Minggu, 19 Juli 2020

Arep Gawe Omah Gedong


“Aku {kata Allah} menurut persangkaan HambaKU”

“Arep gawe omah gedong, hemm… ngimpi”.
“Ora mung omah gedong, aku yo pengin munggah Kaji ugo lho Pak”
Itu dua penggal cerita mbah putri malam ini (Sabtu 18 juni 2020) ketika berdialog dengan mbah kakung.
Menarik untuk pelajaran bermakna , bagi anak cucu, bahkan bagi siapa saja yang mendengarkannya.
Sebuah keluarga besar, seorang suami istri dengan enam anak, masih kecil-kecil ,dalam hidup kekurangan (jangankan tabungan) hari ini dapat hari ini pun habis dikonsumsi.
Mulai saat itulah, dengan izin Allah seorang ibu bekerja keras berdagang sekuatnya (dagang yang jujur adalah pintu rizki yang mulia) ikhtiar diikuti kesungguhan perjuangan dimulai (life star here).
Bayangkan pernah suatu saat, Ibu ini mengambil dagangan pada seorang pembuat makanan gorengan , dengan berjarak kurang lebi 5 kilometer (jarak antara desa keprekan dan desa ponggol muntilan magelang) lewat jalan raya yang sepi
Dengan cahaya bulan (bayangkan kondisi tahun 70an) belum ada listrik, belum ada jalan halus.  sampai di tempat pedagang ternyata baru sekitar jam 24.00 wib.
“ tok…tok…tok… yu..yu… cepet bukak ke lawange”
Entah kenapa malam itu tidak seperti biasanya, merasa merinding dan ada rasa was was dan takut.
“ yaa…yaa…, sik..sik takgolek lampu”
Ibu menunggu agak lama tambah deg degan.
“cepet…to…”
“ ya.. ya…” sambil membukan pintu.
“ Aku ki lagi arep mapan turu,,kok wis teko kene”
“ haa… mosok, lha iki jam piro” sahut ibu agak terkejut.
“Iki ki lagi jam rolas sore mau ono layatan (orang meninggal), aku lagi rampung persiapan nggo goreng mengko” “wis kono turu a sik sak ler ran”
Deg..betapa terkejutnya mendngar layatan, “Masya Allah” “Alhamdulilah, sudah masuk rumah”.
Ibu ndak bisa tidur meski sekejap. Kok bisa , bagaimana mungkin kulak an(beli dagangan) seberani itu.
Itulah ikhtiar yang sungguh sungguh ,sehingga allah menguji dengan tidak tau waktu , dan dengan perjuangan luar biasa.
Sejak saat itulah , hasil dagang untuk makan dan hasil tani untuk ditabung,
Setiap panen membeli beberapa batang kayu balok meski hanya 2 atau tiga biji, beli batu bata, beli batu kapur (dulu belum ada semen atau masih langka) beli gesik(pasir) batu merah yang di haluskan, sedikit demi sedikit.
Setelah beberapa tahun jadilah rumah yang seperti Goa, karena belum ada daun pintu dan cendela dengan lantai tanah. Sungguh bahagia yang luar biasa. Pada akhirnya fa qadarullah jadilah, sebagaiman “niat ibunda” Allah pun mengabulkannya.
Rumah gedong yang besar dan tinggi pada masanya, dari jauh kelihatan megah, Masyaallah.
Bagaimana dengan haji, ketika putrinya berhaji, waktu itu pereode terakhi tanpa antri, ibu ingin sekali berangkat haji juga, dengan sisa tabungan yang dimiliki, maka ditawarkanlah kebun dipinggir kampung, nggak ada akses masuk, nggak keluar hasil tananmnya, sudah dibiarkan bertahun tahun. Faqadarrullah ada gagasan ditawarkan tetangga yang berdampingan dengan tanah tersebut, sebuahrumah sakit bedah, yang kebetulan memerlukan perluasan, “kalau Allah menghendaji jadi, Jadilah”.
Pas untuk ongkos haji ibu berdua dengan putra pertamanya.
“ Anna nginda dzanni abdi bi”  ( berniatlah yang baik yang besar, sampai orang bilang …mana mungkin..!)
Percayalah kalau niatmu baik, dan minta pada Allah, niscaya Allah punya cara meluluskannya dengan Cara Allah, karena “Allah MAHA KUASA”.
Winadan , 7/18/2020. Jam 10.00 AM pas.
Masyaallah bateraiku abis juga..nih.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar