْ عَلَ يهِْ تهرَا بْ فَأصََابَهْۥه وَابِ لْ فَتَرَْكَهْۥه صَ لدًاْۖ لَّْ
يَ قدِ ه رونَْ عَلَ ىْ شَ ى ءْ ممَّا كَسَبهو اْْۗ وَْٱللَّّْه لَْ يَ هدِى ٱ لقَ ومَْ ٱ ل كَفِرِينَْ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”( Al Baqarah: 264)
Orang yang berbuatْ riya’ akan mendapat dosa besar. Mengapa demikaian? Karenaْْ riya’ْ termasukْ
perbuatan syirik, sedang syirik adalah kedholiman yang yang paling besar
Orangْ yangْ berbuatْ riya’ْ tidakْ selamatْ dariْ bahayaْ kekafiranْ karenaْ riya’ sangat dekat hubungannya
dengan sikap kafir
Marilah kitaْ berdoaْ agarْ terhindarْ dariْ perbuataْ riya’ْ yaituْ denganْ melatih diri untuk beramal secara
ikhlas, sekecil apa pun yang dilakukan , juga mengendalikan diri agar tidak merasa bangga apabila ada orang lain memuji amal baik yang dilakukan. Selain itu juga menahan diri agar tidak emosi apabila ada orang lain yang meremehkan kebaikan yang dilakukan. Lalu, tidak suka memuji kebaikan orang lain secara berlebih-lebihan karena hal itu dapat mendorong pelakunya menjadi riya’ atas kebaikannya. Dan yang terakhir, melatih diri untuk bersedekah secara sembunyi-sembunyi untuk menghindari sanjungan orang lain
Semogaْ Allahْ memberiْ ma’unahْ kepadaْ kita,ْ keikhlasanْ dalamْ beramal,ْ berkata,ْ bergerakْ danْ
berdiam.ْ Danْ dijauhkanْ dariْ sifatْ riya’ْ
اللَّ ه همَّْ إِن ي أَ ه عوذْه بِكَْ أَ نْ أه شرِكَْ بِكَْ وَأَنَا أَ علَ ه م، وَأَ ستَ غفِ ه ركَْ لِمَا لَْ أَ علَ ه مْ
"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari perbuatan menyekutukanMu di saat aku mengetahui dan aku mohon ampunan dari sesuatu yang aku tidak mengetahui."
Aamiin..
Sumber:
1. Fadli Bahri Lc, 2002, Ensiklopedi Muslim Minhajul Muslim, Jakarta Timur, Penerbit darul fala
2. Abuْ Zufarْ Imtihanْ asyْ Syafi’i,ْ 2010,ْ Dosa-Dosa Besar, Penerbit Pustaka Aofah, Solo
3. https://muslim.or.id/5470-riya-penghapus-amal.html
Kondisi Kuburan ust Umar Mita
1. Sempit
“ Jika seorang selamat dari penyempitan kubur niscaya selamatlah bayi ini ( HR Athbroni)
2. Gelap yang hanya bias diterang dengan amal sholeh.
3. Memiliki lidah yang dapat berbicara
Sesungguhnya kubur itu benar-benar menangis dan dalam tangisannya berkata:”aku adalah rumah yang sepi aku adalah rumah sunyi aku adalah rumah cacing”
Ketika manusia dimasukkan kuburan, kuburan berbicara :” hai anak adam, apa yang memperdayakan kamu sampai kamu tidak ingat akan aku
Bumi menyempit kepada orang yang ahli maksiyat. Ahli maksiyat yang meninggal stiap dimasukkan kuburan tidak muat jasadnya.
Jika yang dimasukkan orang sholeh, malaikat berkata: Tidakkah kamu tahu, bukankah orang dimasukkan kepadamu adalah ahli amal makruf nahi mungkar .
Shofyan Astauri:” Barang siapa yang mengingat kubur, kuburan akan dijadikan taman surga, yang melupakan mnjadi lobang neraka.
Hasan Al Bashri jika ada masalah hati dating ke kuburan, ada wanita berkata: kalau ada yang tahu ttg orang yang akan dikubur , kuburan akan menolak, jenazah bergerak-gerak dan Hasan al bashri menangis”.
Abdurrohman An Nasi:” Didatangi wanita untuk menggalikan kuburan kuburan, stelah dimasukkan ke kuburan sudah dijemput olah pemandangan yang indah yang bercahaya”
Kadang-kadang allah menampakkan apa yang terjadi dalam kuburan untuk menambah keimanan kita. Berapa orang hidup,
.ust umar Mita