“Aku {kata Allah} menurut persangkaan HambaKU”
Pada suatu saat pada tahun kurang lebih 70an , terjadilah ngobrol
ringan antar yang Kung 9Eyang kakung) sama yang Ti (eyang putri), saat santai
menunggu waktu sholat di ruangan depan :
Yang Ti bilang bahwa pingin sekali buat rumah gedong untuk
mengganti rumah gedek (anyaman terbuat dari anyaman bambu) yang sudah rapuh
karena usia .
“Arep gawe omah gedong gedong…?, hemm… ngimpi”.
“Ora mung omah gedong Pak , aku ki yo pengin munggah Kaji ugo lho
Pak”
Itu dua penggal kalimat,
cerita mbah putri malam ini (
diceritakn kembali di windan, Sabtu 18 juni 2020) ketika berdialog
dengan mbah kakung.
Menarik untuk pelajaran bermakna , bagi anak cucu, bahkan bagi
siapa saja yang mendengarkannya.
Sebuah keluarga besar, seorang suami istri dengan enam anak, masih
kecil-kecil ,dalam hidup kekurangan (jangankan tabungan) hari ini dapat hari
ini pun habis dikonsumsi.
Mulai saat itulah, dengan izin Allah seorang yang Ti bekerja keras
berdagang sekuatnya (dagang yang jujur adalah pintu rizki yang mulia) ikhtiar
diikuti kesungguhan perjuangan dimulai (life star here).
Bayangkan pernah suatu saat, Yang Ti ini mengambil dagangan pada
seorang pembuat makanan gorengan , dengan berjarak kurang lebi 5 kilometer
(jarak antara desa keprekan dan desa ponggol muntilan magelang) lewat jalan
raya yang sepi, ditengah malam. Karena tidak memperhatikan jam.
Dengan cahaya bulan (bayangkan kondisi tahun 70an) belum ada
listrik, belum ada jalan halus. sampai
di tempat pedagang ternyata baru sekitar jam 24.00 wib.
“ tok…tok…tok… yu..yu… cepet bukak ke lawange”
Entah kenapa malam itu tidak seperti biasanya, merasa merinding dan
ada rasa was was dan takut.
“ yaa…yaa…, sik..sik takgolek lampu”
Ibu menunggu agak lama tambah deg degan.
“cepet…to…”
“ ya.. ya…” sambil membukan pintu.
“ Aku ki lagi arep mapan turu,,kok wis teko kene”
“ haa… mosok, lha iki jam piro” sahut Yang Ti agak terkejut.
“Iki ki lagi jam rolas sore mau ono layatan (orang meninggal), aku
lagi rampung persiapan nggo goreng mengko” “wis kono turu a sik sak ler ran”
Deg..betapa terkejutnya mendngar layatan, “Masya Allah”
“Alhamdulilah, sudah masuk rumah”.
Yang Tindak bisa tidur meski sekejap. Kok bisa , bagaimana mungkin
kulak an(beli dagangan) seberani itu.
Itulah ikhtiar yang sungguh sungguh ,sehingga allah menguji dengan
tidak tau waktu , dan dengan perjuangan luar biasa.
Sejak saat itulah , hasil dagang untuk makan dan hasil tani untuk
ditabung,
Setiap panen membeli beberapa batang kayu balok meski hanya 2 atau
tiga biji, beli batu bata, beli batu kapur (dulu belum ada semen atau masih
langka) beli gesik(pasir) batu merah yang di haluskan, sedikit demi sedikit.
Setelah beberapa tahun jadilah rumah yang seperti Goa, karena belum
ada daun pintu dan cendela dengan lantai tanah. Sungguh bahagia yang luar
biasa. Pada akhirnya fa qadarullah jadilah, sebagaiman “niat ibunda” Allah pun
mengabulkannya.
Rumah gedong yang besar dan tinggi pada masanya, dari jauh
kelihatan megah, Masyaallah.
Bagaimana dengan haji, ketika putrinya berhaji, waktu itu pereode
terakhi tanpa antri, ibu ingin sekali berangkat haji juga, dengan sisa tabungan
yang dimiliki, maka ditawarkanlah kebun dipinggir kampung, nggak ada akses
masuk, nggak keluar hasil tananmnya, sudah dibiarkan bertahun tahun.
Faqadarrullah ada gagasan ditawarkan tetangga yang berdampingan dengan tanah
tersebut, sebuahrumah sakit bedah, yang kebetulan memerlukan perluasan, “kalau
Allah menghendaji jadi, Jadilah”.
Pas untuk ongkos haji Yang Tiberdua dengan putra pertamanya.
“ Anna nginda dzanni abdi bi”
( berniatlah yang baik yang besar, sampai orang bilang …mana mungkin..!)
Percayalah kalau niatmu baik, dan minta pada Allah, niscaya Allah
punya cara meluluskannya dengan Cara Allah, karena “Allah MAHA KUASA”.
Winadan , 7/18/2020. Jam 10.00 AM pas.
Masyaallah bateraiku abis juga..nih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar