Kamis, 15 Oktober 2020

Belajar Akhlaq Sebelum Ilmu

 

يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ  وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS. Al-Mujadilah: 11)

 

Dalam Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an disebutkan, bahwa pada ayat ini, Allah memerintahkan agar orang-orang beriman mengembangkan adab yang baik, yaitu saling memberikan tempat dalam pertemuan sebagai tanda saling menghormati dan menumbuhkan persaudaraan.

 

Allah juga meninggikan derajat orang yang beriman, berilmu, dan beramal dengan ilmunya itu.

 

 

Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, berkata: “Orang-orang yang berilmu mempunyai derajat sebanyak tujuh ratus kali di atas derajat orang-orang mukmin. Jarak di antara derajat ini terbentang sejauh perjalanan selama lima ratus tahun.

 

 

Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang Allah kehendaki dengan kebaikan pada dirinya, maka Allah memberinya pengetahuan agama.” (HR. Muslim)

 

 

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, termasuk semut dalam lobangnya, juga ikan paus, benar-benar bersholawat kepada orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” ( HR. Tirmidzi)

 

Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Sesungguhnya, orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain, maka setiap hewan yang melata akan memohonkan ampun baginya, termasuk pula ikan paus di lautan.

 

Jika ada yang bertanya: “Bagaimana mungkin ikan paus memohonkan ampun orang yang mengajarkan ilmu?” Karena manfaat ilmu meliputi segala sesuatu, termasuk ikan paus. Orang yang berilmu tahu yang boleh dilakukan dan tahu yang dilarang. Orang yang berilmu pasti akan memberi nasehat agar santun kepada segala sesuatu, termasuk kepada hewan juga ikan paus. Karena itu Allah mengilhamkan kepada setiap makhluk yaitu permohonan bagi orang yang berilmu, sebagai balasannya.

 

 

Hendaknya orang yang berilmu menghindari perdebatan yang tidak mendatangkan manfaat. Karena, jika ilmu yang dimilikinya digunakan untuk mendebat yang tujuannya mencari kemenangan dan pujian, maka hal tersebut merupakan akhlaq yang tercela.

 

Seorang berilmu yang suka berdebat dapat terjerumus pada sifat ujub (mengagumi diri sendiri) dan  riya’ (memamerkan amal supaya dipuji manusia, tidak diniatkan beramal untuk Allah SWT). Umurnya yang dihabiskan untuk menimba ilmu bisa berlalu dengan sia-sia karena tidak ada kemanfaatan untuk akhiratnya.

 

Rasulullah Shallahu’alaihi wasallam  bersabda: “Orang yang paling keras adzabnya pada hari kiamat adalah orang yang berilmu, namun ilmunya tidak bermanfaat baginya.” ( HR. At Thobroni, Ibnu Adi Al Baihaqi)

 

Seorang murid seyogyanya harus belajar adab sebelum mencari ilmu. Diantara adab murid terhadap guru adalah murid harus membersihkan jiwanya dulu dari akhlaq-akhlaq yang hina dan sifat-sifat yang tercela. Sebab, ilmu adalah ibadah hati. Dia harus melepaskan diri dari berbagai kesibukan yang lain. Ketika pikiran bercabang, maka kemampuan menggali ilmu menjadi terbatas.

 

Para salaf lebih mementingkan ilmu daripada hal-hal yang lain. Begitu juga seorang murid yang sedang belajar ilmu, jangan ada niat tampil beda dengan orang lain. Karena, niat ini bisa mengacaukan pikirannya dan membuyarkan konsentrasinya.

 

Seyogyanya, murid senantiasa mengambil suatu ilmu yang terbaik, sebab umurnya tidak mungkin mendalami semua pengetahuan. Ilmu yang lebih utama adalah ilmu yang memiliki hubungan dengan ilmu akherat. Karena ilmu tersebut akan membantu kita untuk menguatkan iman.

 

Rasulullah  pernah memberikan kesaksian kepada Abu Bakar As Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu  tentang ilmu. Rasullullah Shallahu’alaihi wasallam  bersabda: “Abu Bakar tidak mengalahkan kalian karena banyak puasa dan tidak pula karena sholat, tetapi karena sesuatu yang bersemayam dalam dadanya.

 

Beberapa adab guru dalam menjalankan tugasnya adalah menyayangi murid dan menuntunnya ke jalan yang benar, sebagaimana dia menyayangi anaknya sendiri. Seorang guru tidak mengharapkan balasan dan ucapan terima kasih. Seorang guru berharap, supaya 30 tahun kedepan, murid yang ia ajar menjadi pemimpin yang amanah, yang mau mendoakan sepeninggalnya.

 

Seorang guru mengajarkan ilmu untuk mengharap ridho dari Allah SWT. Seorang guru tidak menampakkan dirinya lebih hebat dari murid, walau sebenarnya murid lebih hebat dalam hal yang lain.

 

Seorang guru mempersiapkan hati murid-muridnya untuk lebih ber-taqarrub kepada Allah dengan cara menanam ilmu dalam hatinya.  Seorang guru memperingatkan murid dari akhlaq yang buruk dengan cara yang lunak dan halus.

Seorang guru hendaknya mengetahui tingkat pemahaman murid dan kemampuan dirinya.

 

Seyogyanya, seorang guru berbuat sesuatu sesuai dengan apa yang dikatakan. Sebagaimana termaktub dalam firman Allah SWT:

كَبُرَ مَقْتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.(QS. As-Shaff: 3)

 

Berkata Abdullah bin Sallam: Maka Rasulullah Shallahu’alaihi wasallam  membacakan ayat tersebut kepada kami. Ini adalah hadits yang disebutkan Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Kemudian Ibnu Katsir berkata: Sesungguhnya, ucapan yang tanpa pembenaran dengan amal, menjadi penyebab celaan dan sesuatu yang tidak disenangi, ia adalah sebesar-besar sesuatu yang dibenci dan membuat kemurkaan.”

 

Maka marilah memohon Akhlak yang baik dan berlindung dari akhlak yang buruk. Salah satu do’a yang dianjutkan yakni:

 

اللَّهُمَّ حَسَّنْتَ خَلْقِي فَحَسِّنْ خُلُقِي

“Ya Allah, sebagaimana Engkau baguskan badanku, perbaikilah akhlakku.” (HR. Ahmad, 1/403, Ibnu Hibban, no. 959)

 

Doa ini bukanlah do’a khusus ketika akan bercermin. Akan tetapi bisa dibaca kapan saja.

 

Syaikh al-Albani Rahimahullah berkata setelah menyebutkan riwayat-riwayat hadits yang mengkhususkan doa tersebut saat bercermin.

 

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الْأَخْلَاقِ وَالْأَعْمَالِ وَالْأَهْوَاءِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari akhlak-akhlak yang mungkar, dari amalan-amalan yang mungkar, dan dari hawa nafsu yang menyimpang.” (HR. at-Tirmidzi, no. 3591, dinilai sahih oleh al- Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi, 3/473)