Sabtu, 13 Februari 2021

Belajar Kepada Orang Zalim


 

 

 

وعن أَبي هُرَيْرَةَ ، عن النَّبِيِّ  قَالَ:

مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْه   ( رواه البخاري).

 

Dari Abu Hurairah:  Nabi bersabda: “Siapa yang pernah berbuat zalim terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun hendaklah dia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham. Jika dia tidak lakukan, maka (nanti pada hari kiamat) bila dia memiliki amal shalih akan diambil darinya sebanyak kezholimannya. Apabila dia tidak memiliki kebaikan lagi maka keburukan saudaranya yang dizaliminya itu akan diambil lalu ditimpakan kepadanya”. (HR. Al-Bukhari no. 2449)

 

Pengertian Zalim

Secara bahasa, zalim artinya meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Secara istilah, zalim adalah meletakkan sesuatu bukan pada posisinya yang tepat baginya, baik karena kurang maupun karena adanya tambahan, baik karena tidak sesuai dari segi waktunya ataupun dari segi tempatnya (Mufradat Allafzhil Qur’an Al Asfahani 537, dinukil dari Mausu’ah Akhlaq Durarus Saniyyah).

 

Dalam Kitab Syarhu Sunnah, Imam Hasan Al Bashri membagi kezaliman menjadi tiga:

1.    Kezaliman yang tidak diampuni Allah SWT

Kezaliman yang tidak diampuni Allah adalah kezaliman yang dilakukan  sorang yang tidak akan ampun Allah ia  sebelum bertobat. Contohnya adalah perbuatan syirik.

 

Rasulullah Muhammad SAW bersabda, ”Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang dosa yang paling besar?, yaitu menyekutakan Allah, durhaka kepada orang tua dan persaksian palsu” (Hadis Riwayat  Muttafaqun ‘Alaihi)

 

2.    Kezaliman yang tidak dibiarkan begitu saja oleh Allah SWT

Kezaliman ini dilakukan seseorang muslim kepada saudaranya.baik dalam harta maupun jiwa dan kehormatan.

 

Contohnya, seorang tidak menuaikan hak orang lain yang wajib ditunaikan, mengancam jiwa, memfitnah, mencaci maki, mencermarkan nama baik, pengambilan tanah secara paksa, tidak membayar hutang dalam kondisi mampu.

 

Rasulullah Muhammad SAW memerintahkan umatnya agar menyelesaikan urusan yang berupa harta, darah dan kehormatan, Berkaitan dengan pengambilan tanah secara paksa, Nabi Muhamad SAW pernah bersabda, “Barang siapa menganiaya seseorang dalm perkara sejengkal tanah, maka pada hari kiamat kelak ia akn dikalungi tujuh bumi.” (HR Ahmad 1/ 188-189)

 

3.    Kezaliman yang diampuni Allah SWT

Adalah kezaliman yang dilakukan seorang hamba terhadap dirinya dengan melakukan perbuatan dosa. Misalnya, seseorang meninggalkan puasa wajib, minum-minuman keras, dan lainnya.

Jika ia  bertobat dan beramal shaleh niscaya akan diampuni oleh Allah..

 

Allah SWT berfirman, “Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.”  (QS. Ali Imran:135)

 

Akibat Perbuatan Zalim

Perbuatan zalim menyebabkan pelakunya mendapat keburukan di dunia dan di akhirat. Diantaranya:

 

1.   Akan di-qishash pada hari kiamat

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ

Siapa yang pernah berbuat aniaya (zalim) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun hendaklah dia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham. Jika dia tidak lakukan, maka (nanti pada hari kiamat) bila dia memiliki amal shalih akan diambil darinya sebanyak kezholimannya. Apabila dia tidak memiliki kebaikan lagi maka keburukan saudaranya yang dizaliminya itu akan diambil lalu ditimpakan kepadanya” (HR. Al-Bukhari no. 2449).

 

 

 

2.      Mendapatkan laknat dari Allah

Allah Ta’ala berfirman:

يَوْمَ لا يَنفَعُ الظَّالِمِينَ مَعْذِرَتُهُمْ وَلَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ 

“(yaitu) hari yang tidak berguna bagi orang-orang zalim permintaan maafnya dan bagi merekalah laknat dan bagi merekalah tempat tinggal yang buruk” (QS. Ghafir: 52).

 

3.      Mendapatkan kegelapan di hari kiamat

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الظُّلْمُ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ القِيَامَةِ

Kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat” (HR. Al Bukhari no. 2447, Muslim no. 2578).

 

4.      Terancam oleh doa orang yang dizalimi

Doa orang yang terzalimi dikabulkan oleh Allah, termasuk jika orang yang terzalimi mendoakan keburukan bagi yang menzaliminya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

Dan berhati-hatilah terhadap doa orang yang terzalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.” (HR. Bukhari no.1496, Muslim no.19).

 

5.      Jauh dari hidayah Allah

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ 

Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim” (QS. Al Maidah: 51).

 

6.      Dijauhkan dari Al Falah

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang zalim tidak akan mendapatkan al falah (keuntungan dunia akherat)” (QS. Al An’am: 21).

 

 

 

 

7.      Kezaliman adalah sebab bencana dan petaka

Allah Ta’ala berfirman:

فَكَأَيِّن مِّن قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَاهَا وَهِيَ ظَالِمَةٌ فَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا وَبِئْرٍ مُّعَطَّلَةٍ وَقَصْرٍ مَّشِيدٍ

Berapalah banyaknya kota yang Kami telah membinasakannya, yang penduduknya dalam keadaan zalim, maka (tembok-tembok) kota itu roboh menutupi atap-atapnya dan (berapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi” (QS. Al Hajj: 45).

 

Membersihkan Jiwa dari Zalim

Adapun cara membersihkan jiwa dari perbuatan zalim adalah dengan bertaqwa kepada Allah SWT, tawadhu’ (rendah hati), menjauhi sifat hasad, menyemangati jiwa untuk meraih janji Allah SWT untuk orang-orang yang berlaku adil dan berdoa dengan tulus kepada Allah SWT.

 

Hadis-hadis tentang Kezaliman

Rasulullah Muhammad SAW bersabda, "Janganlah salah seorang diantara kalian berdiri ditempat orang yang terzalimi sedang dipukuli. Sesungguhnya laknat itu akan turun kepada siapa saja yang ada di tempat kejadian itu, kecuali ia membelanya“ (Hadis Riwayat Thabrani11675).

 

Rasulullah Muhammad SAW bersabda, "Seorang laki-laki didatang Malaikat didalm kuburnya, kemudian malaikat itu berkata,’Kami akan memukulmu dengan seratus  pukulan. Orang itu berkali-kali meminta keringanan, sehingga menjadi sekali pukulan.’ Lalu malaikat memukulnya. Maka menyalah api di dalam kuburnya. Orang itu bertanya, ‘Mengapa kamu memukul dengan pukulan tadi?’. Para Malaikat menjawab, ‘Karena kau  sholat tanpa bersuci dan melewati orang terzalimi kau tidak menolongnya. Itu adalah keadaan orang yang tidak menolong orang yang terzalimi, padahal ia mampu menolongnya’”  (Hadis Riwayat Thabroni).

 

Dari Abu Hurairoh RA, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barang siapa memukul dengan cambuk secara zalim, maka pada hari kiamat kelak akan diambil qishosnya” (Al Bukhari dalam Al Adab Al Mufrod 185).

 

Abu Umamah berkata, Rasulullah Muhammad SAW bersabda, ”Pada hari kiamat nanti orang yang zalim akan bertemu dengan orang yang dizaliminya di atas jembatan yang dipancang neraka Jahannam. Ia akan memberitahu kepada si zalim itu apa-apa yang sudah dianiayakannya. Orang yang teraniaya tidak akan meninggalkannnya sampai mengambil semua kebaikan si zalim. Setelah kebaikannya habis, maka dipikulkanlah kepada si zalim kejahatan-kejahatan yang teraniaya, hingga akhirnya ia masuk kedalam neraka yang paling bawah” (Diriwayatkan oleh At Thabroni dalam Al Ausath 5976.

 

Abdullah bin Unais berkata: Rasulullah Muhammad SAW bersabda, “Pada hari kiamat nanti manusia akan dibangkitkan dalam keadaan tanpa alas kaki tanpa busana dan tanpa khitan, mereka akan mendengar suara yang terdengar dari jarak dekat maupun jauh. Aku adalah Maha Raja dan Maha Kuasa. Tidak boleh seorangpun ahli surga untuk memasukinya dan ahli neraka untuk memasukinya selama masih ada padanya krzaliman hingga aku selesai mengadili, sekalipun itu hanya satu makian, apalagi lebih dari itu. RobMu tidaklah menganiaya seorangpun. Kami bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana itu sedangkan kami datang tanpa alas kaki tanpa busana?’, Beliau menjawab ‘dengan kebaikan dan kejahatan sebagai gantinya, Rabmu tidaklah menganiaya seorangpun’ (Al Bukhari dalam kitab Al ‘ilm bab Al Khuruj fi Tholabil ‘ilm ).

 

Kisah-kisah Kezaliman

1.   Dikisahkan seorang arif, “Suatu malam saya bermimpi melihat seorang laki-laki yang sudah meninggal dunia beberapa lama.  Orang itu semasa hidupnya melayani orang-orang yang zalim dan pemungut bea cukai. Keadaannya sangat buruk sekali, lalu saya bertanya, ‘Bagaimana kabarmu?’. Ia menjawab, ‘kabar buruk’. Saya bertanya lagi, ‘Kamu mau kemana?’. Ia menjawab,’Ke adzab Allah‘. Saya bertanya lagi, ‘Bagaimana keadaan orang-orang yang zalim di sana?’. Ia menjawab, ”Keadaan mereka buruk sekali. Tidakkah anda mendengar, firman Allah SWT:

 

 وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنْقَلَبٍ يَنْقَلِبُونَ

“... Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali” (Asy Syu’ara’: 227)

 

2.   Seorang arif yang lain menyampaikan, “Saya pernah melihat seorang laki-laki yang terpotong tangannya sampai pundaknya. Orang itu berkata, ‘Barang siapa sudah melihatku, maka jangan pernah berbuat zalim lagi kepada seseorang’.

 

Saya mendekatinya, ‘Wahai saudara, apa kisahmu?’. Orang itu menjawab. Kisahku sangat aneh. Dahulu aku adalah seorang pembantu orang yang zalim. Suatu hari aku melihat seorang nelayan yang telah berhasil menagkap seekor ikan yang sangat besar. Aku tertarik kepada ikannya, lalu menemuinya dan kukatakan, ‘Berikan ikan itu kepadaku’. Orang itu menjawab, ‘Aku tidak akan memberikannya kepadamu. Aku akan menjualnya untuk memberi makan keluargaku.

 

Lalu ikan itu aku pukul dan aku ambil ikan itu secara paksa. Akupun pulang dengan membawa ikan itu. Tiba-tiba ikan itu menggigit ibu jari tanganku dengan kuat sekali.. Setibanya di rumah, ikan itu aku lemparkan dari tanganku begitu saja, dan aku pegang ibu jari tanganku. Rasanya sakit sekali, sehingga aku tidak bisa tidur dibuatnya.

 

Lukaku membengkak, dan keeosokan harinya aku menemui seorang tabib. Aku ceritakan tentang sakitku. Ia berkata, “Ibu jarimu harus dipotong, karna sudah membusuk. Kalau tidak ia akan menjalar ke tanganmu. Maka ibu jaripun dipotong. Akan tetapi, rasa akitnya tidak hilang, sehingga malamnya aku tidak bias tidur tenang.

 

Ada yang menyarankan agar dipotong saja telapak tanganku, karena sakitnya yang tak tertahankan lagi, akupun mengikuti sarannya, kupotong telapak tanganku. 

 

Rupanya sara sakit tetap tinggal, Bahkan akhirnya menjalar sampai ke lengan. Saya tidak tahan lagi dan mulai berteriak. Ketika ada yang menyarankan agar kupotong sampai siku-siku, akupun melakukannya. Namun tetap saja rasa sakitnya menjalar sampai ke lengan atas dan lebih sakit dari pada sebelumnya. Seseorang menyarankan agar kupotong lenganku sampai pangkal lengan. akupun mengikuti sarannya.

 

Lalu ada yang menanyakan kepadaku penyebab sakitku itu. Akupun menceritakan, bahwa aku telah merampas ikan milik nelayan itu. Orang itu berkata, ‘Wah, andaikan sejak pertama sakit, Anda pergi menemui nelayan itu, dan meminta maaf dan kerelaannya lalu dia menerimanya, tentu Anda tidak perlu memotong tangan Anda. Sekarang cobalah untuk mencarinya, dan mintalah maaf kepadanya sebelum penyakit ini menjalar keseluruh tubuh Anda’.

 

Maka akupun pergi mencari nelayan itu ke berbagai penjuru kota. Sampai akhirnya kutemukan ia dan kucium kakinya sambil menangis. Aku katakan, ‘Tuan, saya mohon dengan menyebut nama Allah, sudilah tuan memaafkan saya’.

 

Nelayan terkejut, lalu bertanya, ‘Anda ini siapa?’ Akupun menjawab, ‘Saya adalah orang yang beberapa hari yang lau merampas ikan tuan secara paksa.’

 

Lalu aku ceritakan kepadanya, apa yang telah terjadi padaku. Aku perlihatkan tanganku, kepadanya. Dan kala melihatnya, nelayan itu menangis, seraya berkata, ‘Wahai saudaraku aku telah memaafkanmu, setelah melihat bencana yang menimpamu ini’. Kemudian aku bertanya, ‘Tuan, demi Allah, apakah tuan telah mendoakan saya dengan doa yang tidak baik, ketika saya merampas ikan tuan tempo hari?’. 

 

Nelayan itu menjawab, ‘Benar, saya berdoa, Ya Allah orang ini telah memaksakan kehendaknya kepadaku dengan kekuatannya atas kelemahanku. Ia telah merampas rezeki yang telah Engkau anugerahkan kepadaku secara zalim. Karenanya tunjukkanlah kekuasaanMu kepadaku atas dirinya’.

 

Akupun berkata, ‘Tuan Allah telah menujukkan kekuasaanNya terhadap saya kepada tuan, dan saya bertaubat kepada Allah dari segala perbuatan zalim yang telah lalu, dan saya berjanji tidak akan membantu orang yang zalim lagi, selam hidup saya. Insyaallah wa billahittaufiq 

 

3.      Wahib bin Munabih mengisahkan seorang penguasa bengis tengah membangun istana. Seorang wanita tua miskin mendirikan sebuah gubuk di sebelahnya untuk tempat tinggalnya. Suatu saat penguasa bengis berjalan-jalan mengelingi istananya, Ia semelihat gubuk wanita itu dan berkata, ”Milik siapa gubuk ini?’ Ada yang menjawab ‘Milik wanita miskin untuk tempat tinggalnya.’ Kemudia penguasa itu menyuruh orang untuk merobohkan gubuk itu. Ketika wanita miskin itu melihat gubuknya sudah rata dengan tanah, ia bertanya, ‘Siapa yang merobohkan gubukku?’. Seorang menjawab, ‘Sang Raja. Ia melihatnya lalu merobohkannya’. Lalu wanita itu menengadahkan kepalanya ke langit seraya berkata, ‘Duhai rabku, jika saya tidak ada lalu di manakah Engkau?’. Lalu Allah memerintahkan Jibril untuk membalik istana pengusa tadi beserta siapapun yang ada di dalamnya, maka Jibrilpun melaksanakan”.

 

Semoga kita dijauhkan perbuatan zalim, bisa berlaku adil dalam segala sesuatu. Semoga Allah memberi taufiq.



رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

 "Ya Tuhan, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami serta memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orangorang yang merugi." (QS. Al-A'râf 23)

 

 

 

Maraji’

Asy Syafi’I , Abu Zufar Imtihan. 2001. Dosa-Dosa Besar. Solo: Pustaka Arofah

Hartono, Imam Puji. “3 Bentuk Kezaliman Menurut Imam Hasan Al Bashri.” Kompasiana.com, Kamis, 25 Juni 2015, kompasiana.com/imamph1666/551033d1a33311ca39ba7f67/3-bentuk-kezaliman-menurut-imam-hasan-al-bashri. Diakses Jum’at, 12 Februari 2021

Purnama, Yulian. “Janganlah Berbuat Zalim!“ Muslim.or.id, muslim.or.id/53105-janganlah-berbuat-zalim.html. Diakses Jum’at, 12 Februari 2021

Redaksi. “Kezaliman adalah Kegelapan pada Hari Kiamat.” Asysyariah.com, Senin, 20 Juli 2020, asysyariah.com/kezaliman-adalah-kegelapan-pada-hari-kiamat. Diakses Jum’at, 12 Februari 2021

 

 

                                                                                                Tatik Umamah, S.Pd.I

Tidak ada komentar:

Posting Komentar